HIGHLIGHT

HAARP Project : Ambisi Menjadi Tuhan

29 Oktober 2009 14:21:00 Dibaca :

Googling rutin hari ini, aku menemukan sesuatu yang membuatku berpikir tentang hakekat hidup manusia dalam kehidupan. Mengapa manusia selalu melakukan riset dan inovasi yang katanya untuk kebaikan umat, tapi kemudian jadi berbelok arah dan digunakan untuk membunuh sesama.

HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program) Project, setahuku dulu meneliti cuaca dan bagaimana menyiasatinya untuk mengurangi efek bencana. Proyek di Alaska utara ini merupakan kerjasama Universitas Alaska dengan AU, AL Amerika dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Mereka meneliti penggunaan frekuensi ekstra rendah (ELF) untuk memodifikasi ionosfer, dimana cuaca dan iklim banyak berproses disini. Detailnya silakan buka di websetnya.

HAARP ini sudah dipatenkan dengan nomor 4,686,605 atas nama Bernard J. Eastlund, bisa dilihat disini. Menggunakan prinsip-prinsip Nikola Tesla yang semuanya bisa dibaca dari bukunya: Angel Don't Play this HAARP. Yang penasaran langsung aja ke Amazon deh.

HAARP ini ternyata bisa untuk membuat hujan, badai, kabut, gempa dan yang semacamnya dalam skala kecil. Saat ini sedang dikembangkan untuk bisa dibuat secara global. Dan kerakusan manusia telah membuat AU Amerika menargetkan tahun 2025, iklim dunia sudah ada di genggaman dan digunakan sebagai alat pertahanan. Atau dengan kata lain digunakan sebagai senjata militer untuk perang. Kalo perang sudah menggunakan alat bencana, apakah kita bisa tahu sasarannya militer atau sipil..? Tentang ini selengkapnya bisa dibaca disini.

Ingat kasus jembatan Golden Gate di San Fransisco jaman dulu yang ambruk gara gara angin yang mempunyai frekuensi yang sama dengan natural frequency nya jembatan. Ternyata HAARP disinyalir mampu untuk membangkitkan jenis gelombang yg lebih dahsyat , yaitu gelombang Scalar (Scalar Wave). Scalar Wave inilah yang dicurigai bisa memicu terjadinya gempa.

Yang lebih mengerikan lagi, selain untuk mendatangkan gempa atau banjir, HAARP ini ternyata dikembangkan sebagai mind control. Penelitian Dr Andrija Puharich di tahun 1956 terhadap kaum Yogi India tentang kemampuan telepati telah diteliti secara ilmiah. Telepati dan hipnotis ini ternyata hanya dengan cara mempengaruhi korban dengan frekuensi 8 Hz. Otak ternyata sangat rentan terhadap sinyal ELF ini. Ini yang dipelajari dan dikembangkan secara elektromagnetis.

Gelombang ini dapat dipancarkan ke ionosfer dan dipantulkan ke bumi dengan koordinat yang telah ditentukan untuk merubah mood bangsa yang jadi sasarannya. Mind control ini dapat dimanfaatkan untuk membuat manusia yang terkena radiasinya menjadi marah, sedih, frustasi atau perasaan lain yang dikehendaki secara perlahan tanpa menyadarinya. Gelombang bunuh diri massal yang pernah terjadi di beberapa negara beberapa waktu lalu, bisa jadi merupakan kelinci percobaan dari penelitian ini.

Percobaan menjadi Tuhan ini benar atau tidak, silakan kembali di pemikiran masing-masing. Semuanya sekedar wacana untuk menambah pengetahuan saja. Silakan baca-baca di webset sumbernya melalui link-link diatas.

by rawins

Eko Nugroho

/rawins

Cuma orang biasa yang suka berceloteh ga mutu di http://blog.rawins.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?