PILIHAN HEADLINE

Transjakarta, Keadilan adalah Ketidakadilan Itu Sendiri

17 Februari 2017 18:11:29 Diperbarui: 17 Februari 2017 19:15:59 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Transjakarta, Keadilan adalah Ketidakadilan Itu Sendiri
Kemacetan di jalan Sudirman Jakarta saat usai jam kerja. Sumber: photo pribadi

Sebuah pemandangan di kawasan Sudirman menjelang jam pulang kantor. Sebuah bus Transjakarta berwarna biru meluncur lancar dari arah Kota menuju Blok M, mendekati stasiun Dukuh Atas 1. Di depannya, bus Transjakarta lainnya meluncur tanpa ada hambatan yang berarti kecuali jalur busway yang sedang mengalami ‘gangguan’ sementara akibat pembangunan MRT.

Di dalam bus-bus baru dan kinclong itu, penumpang penuh, tetapi tidak berjubel. Berjubel di angkutan umum di bus Transjakarta sudah menjadi cerita lama. Penumpang sekarang masih tetap berdiri. Tetapi tetap nyaman, karena pendingin udaranya berfungsi dengan baik. Tentu saja, bus-busnya masih baru dan dipastikan bus dengan kualitas baik. Sebabnya, bus-bus itu bermesin mobil Eropa, Scania.

Perjalanan yang lancar karena jalur yang steril memastikan para penumpang setidaknya dapat memprediksi waktu tiba. Jika pun waktu tibanya tidak terlalu tepat, tetapi bisa dipastikan jauh lebih cepat dibandingkan ketika masih ditangai pemerintah yang dulu. Yang dulu, berhasil menyulap bus-bus yang seharusnya bagus dan nyaman menjadi apartemen istri muda dan barang-barang mewah lainnya. Bus-busnya ‘dirampok’.

Di sisi kirinya, pemandangan yang sangat berbeda terjadi. Hanya dipisahkan pembatas jalur, di sisi kirinya berbaris kendaraan yang bisa dipastikan keluaran baru. Bentuknya tidak ada yang kotak-kotak, warna-warna buram dan memiliki pendingin udara. Di dalamnya ada satu, dua penumpang atau tiga penumpang. Perjalanan mereka hanya kurang dari 5 kilometer per jam. Bahkan berhenti untuk beberapa saat. Baru saja bergerak maju, sudah harus berhenti lagi. Jarak 100 meter bisa ditempuh dengan waktu 10-15 menit.

Mobil-mobil baru dan sebagian mewah serta taksi-taksi itu seperti parkir saja di jalanan itu. Dipastikan, suasana seperti itu tidaklah nyaman bagi pengemudi dan penumpangnya. Bisa dipastikan juga para penumpang itu adalah orang-orang yang sibuk, sehingga waktu menjadi sangat penting bagi mereka. Mereka pasti menggerutu melihat bus Tranjakarta yang meluncur mulus.

Komentar mereka sering sekali soal jalur yang ‘dirampok’ Transjakarta. “Jalan sudah sempit, masih aja diambil untuk jalur Transjakarta”, begitu salah satu gerutuan pemakai mobil pribadi. Di kesempatan lain sopir taksi juga menganggap pemerintah ‘bodoh’, karena mempersempit jalan raya. “Bukannya diambil, harusnya diperlebar”, ujar sopir taksi itu sambil mengeluhkan kakinya yang pegel karena mengalami macet berjam-jam. Apalagi mobilnya tidak matic.

Pada satu titik, kondisi itu dianggap banyak orang sebagai kondisi tidak adil bagi pemakai jalan raya. Terlebih para pengguna dan pemilik mobil merasa membayar pajak lebih banyak. Tetapi, pengguna Transjakarta diberikan waktu tiba yang lebih cepat, ongkos yang murah, bus-bus yang baru dan nyaman, serta jalur yang lancar. Di sisi pengguna mobil, merangkak kayak siput, tetapi dapat duduk dengan nyaman. Pengguna Transjakarta, meski nyaman, memang harus berdiri lama sesuai waktu perjalanan. Sebagian besarnya.

Pengguna mobil di Sudirman itu pasti mengatakan jika pemerintah DKI Jakarta tidak berlaku adil bagi masyarakatnya.

Seperti Apa itu Adil?

Masalah adil dan ketidakadilan sudah menjadi sesuatu yang klasik sejak jaman manusia itu ada. Apakah adil hukuman untuk Adam dan Eva di keluarkan dari taman Firdaus untuk sebiji buah, misalnya? Keadilan itu akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Nilai-nilai kebiasaan yang berubah tanpa henti akan terus mengubah konsep adil yang ada.

Meskipun dalam pengadilan ketika seorang hakim menjatuhkan hukuman atas seorang terdakwa dengan mengucapkan, “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, tetap saja si terdakwa tidak merasa adil. Jika kasusnya pembunuhan, bisa saja keluarga korban merasa tidak adil. Bahkan seorang terdakwa bisa mengatakan ‘dizolimi’ oleh keadilan.

Plato, seorang ahli filsafat, pun bingung untuk mendefiniskan secara tepat arti dari keadilan. Plato mengatakan bahwa keadilan adalah di luar kemampuan manusia biasa. Dalam konteks masyarakat, dimana secara alami memiliki karakteristik-karakteristik, karena adanya kelas-kelas yang berbeda. Dalam kelas-kelas ini ada takdir yang dipahami bersama kelompoknya, kepatuhan terhadap aturan kelasnya dan pengawasan atas aturan dan nilai-nilai kelas. Dengan demikian, Plato mengatakan bahwa sumber ketidakadilan ada di masyarakat itu sendiri.

