BPJS Bergelar Jaminan Sosial Terbesar di Dunia

30 Agustus 2015 23:56:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
BPJS Bergelar Jaminan Sosial Terbesar di Dunia

 

sumber gambar : www.sayangi.com

Sudahkah Anda memegang kartu BPJS Kesehatan? Inilah kartu sakti yang akan melindungi Anda dari biaya pengobatan mahal yang selama ini Anda rasakan. BPJS di masa ini ibarat payung sehingga jika sewaktu-waktu terjadi hujan rintik-rintik hingga badai, Anda akan terlindungi. BPJS akan memberikan jaminan perlindungan biaya kesehatan untuk Anda, mulai dari penyakit ringan hingga berat.

Tak hanya perlindungan kesehatan, BPJS juga bergerak melindungi para pekerja di Indonesia dengan menerbitkan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan ini bertanggungjawab kepada Presiden untuk memberikan perlindungan kepada seluruh pekerja Indonesia baik sektor formal maupun informal dan orang asing yang bekerja di Indonesia sekurang-kurangnya 6 bulan. BPJS Ketenagakerjaan meliputi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP).

Tanggal 1 Januari 2014, PT. Askes telah bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan dan PT. Jamsostek telah bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Sejak kemunculannya, jaminan kesehatan BPJS banyak diburu masyarakat karena iuran yang super murah jika dibandingkan dengan asuransi swasta. Bahkan per 24 Juli 2015 ini, peserta BPJS mencapai 149.172.165 kepala sehingga tak heran jika produk pemerintah ini bergelar sebagai Jaminan Sosial Terbesar di Dunia. Ini sangat beralasan karena BPJS memang berdiri sebagai payung kesehatan yang memiliki banyak keunggulan, diantaranya iurannya murah, manfaat lengkap tanpa embel-embel syarat pre-exisiting condition (kondisi penyakit sebelumnya), tanpa medical check-up dan tanpa ada batasan plafond. Dengan keunggulannya ini, semua tagihan rumah sakit akan dicover oleh BPJS selama Anda mengikuti prosedur. Tentu saja ini adalah sebuah fakta yang hampir berlawanan dengan jasa asuransi kesehatan swasta, dimana tarif premi lebih mahal (biasanya minimal Rp.300.000,-), manfaat yang didapat terbatas rawat inap serta adanya batasan plafond.

Program BPJS memang sangat menguntungkan masyarakat karena dengan premi ringan, peserta dapat merasakan manfaat yang sebesar-besarnya. Andaikata peserta hanya bayar iuran untuk fasilitas kelas III sekitar Rp. 25.500,-, saat ia divonis harus cuci darah tiga kali seminggu dimana biaya tiap cuci darah mencapai Rp.800.000 ataupun saat seseorang harus operasi jantung atau menderita penyakit berat lainnya yang memakan biaya hingga ratusan juta rupiah, BPJS akan tetap menanggungnya bahkan seumur hidup.

Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 mengatakan bahwa kepesertaan BPJS Kesehatan terdiri atas dua kelompok, yaitu peserta penerima bantuan iuran (PBI) dan peserta bukan PBI. Peserta PBI adalah masyarakat yang tergolong miskin sehingga premi per bulannya akan ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang bukan PBI terdiri dari pekerja penerima upah (pegawai negeri sipil, anggota TNI/Polri, pejabat negara, pegawai pemerintah non-pegawai negeri, dan pegawai swasta). Dengan melihat segala keunggulan fasilitas yang diberikan BPJS, tak ada salahnya jika kita memberikan apresiasi kepada pemerintah atas perjuangannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kecil dengan biaya pengobatan gratis.

MASALAH BPJS DALAM 1 TAHUN KERJA

Pasal 14-18 UU BPJS mewajibkan semua penduduk Indonesia yang memenuhi persyaratan program jaminan sosial untuk mendaftarkan diri dan keluarganya sebagai peserta BPJS. Ini adalah wajib sehingga bagi mereka yang memenuhi syarat namun tak mendaftarkan diri akan diancam dengan sanksi administratif. Oleh karenanya, sejak awal tahun 2014 dimana BPJS mulai beroperasi, jangan heran jika masyarakat harus mengantri panjang jika ingin menjadi peserta BPJS. Di Yogyakarta sendiri, tempat saya berdomisili, kantor BPJS selalu dipadati oleh warga bahkan mulai dari jam 5 pagi. Jika datang lebih siang, dipastikan warga akan merasakan antrian yang sangat panjang dan akan memakan waktu seharian untuk mengurusnya. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia memang merasakan bahwa biaya berobat sangatlah mahal, terutama bagi mereka yang berasal dari golongan menengah ke bawah sehingga program BPJS ini benar-benar menjadi oase di padang gurun yang akan meringankan beban hidup mereka, terutama dibiayai saat mereka sakit.

Bagi pemerintah sendiri, terbukanya sikap masyarakat terhadap BPJS merupakan penyemangat untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Tapi ternyata ada hal yang perlu dievaluasi oleh BPJS selama lebih dari 1 tahun bekerja ini. Di tahun pertama, BPJS Kesehatan telah menanggung biaya pengobatan untuk 90,2 juta warga. Dalam masa transisi ini, sangat banyak warga yang sakit dan akhirnya datang ke rumah sakit untuk berobat. Bahkan penyakitnya pun tak hanya tunggal melainkan banyak yang menderita komplikasi sehingga butuh penanganan yang cepat dan tentunya biaya yang mahal. Disinilah BPJS bekerja untuk meringankan beban masyarakat dengan mengcover biaya pengobatan asal pasien mengikuti prosedur.

Besarnya biaya yang ditanggung, di tahun pertamanya BPJS mengalami kerugian hingga lebih dari 5 triliun rupiah. Inilah biaya pengobatan yang sangat besar. Agar masalah tak berlarut, menjadi PR bagi pemerintah untuk mengevaluasi masalahnya, cari penyebabnya dan  temukan solusinya. Semoga ini hanya terjadi di tahun pertama dan kedepannya, total iuran per bulan dari peserta dan pengeluaran untuk membiayai pengobatan bisa berjalan seimbang, bahkan masih ada sisa dana untuk cadangan.

TANTANGAN BPJS SAAT INI

BPJS yang kini bergelar sebagai jaminan sosial terbesar di dunia harus terus melakukan perbaikan dalam hal pelayanannya kepada masyarakat. Telah sukses memberikan bantuan dana pengobatan gratis untuk seluruh masyarakat, berbagai fasilitasnya tentu juga harus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan lebih maksimal. Sebagai alternatif solusinya, BPJS dapat melakukan berbagai revolusi (pembenahan) sebagai berikut :

1. Menambah Fasilitas Kesehatan

Dalam satu tahun kinerjanya, BPJS belum melengkapi fasilitas kesehatan secara memadai. Di tahun 2016 ditargetkan untuk memenuhinya hingga 5%. Saat ini pemerintah baru mampu memenuhi 2,5 %. Oleh karenanya, Menteri Kesehatan harus memiliki target untuk mengatasi berbagai masalah terkait fasilitas kesehatan bagi peserta BPJS, diantaranya : antrian panjang di rumah sakit, kesulitan mendapatkan kamar rawat inap karena sering penuh, obat-obatan yang tidak dijamin oleh BPJS sehingga peserta harus membayar sendiri dan juga kewajiban membayar kelebihan plafond agar rumah sakit melayani. Dengan lonjakan peserta BPJS karena dipicu kewajiban untuk ikut dan iuran yang murah maka BPJS juga harus meningkatkan ketersediaan kamar dan tenaga medis di rumah sakit agar peserta BPJS mendapatkan fasilitas yang lebih baik.

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama BPJS (sumber : Kompasiana Nagkring Bersama BPJS)

Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan BPJS (sumber : Kompasiana Nagkring Bersama BPJS)

2. Sosialisasi ‘Manfaat BPJS’ untuk masyarakat yang belum tahu

Hingga saat ini, masih ada masyarakat yang berpikir negatif tentang program BPJS atau dengan kata lain menganggap BPJS sebagai program yang tidak menguntungkan. Mereka justru merasa dirugikan karena harus membayar iuran per bulannya. Bagi yang tak terbiasa untuk mengikuti program asuransi kesehatan dan belum mengetahui manfaatnya, mungkin menganggap iuran BPJS sebagai kewajiban yang memberatkan. Namun bagi mereka yang sudah tahu manfaat BPJS, yaitu biaya pengobatan saat sakit akan ditanggung, membayar iuran yang tergolong murah ini tentu takkan menjadi masalah karena keuntungan yang didapat jauh lebih besar. Oleh karenanya, sosialisasi lebih detail sangat dibutuhkan agar masyarakat Indonesia secara merata dapat mengenal dan menjadi peserta BPJS dalam waktu dekat.

3. Mempercepat Target Kepesertaan BPJS

Pemerintah merencanakan bahwa seluruh warga Indonesia, termasuk warga asing yang sudah menetap dan bekerja di Indonesia ditargetkan untuk menjadi peserta BPJS secara bertahap dengan batas maksimal di tahun 2019. Sepertinya rencana ini harus dipercepat karena melihat antusias masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS sejak Januari 2014, tak ada salahnya merevisi soal target kepesertaan BPJS. Misal di tahun 2017 semua warga Indonesia harus terdaftar sebagai peserta BPJS.  Bagi BPJS sendiri, target kepesertaan yang dipercepat akan menambah penerimaan iuran sehingga kemungkinan dapat dijadikan sebagai penutup total dana penerimaan BPJS untuk membiayai pengobatan masyarakat. Ini sangat bisa dijadikan alternatif solusi agar defisit 5 Triliun tahun pertama tak terjadi ditahun-tahun berikutnya.

4. Menambah Jumlah Kantor dan Karyawan BPJS

Jaringan Kantor BPJS di Indonesia (sumber : Kompasiana Nagkring Bersama BPJS)

Pelayanan BPJS harus dikembangkan dari waktu ke waktu, termasuk dalam hal penyediaan SDMnya. Untuk menangani masalah yang makin kompleks dalam melayani masyarakat serta sebagai cadangan jika pendaftar peserta BPJS membludak, BPJS diharapkan merekrut banyak karyawan baru agar kerja dan pelayanannya lebih optimal. Bagaimanapun, kepuasan masyarakat harus diprioritaskan. Hingga Juli 2015 jumlah pegawai tetap BPJS Kesehatan berjumlah 6.274 orang dan hampir 2000 kantor BPJS yang tersebar di Indonesia.

5. Mengusahakan agar semua dokter, klinik dan rumah sakit di Indonesia bekerjasama dengan BPJS

Tak seperti layanan Askes yang bisa memilih semua rumah sakit untuk mendapat pelayanan, peserta BPJS hanya bisa berobat di rumah sakit yang sudah kerjasama dengan BPJS. Tentu ini sedikit menyulitkan masyarakat karena bisa jadi dokter atau rumah sakit langganan keluarga mereka belum bekerjasama dengan BPJS sehingga mereka masih tetap mengeluarkan uang untuk berobat walau sudah memegang kartu BPJS. Jika BPJS bisa mengusahakan hal ini, dipastikan masyarakat akan lebih nyaman dalam memanfaatkan fasilitas BPJS untuk mengcover biaya pengobatan mereka.

6. Kebijakan Untuk Memangkas Proses yang Panjang

Sejak BPJS beroperasi, beberapa masyarakat mengeluhkan proses berjenjang yang harus dilewati untuk mendapatkan fasilitas BPJS secara maksimal saat hendak berobat. Jika kedepannya proses dapat dipangkas lebih efektif dan BPJS sudah bekerjasama dengan semua rumah sakit, klinik ataupun dokter, mungkin perintah rujukan takkan lagi ada. Jadi, setiap masyarakat yang ingin berobat dengan kartu BPJS bisa mempersingkat waktu sehingga pemegang kartu BPJS dapat langsung datang ke dokter, klinik atau rumah sakit langganan mereka.

7.Kartu BPJS tetap aktif walau sedang di luar kota

Peraturan saat ini, bagi peserta BPJS yang ada di luar kota tak bisa memanfaatkan kartu BPJS untuk berobat karena mereka harus terlebih dahulu ke faskes I yang sudah ditunjuk. Oleh karenanya, semoga kedepannya hal ini bisa segera dievaluasi oleh pemerintah karena yang namanya sakit datangnya tiba-tiba tanpa bisa diprediksi sehingga dimanapun berada, asalkan masih ada di wilayah Indonesia, para pemegang kartu BPJS dapat tetap memanfaatkannya tanpa ada batasan tertentu.

JANGAN TUNGGU SAMPAI SAKIT, PENGALAMAN KELUARGA SAYA SAAT DILINDUNGI BPJS

Sekalipun BPJS harus melakukan banyak evaluasi (seperti tujuh point di atas) setelah tahun pertama bekerja namun kita patut memberikan jempol untuk seluruh kru dan karyawan BPJS di Indonesia serta seluruh Faskes yang bekerjasama karena telah bersungguh-sungguh meringankan beban masyarakat dengan memberikan fasilitas pengobatan gratis untuk seluruh masyarakat secara merata. Bagi Anda yang belum terdaftar, cepatlah mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS untuk mendapatkan manfaat besar dalam hal kesehatan. Daftarkan seluruh keluarga Anda dan informasikan manfaat BPJS kepada sanak saudara dan semua orang yang Anda kenal agar mereka yang belum mendaftar segera memiliki kartu BPJS dan merasakan fasilitasnya. Dengan melakukan hal ini, Anda telah berpartisipasi dalam program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dengan fasilitas jaminan sosial BPJS yang saat ini telah menjadi jaminan sosial nomor satu di dunia.

Jumlah Peserta BPJS per 24 Juli 2015 (sumber : Kompasiana Nagkring Bersama BPJS)

Jangan tunggu sampai sakit baru Anda jungkir balik memanfaatkan kesempatan untuk membuat kartu BPJS. Lebih baik sedia payung sebelum hujan alias sedia kartu BPJS sebelum Anda sakit. Mengapa demikian? Karena ini akan mempermudah Anda dan keluarga untuk mendapatkan biaya pengobatan gratis sehingga akan sangat mengurangi beban Anda. Saat kita terserang penyakit, tentu kepanikan akan datang apalagi jika (maaf), penyakitnya darurat dan kritis yang membutuhkan biaya sangat mahal. Dalam keadaan panik, beban Anda akan meningkat ketika harus lari kesana-kesini untuk mendaftar BPJS. Jadi, sekali lagi, dalam keadaan sehat seperti saat ini, luangkan waktu 1-2 hari untuk mendaftar BPJS agar kehidupan Anda kedepannya lebih aman dan nyaman.

Saya sendiri memiliki beberapa pengalaman terkait dengan betapa pentingnya BPJS bagi keluarga saya beberapa waktu ini. Berikut ceritanya : 

PERTAMA, pengalaman ini dialami oleh keluarga om saya (adiknya Ibu). Beberapa waktu lalu, tante saya sakit dan berkali-kali harus keluar masuk rumah sakit karena menderita penyakit tumor otak stadium akhir. Saat itu ditanya oleh petugas pendaftaran di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta, “Mau pakai kartu BPJS atau tidak pak?” Om saya mengatakan bahwa ia belum memiliki kartu BPJS. Rumah sakit tersebut menyarankan agar om saya segera membuat kartu BPJS untuk mengurangi beban biaya rumah sakit yang diprediksi membengkak. Akhirnya, om saya kelimpungan cari info sana sini, mengumpulkan persyaratan dadakan untuk membuatkan kartu BPJS untuk mereka sekeluarga. Setelah 1 minggu, kartu pun dapat digunakan. Dan syukurlah, beberapa hari dirawat di rumah sakit tersebut, om saya bebas biaya rumah sakit yang seharusnya mencapai puluhan juta rupiah, kecuali menambah sedikit biaya karena menaikkan kelas kamar rawat inap agar lebih nyaman. Hal yang kami syukuri bahwa rumah sakit swasta tersebut sungguh membantu kami dengan mau merekomendasikan program BPJS dan memberikan kebijakan untuk menunggu kartu BPJS tersebut selesai dibuat agar perhitungan biaya berobat oleh BPJS dapat tercover maksimal. Dan untuk BPJS sendiri, saya sangat mengapresiasi karena dalam kondisi terpuruk dan lemah, dengan kartu ajaib BPJS menjadikan om saya bisa berkurang bebannya dan tak perlu memikirkan biaya berobat lagi.  

