Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Membukakan Jendela Dunia Bagi Mahasiswa Tunanetra

14 Mei 2017   20:27 Diperbarui: 14 Mei 2017   20:27 25 0 0
Membukakan Jendela Dunia Bagi Mahasiswa Tunanetra
Foto: okezone.news.com

” tak, tak, tak, tak, tak”, “tak, tak, tak, tak”

Bunyi itu muncul dari benturan paku dan pelat besi alat menulis huruf Braille. Setiap potongan kalimat dibacakan, bunyi itu muncul lagi. Begitu seterusnya. Hanya ada bunyi itu dan suaraku, membacakan buku di ruangan asrama itu.

Ruangannya agak berantakan ketika itu. Cahaya siang masuk dari pintu masuk, dan jendela yang sejajar dengan pintu. Cukup menerangi buku yang sedang dibacakan. Lantainya dari semen yang sudah mulai terkelupas sedikit. Aromanya sedikit apek, sepertinya sudah agak lama tidak dirapihkan dan dipel.

Perlahan tetapi pasti, hentakan pada besi membentuk huruf-huruf di kertas putih itu. Satu demi satu huruf berpindah lalu menjadi kata, lalu menjadi kalimat. Isi buku berpindah dari buku kuliah ke kertas-kertas dalam bentuk huruf Braille. Proses mencatat pelajaran ke hurup Braille itu perlu dilakukan untuk memahami materi kuliah dan belajar secara mandiri.

Kecepatan membaca naskah disepakati sesuai dengan kemampuan menulis Braille mahasiswa yang dibantu. Kalimat-kalimat harus dipotong dan kadang diulang, untuk memastikan kalimat di buku persis sama dengan kalimat yang ditulis dengan huruf Braille.

Proses itu harus dilakukan untuk memahami setiap pelajaran yang diajarkan di kampus. Mahasiswa itu yang kebetulan penderita tunanetra, tidak ingin ketinggalan dalam kehidupannya nanti. Kondisi yang dialaminya tidak menuntup langkahnya untuk memnikmati dunia luar yang sangat luas. Dengan segala keterbatasannya, melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi tidaklah menjadi halangan.

Acap kali orang berfikir bahwa tidak mungkin dengan kondisi yang serba gelap gulita itu, sang mahasiswa dapat mengecap pendidikan ke perguruan tinggi yang semua buku-bukunya dalam bentuk cetak.

Buku-buku tebal sebagai panduan belajarnya harus dikunyah. Dalam kuliahnya, mahasiswa normal dan tunanetra tidak dibedakan. Ketika dosen menjelaskan, mungkin tidak terlalu masalah. Semuanya langsung dapat dicatat. Tetapi untuk memahami buku-buku bacaan itu, semuanya perlu dikonversi menjadi huruf-huruf Braille. Untuk proses ini bantuan sangat diperlukan. Bantuan seorang relawan, seperti aku yang sedang membacakan salah satu buku kuliahnya.

Berawal dari Kasmaran

Ketika itu, masa-masa kuliah yang sangat menyenangkan, sekitaran tahun 1990-an. Masa ketika hidup mulai bebas dan bisa berkelana menjelajahi ilmu sesuai dengan minat. Tidak ada keinginan untuk mengisi waktu luang selain belajar dan belajar. Meskipun sangat sering idealisme itu menjadi bolong-bolong dalam merealisasikannya.

Awalnya hanya berupa sebuah keisengan. Mengikuti kata hati yang sedang kasmaran. Diajak seorang teman, yang kebetulan sedang berupaya didekati. Kecengan istilah anak muda sekarang. Sang kencengan memintaku menemaninya ke panti tunanetra. Dia menjadi relawan, itu pengakuannya.

Belum tergambar dibenakku seperti apa itu relawan. Tugasnya membantu membacakan buku pelajaran bagi mahasiswa tunanetra. Buku-buku itu harus diubah ke tulisan Braille sehingga sang mahasiswa dapat mempelajarinya secara mandiri.

Menderngar suaranya jauh lebih penting dari pada memahami makna ucapannya. Aku manut saja mengikuti ajakannya. Dari kampus di sekitar Dipatiukur Bandung itu, kami naik angkot. Tidak lama, hanya sekitar 30 menit, kami sudah tiba di lokasi.