Karena sulit untuk membuat satu definisi tunggal akan makna keadilan ahli filsafat lainnya, kemudian membuat dua definisi keadilan. Aristotels mengklasifikasikannya menjadi keadilan distributif dan keadilan korektif.

Keadilan distributif artinya pembagian barang dan jasa kepada setiap orang berdasarkan kedudukannya dalam masyarakat, dan perlakuan sama terhadap kesamaan derajad di depan hukum (equality before the law). Dalam konteks ini pun jika dicermati, tetap ada perbedaan rasa adil, tergantung kepada kedudukan di masyarakatnya. Meskipun di hadapan hukum dikatakan sama, tetap ada yang mengakibatkan ketidaksamaan tersebut. Seperti kejadian baru-baru ini di pengadilan kasus ‘politik’ Ahok. Lalu, ini kita sebut adil?

Selanjutnya keadilan korektif. Konsep ini diartikan sebagai upaya untuk membetulkan yang salah. Memperbaiki sesuatu, bukan membuat sesuatu yang salah menjadi betul, tentunya. Dalam konteks ini, keadilan korektif berupaya untuk mengkompensasi secara memadai pihak yang dirugikan. Untuk sebuah perbuatan jahat, maka diberikan hukuman yang sepantasnya. 

Ini juga susah, dengan mengatakan di mata hukum semua sama. Karena rasa yang ada di masyarakat berbeda. Tentunya masih ingat dengan seorang nenek yang dituduh mencuri coklat dan harus dipenjara tiga bulan. Sebuah coklat dan penjara tiga bulan, adilkah? Itulah hukum. Masyarakat tetap tidak menggapnya adil. Tetapi, bagi pihak yang dirugikan, itu terasa adil.

Pada titik ini menjadi sulit untuk membuat suatu definisi tunggal sebuah keadilan. Terlalu banyak yang bisa digunakan sebagai justifikasi untuk keadilan dan sekaligus ketidakadilan.

Kamu Duduk dan yang Lain Berdiri

Kembali ke pemandangan di jalan Sudirman di suatu waktu itu, barisan mobil yang ‘parkir’ di sisi kiri jalur, sementara Transjakarta melaju tanpa hambatan. Sepertinya tidak adil bagi mobil-mobil yang berjajar itu dengan kecepatan yang tidak jauh berbeda dari siput. Bahan bakar yang habis sia-sia, waktu yang terbuang percuma, dan kondisi psikologis yang tidak menguntungkan dan bisa berbuntut stres yang ujungnya mengakibatkan penyakit psikologis lainnya yang berbuntut pada penyakit psikis.

Tetapi, coba kita lihat ke dalam mobil itu. Di dalamnya penumpang dapat duduk dengan nyaman. Kursinya lebih empuk. Ruang yang luas hanya untuk sedikit orang. Jika hanya satu penumpang, maka seruangan menjadi milik sendiri. Udara tidak berbagi, dengan demikian juga tidak terjadi pertukaran karbondioksida. Tidak ada penumpang bersin yang menyumbang penyakit kepada penumpang lainnya.

Mobil yang nyaman itu masih ditambah dengan alunan musik sesuai dengan keinginan sendiri. Jenis musik dapat dipilih sendiri. Aroma mobil juga terserah pemilik. Jika kaki pegal, penumpang dapat meluruskan kakinya. Jika pantatnya pegal, penumpang bisa mengubah gaya duduknya. Meskipun lambat bergeraknya, kenyamanan yang tidak dirasakan penumpang Transjakarta tersedia.

Sementara itu di Tranjakarta berlaku sebaliknya. Kekuatan fisik sangat diperlukan. Untung, di Jakarta, masyarakat pengguna Transjakarta masih humanis. Meskipun tempat ‘khusus’ disediakan, tetapi tidak selalu cukup. Penumpang yang lebih muda, laki-laki dan perempuan, selalu memberikan kursinya kepada penumpang yang lebih tua. Keren, kan?

Jika kaki pegal, hanya memiliki sedikit ruang untuk bergerak. Jika berdiri, maka akan merasakan ujian fisik untuk waktu yang cukup lama. Jika ada yang bersin, maka siap-siaplah kebagian virusnya. Jalan yang tidak rata, apalagi dalam kondisi pembangunan MRT, maka tubuh penumpang bergoyang ke kiri ke kanan, dan pegangan harus dipererat.  Kadang-kadang goyangannya cukup keras. Jika penumpang padat, maka siap-siap saja untuk sedikit berhimpitan. Tidak ada lagu kesenangan kita. Pendingin udara pun tidak bisa dikontrol penumpang. Jika terlalu dingin, ya nikmati, jika panas ya nikmati juga.

Dengan situasi demikian, maka keadilan pemerintah DKI Jakarta adalah dengan memberikan ruang dan waktu kepada lebih banyak warganya yang menggunakan Transjakarta. Untuk penumpang mobil, sabarlah menunggu hingga macetnya cair.

Adilkah itu? Bisa ya, bisa juga tidak. Tetapi yang berlaku adalah tidak pernah benar-benar ada adil seadil-adilnya, karena keadilan itu adalah ketidakadilan itu sendiri. Lihatlah di jalan Sudirman Jakarta itu ketika jam kantor usai.

Rinsan Tobing

/rinsanlumbantobing

TERVERIFIKASI

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana