Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight headline

Beratnya Menjadi Orang Tua Masa Kini

20 Maret 2017   13:46 Diperbarui: 20 Maret 2017   19:16 575 6 5
Beratnya Menjadi Orang Tua Masa Kini
Sumber: female.kompas.com

Berita menggelisahkan muncul beberapa hari terakhir. Berita yang memuat berbagai kejadian yang menimpa anak-anak dan remaja. Di beritakan, pasca pemberangusan sebuah page di facebook yang merupakan kelompok para pedofil, ada lagi pass out challenge atau skip challenge atau choking challenge.

Masih ada lagi berita yang membuat orang tua pusing tujuh keliling dimana terjadi pemerkosaan terhadap anak-anak dan remaja. Di tambah jajanan yang disisipin zat-zat psikotropika. Belum lagi bullying yang masih mengintai anak-anak tanpa mengenal tempat.

Memiliki anak dewasa ini sungguh-sungguh ‘menjadi berat’. Menjadi orang tua saja sudah berat, apalagi ditambah dengan persoalan seperti yang dijabarkan di atas.

Kisah-kisah yang muncul di berita itu terkait para pelaku memanfaatkan keluguan anak-anak. Keluguan anak-anak, ketika bertemu dengan perilaku menyimpang, mengakibatkan bencana. Pertama bagi anak itu sendiri, selanjutnya ke keluarga. Puncaknya, masyarakat akan mengalami distorsi akan rasa aman dan nyaman dalam kohesi sosialnya. Sikap curiga akan meningkat dan bisa terjerumus pada konfrontasi. Ancaman lanjutannya, kondisi ini bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sesaat dan berbagai kemungkinan lainnya.

Jika pertanyaan diajukan kepada para ahli terkait sebab musabab kejadian ini, akan selalu muncul satu jawaban yang relatif sama, yakni kurangnya pengawasan orang tua. Jika dielaborasi lebih jauh, disini terjadi kurangnya peran keluarga untuk memberikan modal bagi anak untuk dapat menghadapi dunia nyata dan dunia maya. Orangtualah yang menjadi pemegang peran kunci untuk menghindarkan anak dari kejadian seperti diceritakan di awal.

Disangkakan, bahwa kurangnya pendidikan dalam rumah tangga oleh orang tua kepada anak menjadi kambing hitam. Banyak orang tua yang mengutamakan sekolah sebagai tempat utama anak mendapatkan pendidikan menyeluruh. Padahal sebenarnya tidak.

Sebabnya, sering sekali alasan orang tua memiliki waktu yang sangat terbatas, terutama karena pemenuhan kebutuhan hidup. Pada kondisi lain, orang tua mengalami gagap teknologi yang berujung pada pembiaran intrusi berbagai nilai, yang belum tentu benar dan dipahami anak-anak, melalui media sosial ke dalam kehidupan anak, tanpa ada saringan dari orang tua.

Kondisi dan tuntutan kehidupan saat ini memperparah situasi kurangnya pengawasan orang tua. Tantangan yang dihadapi tentunya bagaimana upaya memperluas ruang bagi interaksi benar antara orang tua dan anak.

Keluarga dengan Dua Pendapatan

Berkurangnya interaksi ini diakibatkan kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup. Meningkatnya harga kebutuhan memaksa orang tua untuk bekerja keras. Sumber satu penghasilan seperti yang lazim pada jaman dahulu tidak bisa dipertahankan. Kebanyakan pasangan saat ini bekerja. Anak diberikan kepada asisten rumah tangga untuk mengaturnya. Akibatnya interaksi anak dan orang tua sangat minim.

Kondisi ini mengakibatkan timpangnya relasi orang tua dan anak yang berujung pada rendahnya pengawasan orang tua terhadap anak dan segala aktivitasnya. Orang tua hanya memiliki waktu di akhir pekan. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan asisten rumah tangga.

Menjadi aneh kemudian jika orang tua berharap anaknya akan baik-baik saja jika urusan anak diserahkan kepada asisten rumah tangga. Judulnya juga asisten rumah tangga, pastinya kemampuannya pasti terbatas. Apalagi harus mengandalkan asisten rumah tangga untuk segala urusan. Jelas tidak mungkin bila dilihat dari sisi pendidikan, mentalitas dan kemampuan asisten rumah tangga itu sendiri. Urusan kasih sayang, tidak mungkin didapatkan dari asisten ini.

Pilihan-pilihannya memang sulit. You can not get all at the same time. Pilihan pasangan suami istri bekerja adalah satu hal. Pilihan lainnya adalah suami bekerja dan istri mengurus rumah tangga. Konsekuensinya untuk masing-masing pilihan juga ada. Pasangan yang bisa bekerja di rumah termasuk yang sangat beruntung. Pasangan yang masih memiliki orang tua dan tidak menolak mengurus cucu, merupakan berkat tersendiri.

Kondisi itu pun masih tetap tidak ideal, karena orang tualah yang harus memberikan perhatian dan mengurus anak-anaknya. Bukan orang lain termasuk orang tua maupun orang dekat keluarga. Ayah dan Ibu harus menjadi penanggung-jawab utama. Memang ini idealnya dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Pilihan untuk keluarga dengan dua pendapatan terpaksa dilakukan karena kebutuhan yang semakin banyak dan mahal. Kebutuhan anak bisa terabaikan. Pilihan untuk menjadi keluarga dengan satu penghasilan, pendapatan berkurang, tetapi kebutuhan tumbuh kembang anak dapat terpenuhi.

Pilihan Sulit, Tetapi Harus

Untuk memastikan bahwa urusan anak dapat dipenuhi dengan baik, tidak hanya urusan fisik tetapi juga urusan non-fisik, orang tua harus terus berada di lingkungan anak dan memahami fungsi orang tua. Meskipun saat ini ‘profesi’ ibu rumah tangga masih dianggap isu domestik, tetapi sebenarnya jauh lebih berat daripada seorang pekerja di kantoran.

Ada lelucon yang mengatakan bahwa jam kerja ibu adalah sejak matahari terbit hingga mata ayah terbenam. Pekerjaan seorang ibu rumah tangga sebagai manajer rumah tangga sangatlah kompleks dan panjang tanpa mengenal yang namanya working hours. Untuk berhasilnya pasangan yang terpaksa istri harus mengurus rumah tangga atau menjadi single income family, maka suami harus memiliki pemahaman yang baik atas pekerjaan rumah tangga.

Istri memiliki peran yang mendukung suami dalam konteks mengurus rumah tangga. Suami akan merasa tidak tenang jika urusan anak-anak tidak beres. Seperti kejadian yang dialami penulis sendiri. Meskipun teman-teman penulis menganggap penulis terlalu berani, tetapi pilihan sulit agar istri keluar pekerjaan di perusahaan negara untuk mengurus rumah tangga, harus dilakukan. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan tidak hanya tentang belajar di sekolah, tetapi justru di rumah pendidikannya lebih berat.

Soal tidur siang, misalnya, itu menjadi pelajaran tersendiri. Anak harus belajar secara teratur juga adalah urusan lain yang mesti diperhatian secara seksama. Pakaian anak-anak yang harus rapih dan bersih tidak bisa diabaikan. Makanan rumah yang sehat dan higienis harus disajikan setiap hari. Jajan selektif harus diawasi yang menuntut perhatian ekstra. Kebersihan rumah dilakukan seoptimal mungkin. Untuk bersaing di masa yang akan datang anak harus dikursuskan musik, bela diri, bahasa asing dan berenang. Ini pun bukan urusan yang mudah mengaturnya.

Kecenderungan anak yang lebih memilih bermain dari pada belajar tentunya memberikan persoalan tersendiri. Anak harus diberikan pengertian. Dan disinilah tantangannya yang memerlukan kekuatan mental orang tua, terutama seorang ibu rumah tangga.