Nama tempatnya Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna. Panti ini sudah sangat tua. Awalnya didirikan oleh seorang dokter Belanda, Cha Westhoff. Tahun 1942, pada masa penjajahan Jepang, panti diambil alih pemerintah penjajahan. Lalu setelah merdeka, tahun 1963 panti ini diserahkan ke pemerintah Indonesia dan diberi nama Wyata Guna. Hingga kini panti dibawah kendali Kementerian Sosial.

Tempatnya luas sekali, kurang lebih 4,5 hektar. Halaman dipenuhi dengan tanaman dan pohon-pohon yang rindang. Bangunan-bangunan berupa blok-blok dengan banyak kamar. Warnanya seperti seragam pramuka, ketika itu. Atapnya coklat tua dan dindingnya coklat muda. Bangunan-bangunan itu adalah asrama. Ruang-ruang itu serupa asrama yang dapat menampung hingga 250 penghuni. Di dalamnya banyak tempat tidur susun. Pencahayan tidak terlalu terang dan cenderung remang-remang. Sepertinya disengaja.

Di panti ini mereka dilatih. Salah satunya membuat keset, anyaman dan memijat. Pelajaran formal juga diberikan dari tingkat SD hingga SMA. Bahkan ada yang kuliah di perguruan tinggi. Pijat tradisional dan shiatsu merupakan salah satu modal sumber penghidupan yang diajarkan. Sambil belajar para murid yang mengambil jurusan ini sudah dapat menghasilkan uang dari pasien yang datang. Mereka di latih langsung oleh ahli yang sama-sama tunanetra. Beragam keahlian diajarkan sebagai modal di kemudian hari. Tidak sampai itu, kesempatan melanjutkan ke perguraun tinggi pun terbuka.

Teman saya itu menceritakan kerja gratisan yang dilakukan. Dia membantu membacakan materi kuliah termasuk buku-buku bagi mahasiswa tunanetra tersebut. Selanjutnya sang mahasiswa menuliskannya dalam huruf-hufup Braille. Konversi itu penting, supaya sang mahasiswa bisa belajar secara mandiri di luar bangku kuliah.

Tidak menyangka, ternyata ada mahasiswa tunanetra yang melanjutkan pendidikannya hingga bangku kuliah. Yang lebih tidak aku sangka lagi, ternyata ada orang-orang yang rela memberikan waktu dan tenaganya untuk membantu membacakan materi-materi kuliah itu.

Setelah beberapa kali menemani sang kecengan, ada perasaan tidak enak dihati. Perasaan yang merasa bersalah jika hanya duduk bengong menikmati wajah perempuan yang sedang kutaksir. Sementara di tempat itu pasti masih banyak yang butuh relawan-relawan membantu membacakan buku-buku. Buku yang merupakan jendela dunia.

Menjadi Relawan

Semua perjuangan yang dijalani mahasiswa itu melahirkan sebuah keinginan tulus untuk membantunya dalam perjuangannya. Dengan semangat yang menyala, aku akhirnya menjadi relawan. Tidak ada perjanjian yang ketat. Tidak ada yang namanya memorandum of understanding. Aku hanya perlu berkomitmen pada diriku sendiri.

Jadwal disepakati bersama. Waktu yang disediakan relawan tergantung pada ketersediaan waktu mahasiswa yang dibantu. Alokasi waktu yang diberikan saat itu hanya 2 jam per minggu. Disepakati waktunya setiap Sabtu siang. Jadwal ini juga disesuaikan dengan jadwal kuliah sang mahasiswa. Aku menjadi relawan untuk seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universtas Padjadjaran. Sayang aku sudah lupa namanya.

Beragam jenis buku yang harus dikonversi menjadi buku berhuruf Braille. Mulai buku tentang sastra Indonesia hingga buku-buku cerita. Proses membacanya menjadi sesuatu yang mendorong untuk bisa menahan diri. Melatih diriku untuk bisa mengikuti irama mahasiswa yang dibantu. Melatih diriku juga untuk mensyukuri segala sesuatu yang aku miliki.

