HIGHLIGHT

Jadilah Penulis, Er..

06 Juni 2013 15:08:07 Dibaca :
Jadilah Penulis, Er..
-

Bangsat. Kemana buku-bukuku? Kemana koleksi novel Pramoedya Ananta Toer yang kubeli dengan susah payah itu? Kemana pula koleksi kumpulan sajak W.S. Rendra bersampul merah? Poster. Poster Chairil Anwar? Poster Che Guevara? Bahkan fotoku dipuncak Lawu saat sunrise juga hilang. Maling anjing! Siapapun dia kubunuh.

“Bu..Ibu..kamarku kemalingan..!!”, aku teriak berjalan ke dapur.

Huuss..!! Ngawur kamu. Jangan aneh-aneh aahh..”

“Ibu ki ngeyel. Itu barang-barang di kamarku, buku-buku sastra, novel, kumpulan sajak pada kemana? Lalu poster-posterku? Tadi pagi ma…”

“Sudah ayah buang.”, ayah memotongku dengan suara beratnya. Dingin.

“Kembalikan.”, kutatap bola matanya yang diselimuti asap tembakau dan cengkeh.

“Ambil sendiri di belakang rumah.”

Aku segera berlari ke halaman belakang rumah yang ditumbuhi rumput hijau yang selalu dicukur rapi oleh Pakdhe Tarjo. Aku bergetar, hampir menangis. Semua buku dan posterku telah jadi abu sekarang. Semua benda-benda kesayangan yang kudapatkan dengan uangku sendiri kini telah jadi debu hitam keabu-abuan yang ditiup angin di bawah pohon mangga tempatku dulu bermain sewaktu kecil.

Aku tidak mau menangisinya. Setidaknya tidak di depan seorang bangsat yang selama ini terpaksa kupanggil ayah. Aku berjalan kesetanan ke dapur, mengambil toples kosong dari kaca, lalu kumasukkan abu itu ke dalamnya. Biarlah walaupun yang tersisa hanya abunya saja, yang jelas aku tidak akan meninggalkan mereka.

Heh, mau kemana kamu?! Baru berapa menit sampai rumah sudah mau pergi lagi.”, lelaki tua itu menghardikku yang tengah menalikan tali sepatu gunungku dengan tas carrier tergendong mantab di punggung. Buat apa kujawab, lagipula jawabanku tak pernah bisa memuaskan nafsu dan gengsinya.

Le, kamu mau kemana? Ini sudah hampir maghrib, mendung lagi. Istirahatlah dulu, ibu kangen sama kamu.”

“Er juga kangen sama ibu. Tapi maaf, Bu..Er gak kangen sama rumah ini.”.

Kustarter motorku, melaju saat gerimis dari langit mulai baku hantam dengan bumi. Yang terakhir kulihat ibuku terduduk lemas di lantai, menangis. Dan si lelaki tua tetap pongah dengan kreteknya, tak menghiraukan aku atau bahkan istrinya.

Aku harus mengambil langkah ini. Aku tahu resikonya sangat besar meninggalkan rumah dan keluarga yang telah kunaungi puluhan tahun. Tapi inilah puncak kekesalanku, ujung kemarahanku, akhir penantian dan kesabaran yang coba kupaksakan. Aku harus pergi.

Selama ini hidupku tak pernah kekurangan. Mau makan, segala jenis makanan ada, tinggal sebut. Mau gadget paling baru, tinggal bilang. Mau mobil paling mahal, tinggal minta. Bahkan kalau mau dengan sedikit rengekan bisa saja aku minta disediakan lima orang pelacur kelas bintang lima tiap harinya. Tapi itu semua ternyata tidak gratis. Semua yang tersedia dalam hidupku di rumah itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal : kebebasan memilih.

Sejak SMA aku suka menulis. Menulis apa saja, fiksi ataupun non fiksi, cerpen, puisi, sajak, kritik, opini, dongeng, cerbung, naskah drama, lirik lagu, dan dengan sedikit kemampuan sketsaku kadang aku membuat cerita bergambar untuk kemudian kuberikan pada anak-anak yang kurang beruntung di kolong-kolong jembatan. Aku ingin menjadi penulis, pengarang, penyair, penulis skenario, atau apa sajalah yang penting berhubungan dengan dunia tulis menulis. Dan cita-cita itu sudah mulai kuperjuangkan sejak aku SMA. Tak ada waktu luang untuk tidak menulis. Dan tak ada penyesalan serta rasa malu ketika tulisanku dianggap remeh orang. Kelas 3 SMA perjuanganku mulai menunjukkan hasil. Salah satu koran lokal menyukai tulisan-tulisanku tentang kritik sosial dan politik yang kusampaikan melalui parodi pewayangan. Si pemimpin redaksi bilang tulisanku bisa disandingkan dengan Wayang Durangpo bikinan Sujiwo Tejo. Akhirnya aku diterima sebagai salah satu kolumnis, mengisi tempat kosong di koran itu dengan kritik-kritik pedasku, sampai sekarang. Yah, paling tidak bisa kutabung untuk membeli buku bacaan atau sekedar membelikan es krim untuk gadis yang mau kuajak diskusi tentang politik atau sastra.

Namun ayahku dengan sombongnya, dengan arogannya, dengan egoisnya menentang habis-habisan hobi dan cita-citaku itu. Bahkan aku membeli formulir pendaftaran tes SNMPTN dengan uangku sendiri karena ayah tak mau membiayaiku cuma gara-gara aku memilih jurusan sastra, sedangkan pilihan kedua jurusan ilmu politik. Itupun akhirnya disabotase olehnya. Saat hari tes SNMPTN aku dikurung di dalam kamar. Hasilnya aku didaftarkan di Fakultas Kedokteran lewat jalur swadana, jalur yang kuanggap menjijikkan, jalur perlombaan kekayaan dan jumlah uang sumbangan. Dan jadilah aku, seorang yang bercita-cita menjadi penulis bersekolah di fakultas kedokteran.

Selama ini ibukulah yang membuat aku terus bersabar, terus menuruti perintah ayahku walaupun sebenarnya ingin sekali berontak. Suara dan tuturnya yang lembut selalu menggelegar di hati ini. Kujamin tak ada seorangpun yang tak luluh mendengar tiap nasehatnya, bahkan seorang bencoleng sekalipun. Tentu saja hal itu tidak berlaku bagi si Pongah Berbibir Hitam yang terpaksa kupanggil ayah itu.

Kuliah menjadi hal memuakkan bagiku. Aku lebih sering membolos, pergi ke perpustakaan untuk membaca, pergi ke kantin untuk menulis, atau sekedar mendaki bukit kecil di belakang kampusku lalu termenung berjam-jam di atasnya. Saat turun berjuta ide dan inspirasi sudah tak sabar ingin dituliskan. Terlebih lagi aku ikut mapala di fakultas, jadilah acara naik-naik ke puncak gunung lebih kuprioritaskan daripada kuliahku. Nilai jelek? Persetan. Toh aku tak bercita-cita jadi dokter yang baik. Bahkan dokter bukan cita-citaku. Jadi dokter adalah cita-cita yang dipaksakan oleh ayahku. Dia bilang aku harus menjadi sepertinya.

Sudah hampir setahun lamanya aku meninggalkan rumah. Selama itu aku menumpang di rumah Pak Parjo, tukang parkir di kampusku. Dia bukan siapa-siapa, pendidikannya rendah, hartanya tak berlimpah, tapi aku suka dia. Dia seperti ayah bagiku. Sanggup menemaniku berjam-jam mengobrol, berdiskusi tentang apapun sambil minum kopi dan merokok. Dia pula yang selalu menjadi pembaca pertamax tulisan-tulisanku, kadang dicoretnya beberapa bagian untuk kuperbaiki.

Lagi nulis apa to, Le? Crita saru to?”, Pak Parjo duduk disampingku sambil menyalakan kreteknya.

Mboten, Pak..saya lagi bikin novel, ini sudah bab terakhir. Paling lambat besok harus sudah selesai, sudah ditanyain terus sama penerbitnya.”

“Kamu gak kangen biyungmu, Le?”

“Kangen, Pak.”

“Ya pulanglah kalau begitu.”

“Malas.”

“Kok?”

“Malas ketemu ayahku, Pak.”

“Hhhh..sudah setahun kamu tidak pulang, Le. Siapa tahu ayahmu sudah berubah sekarang.”

“Iya, Pak..kapan-kapan saya pulang.”

Aku kembali tenggelam dengan barisan alfabet di laptopku, sementara Pak Parjo memainkan asap rokoknya. Tapi mungkin benar juga kata Pak Parjo, siapa tahu ayahku sudah berubah, menyesal anak semata wayangnya minggat sampai setahun. Ah, kenapa aku ini? Tidak mungkin ayahku berubah, aku tahu benar sifatnya. Kalaupun dia menyesal pasti selama ini aku sudah dicarinya. Tapi sampai sekarang bahkan satu SMS saja tak pernah aku terima darinya. Akupun tak pernah menghubunginya, malas. Tiba-tiba wajah ibu berkelebat di benakku. Aku kangen ibuku, kangen suara lembutnya, rindu kalimat saktinya. Maafkan anakmu yang durhaka ini, Bu.

Eureka..!!! Pak Parjo, novelku wis dadi..!!! Pitungatus halaman pas..!!”, teriakku nyaring membuat Pak Parjo tersedak asap rokoknya.

Jancuk kon..!! garai kaget wae kon iki.”

“Hehehe..mohon mangap, Pak. Ya sudah aku ke penerbit dulu.”

Heehh..arek gendheng..! gak mandi dulu kamu?”

“Aaahh..mandi cuma buat dokter, sastrawan gak usah mandi.”, jawabku sambil keluar rumah.

“Lah? Kan kamu memang calon dokter? Edyaann..!!”