Anak-anak tidak akan mengerti ketika hanya satu kali disampaikan. Anak-anak cenderung abai dengan perkataan orang tua. Dengan demikian repetisi pesan menjadi penting. Pesan diterima dengan baik jika gelombang anak sama dengan gelombang orang tua. Gelombang rendah, artinya tidak emosi, akan baik bagi penerimaan anak akan pesan orang tua. Kekerasan hanya akan menciptakan luka. Kelembutan akan melahirkan dampak positif yang berkelanjutan.

Mengulang pesan-pesan pesan ini secara terus menerus juga pekerjaan yang tidak mudah. Butuh nafas panjang kesabaran. Karena urusan juga tidak hanya satu perkara. Banyak perkara lain yang harus diperhatikan untuk memastikan anak mendapatkan kebutuhannya, demi pertumbuhan fisik dan mentalitas yang baik.

Dengan segala kebutuhan di atas, maka pasangan suami istri harus memiliki pemahaman yang sama akan fungsi dan tugas masing-masing. Tidak boleh ada yang merasa lebih penting dari yang lain. Dua-duanya penting. Maka harus ada pembicaraan. Egonya harus diturunkan. Masing-masing harus mengenal pasangan. Tidak membawa perkara-perkara di luar rumah masuk ke dalam rumah tangga.

Ada benarnya perkataan Jusuf Kalla bahwa waktu kerja ibu harus dikurangi untuk memberikan waktu dan perhatian yang cukup bagi anak-anak. Penulis lebih tegas lagi, istri harus menjadi ibu rumah tangga. Bukan istri tidak bekerja, loh! Kebutuhan tumbuh kembang anak secara positif jauh lebih penting dari pada pendapatan yang tinggi. Apalagi sekarang gangguan terhadap anak semakin banyak dan kompleks. Serbuan dari media sosial sangat merusak. Di lingkungan juga anak-anak tidak aman karena adanya gangguan dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari keluguan anak-anak itu.

Tidak mudah memang mewujudkan segala sesuatu yang disampaikan di atas. Pilihan-pilihan harus dibuat. Setiap pilihan memiliki risiko sendiri. Pilihan two-income familybisa memberikan pendapatan yang lebih besar bagi keluarga. Tetapi bisa jadi, kebutuhan anak akan kasih sayang terabaikan. Kebutuhan akan rasa aman dan kehangatan terancam. Pilihan one-income family, seperti yang penulis pilih, dimana istri mengundurkan diri dari BUMN dengan posisi middle manager, tentunya memberikan dampak bagi pendapatan keluarga.

Tetapi, dengan segala ancaman yang seperti diutarakan di atas dan kemungkinan-kemungkinan ancaman lain terkait tumbuh kembang anak, akan lebih murah biayanya, jika ingin dikalkulasikan, untuk memilih one-income family dibandingkan two-income family.

Tidak banyak keluarga yang beruntung dengan dua pendapatan tetapi ibu dapat bekerja dari rumah dan tetap bisa mengurus anak. Apalagi keluarga dengan dua sumber pendapatan dimana ayah dan ibu bekerja di rumah. Kebanyakan harus membuat pilihan-pilihan dengan masing-masing risikonya. Hanya sekarang perlu menimbang, mana yang terbaik dari pilihan-pilihan itu, dan risikonya dapat dimitigasi.

Akan tetapi, kehadiran orang tua di lingkungan anak dengan frekuesi tinggi bahkan setiap saat, memberikan setidaknya perlindungan bagi anak dan pemenuhan kebutuhan bagi tumbuh kembangnya anak. Tentunya tidak hanya hadir, tetapi memperhatikan secara seksama. Terlalu sayang masa depan anak jika hal seperti disebutkan di atas terjadi pada anak-anak kita, karena kurangnya waktu untuk mengawasi anak dalam proses pertumbuhannya. Harganya terlalu mahal untuk ditanggung.

Jadi, setuju kan dengan pernyataan menjadi orang tua dewasa ini jauh lebih berat?