Rinsan Tobing
Rinsan Tobing Konsultan

Menulis, hanya untuk membiarkan kegelisahan mengalir....

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Banjir Jakarta dan Kesempatan Emas Ahok "Berkampanye"

17 Februari 2017   13:00 Diperbarui: 17 Februari 2017   13:14 1079 2 1
Banjir Jakarta dan Kesempatan Emas Ahok "Berkampanye"
sumber: megapolitan.kompas.com

Bencana selalu mendatangkan kesempatan emas. Begitulah yang selalu dikatakan ahli-ahli bencana. Dan memang begitu adanya. Yang paling umum yakni kita merasakan betapa kecilnya dan tidak berdayanya kita di hadapan sebuah bencana. Betapa rentannya manusia di hadapan daya rusaknya. Menyadarkan kita untuk selalu bersyukur dengan semua yang dimiliki. Setidaknya mempertebal iman kita.

Kesempatan-kesempatan lain selalu bisa ditemukan. Kesempatan untuk mempelajari kebencanaan lebih lanjut, bisa jadi salah satunya seperti pasca gempa Aceh 2016. Lalu, misalnya melalui penilaian kerusakan dan kerugian, kita bisa menyadari betapa kerja keras yang dilakukan selama bertahun-tahun, hancur dan hilang hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat, bisa hitungan detik hingga jam. Hal ini pastinya menyadarkan kita akan perlunya mitigasi bencana, pencegahan.

Kalau mau belajar lebih lanjut, kita juga akan menemukan banyak pelajaran. Coba kita lihat bencana tsunami di Aceh. Kita sadar betapa bangsa Indonesia belum siap di hadapan bencana, setidaknya untuk mengurangi dampaknya. Tetapi, pada saat yang bersamaan ada kesempatan untuk membangun kembali kota dengan daya tahan yang lebih tinggi terhadap bencana. Di Yogya dan Merapi, kita belajar bahwa kebersamaan adalah kunci utama upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Dengan demikian, sudah seharusnya bangsa Indonesia harus punya sikap sense of disaster. Sebabnya kita dikelilingi oleh bencana. Sebut bencana apa saja, Indonesia punya. Indonesia di kalangan kebencanaan di dunia dikenal sebagai supermarket bencana, mulai bencana alam hingga bencana sosial. Lengkap, selengkap sebuah supermarket.

Akhir-akhir ini yang paling banyak terjadi adalah bencana banjir. Banjir melanda banyak kawasan di Indonesia. Kota-kota besar dan kecil diterjang banjir. Desa-desa terpencil tidak lepas dari serangan bencara hidrometeorologis ini, bencana akibat cuaca. Sungai-sungai tidak ingin sebenarnya membanjiri, tetapi wilayah pasang surutnya sudah dicaplok. Semua bencana banjir, pastinya disebabkan oleh rusaknya bentang alam, sistem alam yang mengendalikan banjir.

Menurut Badan Nasional Penanggulanan Bencana, kejadian banjir tahun ini terparah. Di samping perubahan bentang alam, juga diperburuk oleh musim hujan yang lebih lebat dan musim kemarau basah yang tejadi tahun lalu. Lengkaplah sudah, banjir akan menjadi rutin, jika masih berperilaku sama terhadap alam dan sistem alami sungai.


Banjir Berulang Jakarta

Jakarta tidak luput dari banjir. Banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor di Jakarta sendiri dan juga di luar Jakarta. Untuk menyebut sebagian adalah buruknya sistem sungai di Jakarta dan daerah terbangun yang lebih dari 90%. Di luar Jakarta, dimana sungai-sungai di Jakarta berhulu di daerah Cianjur dan Bogor, mengalami perubahan juga. Akibatnya langganan banjir akan datang setiap tahun. Bencana banjir di jakarta selalu berulang dan bisa bertahan beberapa lama hingga berminggu-minggu.

Tetapi itu beberapa tahun yang lalu. Pekerjaan besar dan raksasa telah dilakukan pemerintah Jakarta sejak tahun 2012. Pemerintah mengupayakan perbaikan sungai-sungai dan saluran-saluran drainase di semua titik. Sejak itu, banjir di Jakarta memang masih terjadi, tetapi tidak lagi parah seperti dulu. Genangan-genangan yang terjadi sudah diantisipasi langsung dengan menggerakkan pasukan Orange, salah satunya. Genangan hanya berlangsung singkat. Mesin-mesin disiapkan, dananya diamankan dan sumber daya manusiakan dikerahkan.

Banjir masih akan ada, karena memang tidak mungkin menghilangkannya dengan kondisi yang sekarang. Menurut penuturan Ahok, masih ada 400 titik yang harus dibenahi dengan pembebasan lahan seluas 350 hektar. Dengan ini, maka Jakarta bisa dinyatakan banjir, dengan tetap mengontrol daerah hulu.


Kesempatan Emas Ahok

Disampaikan sebelumnya, bencana akan selalu memberikan kesempatan. Kesempatan emas yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Demikian juga adanya dengan banjir. Banjir yang terjadi terjadi di Jakarta tiga hari belakangan ini adalah sebuah kesempatan emas Ahok untuk berkampanye.

Kampanye ini tentunya terkait pilkada DKI putaran kedua. Secara resmi KPU menyatakan tidak akan ada lagi kampanye seperti sebelumnya. Tidak ada lagi kampanye lewat media sosial, rapat umum dan blusukan-blusukan. Dengan demikian, kesempatan kampanye hanya dimiliki Ahok dan Djarot. Mereka memiliki kesempatan yang sangat baik dalam peristiwa banjir ini.

Hal yang harus dilakukan Ahok dan Djarot adalah muncul di setiap wilayah banjir yang ada dengan segera. Pasangan petahana ini harus memberikan arahan langsung di lapangan untuk menangani banjir. Tidak kenal maka tidak sayang. Kunjungan-kunjungan intensif dan bersama-sama dengan anak buah, bekerja keras mengatasi banjir akan menjadi ‘komoditas’ yang bagus. Political marketing diupayakan lewat kerja-kerja menangai banjir yang sedang ada.

Ahok bisa mengantarkan langsung bantuan bagi masyarakat yang terdampak. Ada hampir 8000 masyarakat yang terdampak di banjir Jakarta kali ini. Muncul di tengah masyarakat dan bekerja keras memastikan banjir tertangani adalah sebuah strategi politik yang jitu.

Masyarakat akan secara langsung melihat pemerintahnya hadir melayani masyarakat. Sapaan dan wujud nyata pemerintah di masyarakat yang mengalami penderitaan akan memberikan perbedaan persepsi dari sebelumnya. Akan mengubah cara pandang masyarakatnya.

Jika kemarin masyarakat tidak memilih karena tidak melihat langsung, maka dengan hadirnya pemerintah secara cepat, akan memberikan dampak yang berbeda. Ahok bisa datang ke kawasan banjir yang kemarin dimenangkan Anies. Beberapa kawasan Anies juga ada yang banjir seperti di Tebet. Ini bisa menjadi kesempatan memenangkan hati para pemilih Anies. Jika Anies masih dalam tahapan wacana, maka Ahok sudah dalam tingkat pelaksanaan.

Menanganinya juga harus cepat. Masyarakat tentunya ingin hasil yang segera. Inilah salah satu kesulitan menghadapi masyarakat sebenarnya. Tidak perduli pemerintahnya kesulitan, tetapi layanan harus segera terjadi. Banjir harus ditangani secepat-cepatnya. Upaya ini diperkirakan akan berdampak pada pilihan masyarakat.

Kesempatan emas ini harus digunakan Ahok dan Djarot sebaik-baiknya. Dengan segala kelemahan yang dimiliki, kesempatan-kesempatan yang ada harus digunakan. Anies dan Sandi memang agak kesal dengan tidak adanya kesempatan kampanye dan debat-debat lagi. Mereka dengan terpaksa menerima kenyataannya, karena KPU telah bersabda demikian.

Jika Ahok ingin mendapatkan tambahan hingga 50% plus 1, maka kesempatan emas yang selalu dihadirkan sebuah bencana, bencana apa pun itu, maka harus dimanfaatkan. Seperti banjir kali ini. Jangan terlalu pusing dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa Ahok ‘berkampanye’ untuk putaran kedua. Ahok tidak berkampanye. Ahok hanya melaksanakan tugasnya memberikan layanan kepada masyarakatnya. Sebabnya, seperti yang selalu disampaikannya, Ahok adalah jongosnya masyarakat Jakarta dan dia menepati janjinya.

Ahok segeralah turun ke lokasi-lokasi banjir. Tidak merenungi perbedaan tipis 4 persen yang tertera di laman KPU. Gunakan kesempatan emas ini untuk menarik lebih banyak lagi pemilihmu. Banjir Jakarta kali ini menyediakan karpet merahnya untukmu berkampanye.