***

Sebulan sudah sejak novel perdanaku diterbitkan. Sold out. Cetakan pertama sebanyak 1000 eksemplar ludes dibeli orang cuma dalam jangka waktu seminggu saja. Cetakan kedua 2000 eksemplar juga habis tak bersisa. Dan sekarang cetakan ketiga sedang dalam proses distribusi ke berbagai toko buku. Tawaran talkshow baik on air maupun off air berkali-kali datang. Cita-citaku tercapai, menjadi penulis, meskipun belum bisa dibilang sastrawan.

+6281329031306

Le anakku sing bagus dhewe, ibu tadi liat kamu diwawancarai di Kompas TV. Kamu sudah jadi penulis, cita-citamu sudah tercapai. Sekarang pulanglah, Nak..ibu kangen sama kamu, ayahmu juga.

Received : 19:03:45 today

Sender : +6281329031306

Sebuah pesan singkat masuk ke handphoneku selepas aku sholat Isya’. SMS dari ibuku. Tapi dari mana ibu tahu nomor handphoneku? Selama ini aku tidak pernah memberi tahu nomor baruku pada keluargaku. Apa mungkin ini kerjaannya Pak Parjo?

Pak Parjo

Le, kamu dimana? Ini ibumu sekarang sedang dirumahku nggoleki kowe. Cepat pulang.

Received : 19:05:15 today

Sender : +6285645639876

SMS dari Pak Parjo menyusul kemudian. Ah, benar perkiraanku. ini pasti kerjaannya Pak Parjo memberi tahu keluargaku tentang keberadaanku. Segera kustarter motor dan kupacu pulang ke rumah Pak Parjo.

Sampai di halaman rumah Pak Parjo kulihat mobil ibuku terparkir di situ. Kuharap ibu tidak membawa serta ayah. Kuharap ibu hanya ditemani Pakdhe Tarjo saja.

“Assalamu’alaikum.”, aku masuk rumah Pak Parjo.

“Wa’alaikumsalam. Er..!”, ibuku menangis, menghambur ke arahku, memelukku erat. Sangat erat.

“Iya, Bu..ini Er. Ibu apa kabar?”, aku coba menahan air mataku tetap terbendung.

“Ibu baik-baik saja, Er. Ibu hanya kangen sama kamu. Kamu gimana? Kamu kelihatan lebih kurus. Kamu sakit?”

“Er sehat, Bu. Bahkan Er lebih sehat daripada ketika Er berada di rumah dulu. Setidaknya di sini jiwa Er sehat, sehat secara psikis.”

“Pulanglah, Le..ayahmu sakit. Sudah 3 minggu ayahmu dirawat di rumah sakit, stroke. Tiap malam dia memanggil-manggil namamu.”, ibu menangis. Begitupun aku, tumpah juga air mata ini.

“Er, pulanglah. Jenguk ayahmu. Dia pasti kangen sekali sama anak lanangnya. Kalau kamu belum menjenguk ayahmu, kamu tidak boleh tinggal di sini.”, Pak Parjo menimpali.

“Oke. Ayo, Bu..di rumah sakit mana?”, suaraku parau.

Dan aku bersama ibu ditemani Pakdhe Tarjo dan Pak Parjo segera menuju ke Rumah Sakit Bagas Waras. Sesampainya di sana kami langsung menuju kamar tempat ayah dirawat. Kulihat lelaki berbibir hitam yang dulu gempal kini tampak kurus. Selang oksigen bergelayut di lubang hidungnya. Beberapa kabel yang terhubung dengan perlengkapan medis menempel di badannya. Aku mendekatinya, diam sejenak tanpa kata.

“Er…”, ayah mencoba menggapai tanganku tapi tidak bisa karena terlalu lemah. Aku duduk disampingnya, kugenggam tangan kanannya yang sudah susah digerakkan itu.

“Ayah bangga sama kamu, Er…Ayah sudah salah selama ini memaksamu untuk jadi dokter. Ayah salah menganggap bahwa penulis bukan profesi yang menjanjikan. Maafkan ayah, Er.”

“Ayah gak salah. Er yang terlalu keras kepala, keras hati. Er yang gak bisa meyakinkan ayah. Ayah hanya melaksanakan tugas untuk menjadikan Er seorang anak yang berhasil. Tapi Er terlalu bebal untuk memahaminya.”, tak kutahan lagi tangis dan air mata ini.

“Er…”

“Ya?”

Be what you want to be…”, ayah memejamkan matanya. Tangannya terasa makin lemas di genggamanku. Kulihat dadanya berhenti naik turun, jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti bernafas. Kulihat sebuah benda mirip buku tebal di bawah bantalnya, kutarik. Novelku. Ayah baru selesai membaca separuhnya.

13705059001565778930
Farewell, Dad..(dok.pribadi)

Solo_06062013

Dear Mom, I miss You. But I don’t miss home. My life has a reason now. (Ernesto “Che” Guevara)

Surya Narendra

/rendra13

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Kapan kita akan melakukan revolusi, Kawan Bejo?
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?