Mohon Dukung Kami, Bapak-bapak.....

08 Mei 2012 03:38:18 Dibaca :
Mohon Dukung Kami, Bapak-bapak.....

Mengasuh Anak sambil Mengikuti RAKERNAS

13364443691864748283Mengasuh Anak Sambil Menghadiri Kongres Pengusaha di Mesir

Wanita dikodratkan sebagai Ibu yang memiliki kasih sayang berlimpah ruah terhadap anak-anak yang dilahirkannya. Kesakitan dan penderitaan selama mengandung dan melahirkan langsung sirna begitu mendengar tangisan pertama sang bayi. Bahkan disaat dirinya masih membutuhkan pemulihan, dengan suka rela diberikannya saripati kehidupan bagi bayi tercinta melalui ASI.

Bagi Ibu-ibu pekerja, dilema terbesar akan muncul diakhir masa cuti melahirkan. Melanjutkan bekerja berarti meninggalkan sang buah hati dirumah. Jika memutuskan mengurus dan mengasuh sendiri bayi tercinta, maka Ibu harus merelakan melepas pekerjaan dan karir yang sudah dibina bertahun-tahun, belum lagi kehilangan kesempatan mengelola eksistensi diri.

Seperti yang terjadi pada saya setelah cuti melahirkan anak pertama (dan kedua, karena kembar), 3 bulan kemudian saya kembali bekerja. Setiap pagi berangkat kerja dengan hati yang sangat berat, tidak jarang saya menangis dibalik kemudi selama perjalanan ke kantor. Setiap tiba waktunya menyusui, karena payudara  sudah penuh, saya menangis ingat anak-anak dirumah. Bahkan melihat kucing bercanda dengan anaknya pun saya menangis, lagi-lagi karena ingat anak. Saya menjadi cengeng.

Tidak tahan dengan perasaan selalu sedih karena selalu teringat anak dirumah, beberapa bulan kemudian saya memutuskan resign dari pekerjaan.

Total mengurus anak dan rumah tangga seringkali menyebabkan para Ibu menjadi terisolasi. Daya jelajahnya tergantung dengan luas rumah yang ditinggali. Teras, ruang dalam rumah, dapur, kamar, balik ke teras lagi, hingga kedapur lagi. Meskipun nyaman berada didalam rumah,  setelah beberapa bulan menjalani rutinitas domestik  tidak jarang kejenuhan dengan suasana yang 'itu lagi-itu lagi' melanda. Akibatnya, perasaan terisolasi ini bisa menyebabkan timbulnya stress, malah tidak sedikit yang menjadi depresi jika stressnya tidak dikelola dengan baik.

Untuk itu, kami para Ibu, membutuhkan bantuan dan peran serta Bapak-bapak dalam mengasuh anak-anak. Please, jangan beralasan capek kerja, sehingga setibanya dirumah  langsung mandi, leyeh-leyeh menonton TV, lalu tidur. Begitupun di akhir minggu, tidak sedikit para Bapak yang lebih memilih untuk menyalurkan hobinya atau hang-out bersama teman komunitas dibanding menggantikan istrinya mengasuh anak-anak.

Tanpa bantuan dan kerjasama Bapak-bapak, mengurus rumah dan mengasuh anak akan terasa bagaikan pekerjaan tanpa memiliki hak cuti.

Bukan pula kami mengeluh dan tidak ikhlas menjadi Ibu, namun sebagai manusia kadang-kadang kami juga memerlukan me-time, justru untuk memulihkan segala kelelahan,terutama kelelahan rohani. Sehingga kami bisa selalu fresh ketika mendarma baktikan hidup kami bagi keluarga.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?