Tidak ada ketergesaan. Tidak ada juga perdebatan. Semuanya berjalan dengan apa adanya. Setiap bunyi paku dan plat itu sudah selesai, aku melanjutkan dengan kalimat berikutnya. Ketika kata demi kata dan kalimat demi kalimat berpindah, ada rasa puas yang tidak bisa digambarkan.

Huruf-huruf Braille di kertas itu sama sekali tidak aku pahami. Hanya berupa lubang-lubang paku yang terusun dengan pola tertentu. Aku juga tidak yakin jumlah kalimat yang tertera pada satu kertas kwarto itu. Titik-titik itu yang jelas memiliki pola. Titik-titik itu berbaris sesuai dengan urutannya untuk membentuk kata.

Semua lubang tampak teratur. Semakin sering, aku semakin paham ada pola yang terbentuk. Di awal kertas berbaris lurus dari atas hingga ke bawah. Rapi sekali. Memang baris kanan kertas tidak serapi yang di kanan. Dalam bayanganku, sama saja dengan mengetik memakai mesin komputer. Rata kiri, tetapi tidak rata kanan. Aku juga tidak pernah bertanya untuk belajar menulis Braille. Aku terlalu terpaku dengan menjadi relawan saja.

Begitulah, setiap minggu selama dua jam aku menyediakan waktuku. Aku tidak selalu datang dengan kecenganku lagi. Dorongan yang awalnya sangat egois itu menghilang. Ada rasa tidak sabar untuk menunggu jadwal itu tiba. Ada keinginan yang kuat untuk membantu sang mahasiswa berhasil dalam studinya. Harapanku, studi itu membuat hidupnya di masa yang akan datang lebih baik. Tidak berakhir di pinggir jalan menjadi pengemis.

Dan sore itu, setelah menyelesaikan bab terakhir dari buku pelajaran yang cukup tebal, sang mahasiswa itu mengucapkan terimakasihnya. Tangannya diacungkannya untuk menyalamiku. Kejadian itu sering terjadi. Awalnya agak aneh melihatnya, karena tangannya melayang begitu saja, tidak mengarah kepadaku.

Aku raih tangannya dengan tangan kiriku. Dia tersenyum ketika sadar arah tangannya salah. Aku juga tersenyum, pastinya dia tidak melihatnya, tetapi merasakannya. Aku salam dengan tangan kananku. Tangan kiriku aku rapatkan, memasukkan tangannya dalam genggamanku.

“Sampai minggu depan, Kang” ujarku menutup sesi membaca hari itu. Aku melangkah keluar. Dia menghantarkan aku hingga pintu. Dia melambai dan kembali tersenyum. Aku melihatnya dan ikutan melambai. Aku tidak peduli lagi dia melihatnya, meski di awal aku suka tersenyum dengan lambaian dan senyumku yang tidak berbalas.

Aku merasa ada kebanggaan dan kepuasan ketika berhasil memindahkan buku-buku dalam tulisan Latin ke huruf Braille itu. Aku melakukan pekerjaan kecil untuk membukakan jendela-jendela dunia baginya. Aku hanya berharap, akan banyak relawan yang membuka lebih banyak jendela-jendela dunia bagi mereka yang tunanetra.

Kegiatan itu memang sudah sangat lama berlalu. Tetapi hingga kini masih membekas. Ingin juga menganjurkan para mahasiswa atau pelajar untuk melakukan kerja kerelawanan ini. Banyak hal yang bisa didapat. Di samping kepuasan diri, juga melatih diri untuk berempati. Melatih diri untuk tidak egois. Kelak, jika melamar beasiswa ke luar negeri, pekerjaan kerelawanan seperti ini menjadi nilai tambah yang signifikan.

Aku memang membantunya tidak terlalu lama, tidak hingga kuliahnya selesai. Karena kesibukan kuliah dan bekerja. Dan hingga kini aku tidak juga tahu mahasiswa yang aku bantu.

Akan tetapi yang pasti, ruangan kamar asrama bagi mahasiswa penyandang tunanetra yang sedang kuliah di jurusan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran Bandung itu, telah menjadi tempat bagiku sedikit membaktikan diri, membuka jendela-jendela dunia bagi mereka yang tinggal dalam kegelapan abadi. Untuk mereka yang hidup dalam gelap tanpa cahaya, tak juga harus jendela itu tertutup.