Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Karyawan Swasta

Kelahiran Kotanopan Sumatera Utara.Menjadi penulis lepas di beberapa koran lokal Palembang dan nasional.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Patung Lek

20 April 2017   09:44 Diperbarui: 20 April 2017   09:54 99 1 0

Aku tak perlu menceritakan kepadamu di mana dia tinggal. Karena itu mungkin bisa membuat beberapa orang tersinggung. Tapi kisah ini memang terjadi kepada Lek, seorang lelaki berumur sekitar empatpuluh tiga tahun. Lelaki yang menjadi ayah tiga orang anak. Lelaki yang menjadi suami seorang istri berpenyakit tbc. Dan dia sungguh bukan berasal dari kalangan atas. Dia hanya si kere yang mencari penghidupan dari tumpukan sampah masyarakat. Mengumpulkan plastik-plastik, beling-beling, kaleng aluminium, kardus-kardus, dan beragam benda busuk yang segera dijual ke tengkulak barang bekas.

Bisa jadi karena kehidupan Lek yang menyedihkan, akhirnya menimbulkan inspirasi bagi Yansen, yang tahun ini ikut bertarung menjadi calon raja. Seperti rival-rivalnya yang memiliki segudang visi-misi, serta beragam kedustaan, Yansen juga ingin berbuat serupa. Namun dia tak mau sibuk dengan program-program seperti pengentasan kemiskinan, berobat dan sekolah gratis, memberantas pengangguran (yang diberantas sih individu, bukan kepenganggurannya), dan seabrek lips services. Dia akan membuat sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggelitik, sehingga orang banyak tanpa sadar menyimpan namanya di benak mereka, lalu mencontreng Yansen, bernomor urut lima, pada masa pemilihan raja yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

Maka itu, hari ini diam-diam dia menemui Lek di rumahnya yang ringkih. Kedatangan Yansen, jelas membuat berita tersebar sedemikian cepat. Menyemutlah orang di halaman rumah Lek yang becek dan banyak cacing. Mereka takjub karena Yansen, sang calon raja yang dikenal sebagai selebritis itu, tak dinyana rela turun panggung mendatangi Lek.

Sebagai jelata, Lek juga terkejut sekaligus tersanjung. Merasa memiliki naluri kemanusiaan, cepat-cepat dia mengenakan pakaian terbaiknya. Anak-istrinya disuruh mandi lekas-lekas, lalu berpakain sebagus dirinya (meskipun sesungguhnya amat jauh dari taraf bagus). Dia juga mati-matian meminjam gula-kopi ke tetangga. Mencabut ubi Wak Dohar yang belum siap panen beberapa batang. Aneh sekali tiba-tiba Yansen menampik dengan halus semua sambutan Lek dan keluarganya.

Katanya, “Saya ke mari hanya ingin bersilaturahmi dengan Bapak! Saya ingin menjadikan bapak dan keluarga sebagai icon perjuangan saya demi rakyat banyak. Rakyat-rakyat miskin seperti bapak dan yang lainnya.”

“Wah, Pak Lek jadi selebritis juga, yo!” celetuk seseorang dari kerumunan.

Icon itu apa, Pak? Sebangsa ikan?” tanya Lek yang memang tak tahu apa-apa karena buta huruf.

Yansen tak menjawab, selain melemparkan senyum bersahabat. Kemudian dia menyuruh Lek anak-beranak, mengganti pakaian yang mereka kenakan dengan pakaian paling buruk. Tentu saja Lek sekeluarga heran. Tapi sebagai jelata, mereka tak boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan, selain mengangguk saja tanda “iya”. Menggeleng juga pantangan.

Mereka mengikuti kehendak Yansen. Bahkan tatkala disuruh berkumpul di lapangan bola, diiringi kerumunan warga, Lek anak-beranak hanya membisu. Begitu pula ketika truk-truk pengangkut tanah, pasir, batu-batu, besi behel, memuntahkan isi perutnya di hadapan mereka, Lek sekeluarga tetap membisu. Beberapa orang lelaki bertelanjang dada dan bercelana pendek, datang membawa sekop, cangkul, ayakan serta berbagai perlengkapan tukang. Barulah Lek mengajukan pertanyaan yang mendidih di hatinya, “Kami mau diapakan, Pak?”

Yansen tak langsung menjawab. Semenit kemudian, barulah dia berbicara seperti berpidato, “Saudara-saudara, sebagai niat suci saya demi mensejahterakan rakyat, maka saya membangun patung-patung Pak Lek sekeluarga. Saya ingin menunjukkan potret kumuh kehidupan masyarakat miskin yang menjadi bunga bangkai negara ini. Jadi, saudara-saudara, pandanglah patung-patung itu kalau sudah selesai. Ingatlah kalau saya terpilih menjadi raja, saya akan merubuhkan patung itu. Artinya, rakyat miskin harus dibangkitkan menjadi orang-orang kaya dan bermartabat.”

“Horeee! Horeee! Horeee! Hidup Pak Yansen! Hidup calon raja kita,” teriak orang-orang sambil melambai-lambai ke arah Yansen yang menghilang di dalam mobil Fortuner hitam. Sementara para tukang mulai sibuk mengaduk semen, batu dan pasir. Sebagaian merangkai besi-besi behel. Sementara seorang lelaki melambai mengatur gaya Lek sekeluarga di bawah terik matahari.

Orang-orang berdecak kagum, lalu semakin merubung. Lek sekeluarga kepanasan dan kehausan. Namun demi seorang calon pemimpin, mereka tetap bertahan. Ya, tentu sangat membanggakan bila patung-patung itu telah berdiri gagah. Orang-orang pasti berteriak; itu patung keluarga Lek! Mereka pun bisa menjadi selebritis dan omongan orang banyak.

Kiranya kerumunan orang berangsur bubar jam demi jam. Beberapa kembali pada kesibukan mencari nafkah seperti semula. Sebagian lagi pulang ke rumah masing-masing sebab lapar dan haus. Yang tersisa hanyalah anak-anak dan penjual asongan.

 Sehari penuh pondasi-pondasi patung itu selesai dibangun. Lek, istri dan anak-anaknya pulang ke rumah dengan tubuh lunglai. Selama dipanggang di bawah terik matahari, mereka hanya disuguhi air mineral dan kue apem yang hampir basi. Perjanjiannya besok, pagi-pagi sekali, Lek sekeluarga sudah diharuskan menjadi model lagi. Maka diputuskanlah, Lek sementara cuti mencari sampah masyarakat. Istri Lek, harus istirahat mencuci dan menyeterika pakaian di rumah Juragan Karnijon. Sedangkan anak-anak mereka, sehari-dua libur menjadi tukang semir, penjual koran dan asongan. Otomatis pencarian hidup mereka mesti dimandulkan. Tapi sudahlah, tak lama lagi patung mereka akan kelar. Mereka menjadi selebritis. Nama mereka ibarat semilir angin yang tak berhenti berhembus.

Hari kedua pun berlalu dengan cepat. Kebetulan patung sudah selesai sampai sebatas pinggang. Sebagai imbalannya, keluarga Lek disuguhi air mineral dan nasi Padang..

Begitulah hari demi hari berlangsung. Patung-patung semakin nyata dan bagus, sebaliknya kondisi keluarga Lek bertambah memprihatinkan. Lapar dan dahaga menyiksa mereka. Tapi sekali lagi, ini adalah perjuangan demi seorang calon raja. Ini adalah perjuangan bagi keluarga Lek sehingga dianggap sebagai selebritis dan iconpemberantasan kemiskinan.

Sepekan lamanya, patung-patung pun selesai. Yansen kemudian kelihatan batang hidungnya. Diiringi para pejabat pemerintah, penutup patung dari kain beludru pun dilepas Yansen. Puluhan blitz kamera fotografer menyala. Puluhan wartawan mengajukan pertanyaan dan kesalutan. Suarayel-yel menyerukan nama seorang Yansen, menggema seirama. Perbaikan ekonomi tengah dicanangkan. Rakyat miskin akan dikedepankan. Dimakmurkan. Patung-patung keluarga Lek adalah potret kehidupan yang dialami bangsa mereka sekarang ini.

Lalu, ke mana sesungguhnya keluarga Lek? Mengapa mereka tak menghadiri acara peresmian patung-patung itu? Padahal mereka adalah pemeran utamanya. Ada apa ini?

Yansen tak ingat mereka. Pejabat pemerintahan juga lupa. Orang banyak terjebak di tengah uforia yang menjengahkan. Sedangkan nun di rumah ringkihnya, Lek menghitung hutang-hutangnya yang harus dibayar ke tetangga dan pedagang. Istri Lek terbaring lesu karena tbc-nya semakin parah. Dua anak Lek mencret-mencret sebab sepekan ini perut mereka tak diisi makanan yang teratur. Seorang lagi demam, setelah berhari-hari disiram panas menyengat.

Sekarang Lek lupa, untuk apa patung mereka dibangun di lapangan bola kaki itu.

---sekian---