KEDUA, pengalaman datang dari ibu saya sendiri yang kini didiagnosa dokter menderita penyakit Diabetes kering. Syukurlah kami sudah memiliki kartu BPJS sehingga tak perlu khawatir lagi tentang biaya pengobatan yang mahal. Bayangkan saja, berapa ratus ribu yang harus kami keluarkan untuk sekali datang berobat, apalagi ibu saya memang harus rutin mengunjungi dokter setiap bulan untuk cek gula darahnya dan kestabilan tubuhnya. Obat-obatannya pun sangat banyak karena pengidap diabetes memang harus aktif menurunkan gula darahnya dengan obat-obatan, disamping pengobatan alami. Oleh karenanya, dengan program BPJS ini, keluarga kami merasa sangat terlindungi jika sewaktu-waktu sakit dan harus berobat ke dokter.

KETIGA, pengalaman sepupu saya yang mengalami gangguan di otaknya sehingga seringkali menyebabkan pusing dan ketidakseimbangan tubuh saat beraktivitas. Sejak 3 tahun lalu, setiap bulannya ia harus mengkonsumsi semacam suplemen atau obat untuk menyeimbangkan kepalanya dimana harga obatnya lumayan mahal, yaitu mencapai Rp.650.000,-. Namun dengan memanfaatkan kartu BPJS, sepupu saya kini tak perlu mengeluarkan uang sebesar itu karena biaya tersebut 100% ditanggung oleh BPJS per bulannya. Luar biasa, BPJS memang sangat meringankan beban biaya pengobatan untuk seluruh masyarakat. 

***

Masih banyak lagi pengalaman keluarga kami lainnya tentang manfaat BPJS yang terbukti telah meringankan biaya pengobatan kami saat sakit. Tentu saja, kita semua selalu berdoa untuk diberikan kesehatan dimanapun berada. Namun yang namanya sakit, tak ada yang bisa melawannya. Ketika sakit ya harus diobati. Jika tak diobati, penyakit akan makin parah bahkan mengancam keselamatan jiwa. Oleh karenanya, BPJS hadir untuk melindungi kita semua dan meninggalkan istilah lama yang sering menjadi sindirian bagi pemerintah “Orang Miskin Dilarang Sakit”. Sindiran ini sangatlah bermakna karena kenyataannya, di masa lalu memang banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan tak memiliki biaya berobat ke dokter atau pun rumah sakit. Akhirnya, nyawa melayang karena kondisi yang memprihatinkan.

Oleh karenanya, BPJS hadir untuk melindungi kesehatan masyarakat, termasuk mengubah nasib masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai. Bahkan seperti yang telah diinfokan di atas, masyarakat miskin dibebaskan iuran BPJS per bulannya karena akan ditanggung pemerintah. Semoga kedepannya, kesehatan masyarakat akan meningkat dan menekan angka kematian akibat ketidakberdayaan ekonomi. Semoga BPJS sendiri selalu melakukan inovasi produk dan pelayanan dari waktu ke waktu serta memberikan kemudahan proses pemanfaatan fasilitasnya tanpa proses yang panjang. Untuk dana yang dikelola BPJS semoga semakin meningkat dan memadai untuk menyalurkan biaya pengobatan dari waktu ke waktu sehingga tak perlu lagi merasakan defisit seperti di tahun pertama. Kita harus yakin, BPJS benar-benar berkembang dan melakukan inovasi disegala aspek sehingga negara lain pun dapat mengakui bahwa BPJS memang pantas disebut sebagai jaminan sosial terbesar di dunia.

Riana Dewie

 

 

Sumber Referensi :

http://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/
http://hamizann.blogspot.com
https://arihdyacaesar.wordpress.com

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana