PILIHAN HEADLINE

Fenomena Catcall, Perempuan Bukan Objek Lelucon!

19 April 2017 01:40:07 Diperbarui: 19 April 2017 05:42:08 Dibaca : 822 Komentar : 5 Nilai : 7 Durasi Baca :
Fenomena Catcall, Perempuan Bukan Objek Lelucon!
Sumber: www.mashable.com

Dua hari yang lalu seorang teman saya share mengenai catcalling. Terus terang saja, saya awalnya tidak tahu-menahu mengenai istilah ini. Jika diartikan begitu saja ke dalam bahasa Indonesia pun artinya agak aneh. Memanggil kucing. Apa yang menarik dengan pemanggilan kucing? Apa diluar sana ada dogcall, birdcall, frogcall, salamandercall, atau bahkan jengcall?

Rupanya bukan memanggil kucing atau kucing panggilan yang dimaksud. Catcalling merupakan tindakan berupa siulan, teriakan, sapaan, bahkan komentar yang bersifat menggoda dan tak enak untuk didengar serta menimbulkan perasaan tidak nyaman. Biasanya yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Jangan tanya pelakunya siapa ya.

Ketika seorang perempuan berjalan lalu ada seorang atau segerombolan laki-laki yang teriak menyapa “ceweekkk”, itu catcall. Ketika ada laki-laki asing yang teriak “hey cantik, senyumin kita dong” ketika perempuan lewat, itu catcall. Ketika ada laki-laki yang siul menggoda ketika perempuan lewat, itu catcall. Dan tentunya masih banyak perilaku-perilaku lain yang sering dialami kaum perempuan. Ini merupakan salah satu bentuk rasa tidak hormat kepada perempuan.

Keamanan dan kenyamanan kaum perempuan seringkali terganggu. Saat berjalan dari rumah ke warung misalnya, meskipun jaraknya dekat, tapi rasa was-was akan muncul ketika terpaksa harus melewati segerombolan laki-laki tak dikenal. Bahkan tidak sedikit yang berujung pada kekerasan seksual. Oiya, jangan pikir kekerasan seksual itu ‘hanya’ mengenai alat kelamin atau pemerkosaan ya. Ketika ada orang asing yang memukul pantat perempuan, itu termasuk kekerasan seksual. Jalan raya seringkali menjadi momok tersendiri bagi perempuan. Bahkan seorang teman pernah bercerita, ketika sedang berjalan sendirian tiba-tiba ada pengendara motor lewat dan memegang payudaranya. Alamak!

Baik catcall maupun kekerasan seksual, dapat menimbulkan efek negatif bagi si korban. Dibalik kegembiraan dan ketawa-ketiwi pelaku, bisa jadi korban mengalami trauma bahkan ketakutan berlebihan untuk bepergian. Hati-hati.

Lucunya, kegiatan catcall ini bukan hanya terjadi karena si korban mengenakan pakaian yang terbuka atau menunjukkan lekuk tubuhnya. Perempuan dengan pakaian tertutup pun tidak luput dari kejadian ini. Disamping itu, tidak hanya perempuan yang sedang sendirian yang jadi korban. Banyak kasus yang menimpa perempuan yang sedang bersama dengan teman-temannya. Lalu apa penyebabnya? Entah. Mungkin jenis kelamin adalah satu-satunya alasan paling masuk akal.

Untuk para catcallers, apa Anda pikir ketika Anda mengatakan kepada perempuan asing di jalan “Hey cantik, badanmu bagus” akan mendapatkan jawaban “Terima kasih, kamu juga tampan. Kapan kita kencan”? Atau mungkinkah ketika Anda bersiul untuk menggoda wanita yang kebetulan lewat di depan Anda, dia akan tersenyum manis kepada Anda dan seketika memberikan nomor ponselnya? Ah terlalu banyak mimpi sepertinya, coba diseka dulu liurnya sana!

Sekedar saran, untuk para catcallers, sebaiknya hilangkan kebiasaan seperti ini. Jangan anggap lelucon! Setiap perempuan yang keluar rumah, bukan berarti lantas menjadi bahan hiburan Anda. Ketika Anda bertemu dengan perempuan asing yang menarik, simpan semua pujian dalam hati. Tidak perlu disampaikan. Jika memang ingin disampaikan, sampaikan dalam doa. Siapa tau malah jadi berkah.

Jadilah laki-laki yang elegan. Dengan mengembangkan potensi diri, bersikap baik, bertutur kata sopan, ramah serta selalu menjaga kebersihan dan penampilan, akan membuat siapapun nyaman berada di dekat Anda. Bahkan bukan tidak mungkin malah perempuan yang akan menggoda Anda!

Tapi seiring berkembangnya jaman, ternyata ada juga yang merasa catcall ini bukan suatu ancaman. Bahkan ada yang menganggapnya pujian. Godaan dari orang asing itu justru mampu meningkatkan kepercayaan diri si kaum hawa. Mereka menganggap jika tidak ada yang menggoda, artinya cara berpakaian mereka kurang oke, bentuk tubuh mereka kurang bagus, atau riasannya kurang menarik. Ah, saya rasa ini hanya persepsi yang keliru saja.

Untuk para perempuan, ketika Anda menjadi korban catcall, Anda harus berani. Keluarkan pernyataan tegas seperti “Jangan kurang ajar ya!”, atau “Jangan macam-macam!”. Bisa juga Anda justru memberikan umpan balik kepada pelaku, dengan bertanya seperti “Maaf, Anda bilang apa tadi?”. Pernyataan dan pertanyaan diatas tentu harus disertai dengan tatapan yang tajam. Tunjukkan kalau Anda tidak gentar sedikitpun, meskipun mungkin jauh di dalam hati Anda sebenarnya muncul rasa takut. Jika Anda cukup tenang, cobalah ambil foto pelaku. Sebarkan di media sosial. Berikutnya mereka akan berpikir berulang kali sebelum menggoda Anda. Intinya, jangan mau direndahkan!

Sesungguhnya kesetaraan gender bukanlah topik utama dalam tulisan ini. Saya cenderung lebih berfokus pada etika. Bagaimana cara bersikap, bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan baik. Oiya jangan lupa, meskipun tidak ada bukti ilmiah, tapi karma tetap berlaku. Karma loh ya, bukan kurma. Kalau kurma sih manis, semanis kamu. Salam!


Oleh: Religius Perdana Purba

www.begadanger.blogspot.com

Religius Perdana

/religiusperdana

TERVERIFIKASI

Karena produktifitas tidak hanya dilihat dari kuantitas, tapi juga kualitas.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana