HEADLINE HIGHLIGHT

Kompasiana Itu Penuh Kebencian Mari Berkaca Dari Kematian Uje

28 April 2013 09:01:24 Dibaca :
Kompasiana Itu Penuh Kebencian Mari Berkaca Dari Kematian Uje
-

Kompasiana itu penuh kebencian mari berkaca dari kematian Uje Baru sehari Uje meninggal, saat saya menerima inbox. Isi inbox itu hanya satu kalimat, dan bukan menyangkut Uje. Isinya itu 'Kompasiana itu penuh kebencian. Saya mungkin lebih baik mundur'. Memang saya pahami banyak sekali tantangan menjadi penulis di Kompasiana. Salah satu tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadapi tulisan yang beraroma negatif, pendeskreditan, pemaksaan kehendak dan pendapat dan berujung kepada penebaran kebencian. Tulisan-tulisan itu bisa berbentuk artikel atau dalam sebentuk komentar. Lalu apa hubungannya dengan kematian Uje? Kawan, Tadi pagi saya menerima sms yang cukup menyentak berbunyi: ' Bgtu cpt, mlm ini jd Mlm PERTAMA di Alam KUBUR bg Uje, pdhl kmrn mlm msh brgmbira brsma Klrg & shbt. Bgmn jk mlm ini jd mlm trakhir kt d dunia & bsk kt mnysul?'. Kita lihat seorang Uje. Meninggal mendadak, tanpa diduga. Ditangisi kepergiannya. Diingat kebaikannya. Ribuan menyolatkan. Ribuan mengantar ke kuburan. ....Itulah hasil dari sebuah kebaikan. Lalu bagaimana jika hal itu menimpa seorang Kompasianer yang pagi dan siang 'membakar' lapak orang, dilanjutkan berdebat pedas dalam komentar, atau sekedar berkomentar yang menyakitkan. Tulisannya penuh kebencian. Lalu takdir berkata dia harus mati dalam tidur. Padahal dia sehat. Padahal dia tidak bermotor bermobil. Padahal dia aman dari kecelakaan dengan tinggal dan kerja di rumah. Dia mati saat orang lain tersakiti (atau disakiti). Dia meninggal kala mulutnya pedas memenggal .....tanpa sempat meminta maaf .....tanpa sempat membalik kata yang telah terucap .....tanpa sempat menjelaskan Meninggalkan orang lain tersakiti dengan ucapan lisan dan tulisan Lalu. .. kematiannya dinistakan kehilangannya disyukuri yang diingat hanya kebenciannya Kawanku, utamanya bagi mereka penebar kebencian - siapapun itu Mari yok kita belajar sopan santun di Kompasiana agar rumah ini benar-benar menjadi rumah sehat. Dengan sopan santun beretika dalam menulis, langsung tidak langsung kita akan berandil dengan munculnya generasi muda yang santun dan beretika. Kawanku, yang merasa menerima kebencian Mari juga kita merespons kebencian itu dengan santun dan dengan baik. Jika tidak bisa, diamkan saja. Bukankah namanya bertepuk jika dilakukan sebelah tangan. Janganlah terpancing dengan kebencian, apakah alasan itu. 'Kebencian yang Anda bawa adalah bara yang berpijar dalam hati-jauh lebih merusak diri Anda daripada merusak mereka yang Anda benci'. 'Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that' Martin Luther King, Jr. Mari berkaca kepada Uje. Jika Tuhan mengambilmu sekarang, dan pagi ini adalah pagi terakhir kita sebagai penulis, wahai Kompasianer. Diingat kebaikannya. Disesali kepergiannya. Kekal karya dan amal baiknya.

Rifki Feriandi

/rifkidikompas

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku menulis maka aku bahagia ...
Penulis buku Cara Narsis Bisa Nulis

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?