HIGHLIGHT

[Inspirasi Menulis] Apakah Semua Laki-laki Harus Suka Bola?

08 April 2012 13:52:24 Dibaca :

MU vs QPR, Global TV, jam 8-an, posisi 1-0 .Itu sekilas yang saya lihat di teve. Sekilas, karena saya tidak menontonnya, malah sibuk ngerjain tugas yang harus diselesaikan buat besok. Tapi meskipun tidak ada tugas apapun buat besok, saya kok tidak tertarik menonton bola secara utuh. Kenapa ya? Apakah ada yang salah di diri saya?

Sampai sekarang sudah jamak di benak siapa saja bahwa seorang laki-laki itu harus suka bola. Bola adalah olahraga laki-laki dan urusan laki-laki. Entahlah, apakah sekarang ini masih ada stigma jika cowok tidak suka bola itu diragukan kelaki-lakiannya. Dulu sih stigma itu cukup kental ya. Padahal, suka bola itu kan pilihan, persis seperti pilihan saya menyukai tennis, kan?

Namun sekarang ada yang menarik dari bola bagi saya yang tidak suka bola.

Saya sebenarnya "cukup" menyukai bola, tapi terbatas hanya menonton kilasan-kilasan gol di acara teve pagi hari. Di sini saya bisa melihat gol-gol indah, permainan menarik (yang memang disajikan cuplikan yang menarik-menariknya saja), olahan bola yang cantik dan sebuah kerjasama yang ciamik. Yang menariknya lagi adalah kok aneh ya saya sekarang menjadi suka membaca artikel koran di halaman olah raga tentang hasil pertandingan bola semalam?  Membaca lengkap, dari alinea pertama sampai terakhir. Apalagi jika menyangkut hasil pertandingan Barca atau Real Madrid, dengan pemain bintangnya terutama Messi. Juga anehnya, saya juga mulai menyukai membaca berita perihal transfer-transfer di bursa pemain bola, padahal dulu mah boro-boro baca, bahkan sampai mikir "apa menariknya ya membaca transfer pemain segala". Apakah hal ini menunjukan bahwa saya "kembali normal" he...he....

Tapi kawan, kesukaan seseorang terhadap sesuatu menurut saya haruslah bukan karena sebuah keterpaksaan atau stigma. Seperti halnya saya, dulu mungkin tidak suka bola karena belum apa-apa saya sendiri sudah memberikan sebuah "dinding tebal" berupa keputusan bahwa saya tidak suka bola - apalagi bermain bola. Namun sekarang, saya menyukai bola karena saya sudah terbuka untuk mencari sesuatu yang menarik perhatian saya dalam sebuah pertandingan bola, termasuk kisah di luar bola. Tahapan itulah - ada ketertarikan - yang membuat seseorang menyukai sesuatu. Jadi, tidak perlu membuat stigma "tidak suka bola, tidak laki-laki" lagi.

Itu juga berlaku dalam aktivitas lain, seperti menulis bukan? Jika seseorang tidak diberikan ketertarikan untuk menulis, maka dia tidak akan menulis. Dia mungkin lebih tertarik di bidang musik, dan belum ada yang menarik dirinya untuk menulis. Jika demikian, rasanya tidak perlu membuat stigma "tidak bisa nulis, tidak gaul" ya.

Suatu saat, jika waktunya sudah tiba, ada sebuah ketertarikan yang lalu  membuat seseorang itu mulai menulis dan menyukai menulis. Dan di area inilah - memberikan sebuah ketertarikan untuk menulis - yang merupakan tugas kita, dengan melihat keuntungan-keuntungan yang didapat dari menulis. Untuk memberikan ketertarikan untuk menulis itulah, kita harus menyingkirkan stigma di atas itu. Atau kalau pun tidak bisa disingkirkan, ya kita modifikasi dengan sebuah stigma yang lebih konstruktif dan positif "dengan bisa menulis, makin gaul loh".

Ups, maaf, jadi seperti mengkritisi tulisan orang lain. Eh, tapi saya memberi solusi kan?

Ups

Cag, sehari setelah Ultah qiqiqiqiqi

#belajar dari anakku yang inginnya kupaksa mengikutiku dalam menulis, tapi bakatnya ada di musik#

Rifki Feriandi

/rifkidikompas

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku menulis maka aku bahagia ...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?