Humaniora

Orang Pinggiran

12 Juni 2017   21:22 Diperbarui: 12 Juni 2017   22:04 24 0 0


            Saya ingat pertamakali saya mendengar rencana sebuah perjalanan pra-pelepasan yang diadakan oleh sekolah; mungkin ini kira-kira berkisar selama beberapa, lebih tepatnya lima bulan yang lalu di hari Selasa ketika saya bersama seluruh anak murid dikumpul ke masjid yang kami punya—berbentuk amat kolosal dan megah jika dilihat dari sudutpandang bird’s eye, puncak gedungnya memiliki sebuah kubah berwarna kuning pudar kalau terpantul sinar matahari namun dalam kenyataannya hanya emas tua semata—di lantai satunya entah setelah sholat Ashar atau saat Istirahat. 

Agaknya di waktu Ashar; kami disuruh tunggu sebentar pada hari itu untuk mendengar pengumuman oleh seorang guru pimpinan mengenai acara perjalanan ini dan ia mengutarakan ada, kira-kira, dua tujuan kita bisa ambil—Malang atau Surabaya. Awalnya mereka setuju untuk memilih Surabaya, ini dari pilihan orang-orang elitis sekolah, namun ketika diminta pendapat para anak-anak saat itu, mereka tak mengangkat tangan untuk pilihan Surabaya melainkan yang sebaliknya; Malang. Kendati demikian tak ada yang tahu seperti apa agenda acaranya nanti.

            Ini dikasihtahu lagi kemudian. Entah tepatnya pada tanggal apa, kami dikumpulkan kembali di tempat yang sama; dua panitianya, sepasang guru yang saya kenal baik dan sempat mengajar saya, mengungkapkan isi acara secara abstrak; kami dijanjikan tempat tinggalnya dalam sebuah hotel, ada wacana pemuncakan Gunung, tamasya ‘memetik apel’, mengelilingi Museum Angkutan, segalamacam. Tanggal kita mulai berjalan di 12 Mei menumpangi kereta api kelas ekonomi. Sayangnya semua ini hancur di tangan mereka berdua serta organisasi traveling guide yang ikut bersama kami; sehingga saya tak mampu mengingat sedikitpun mengenai perjalanan selama tiga-empat hari itu, hanya sekedar gambarannya saja—agaknya akan mencegah Anda sekalian, para pembaca, untuk mendengar seperti apa kesalahan mereka karena semua orang tentunya pernah sekali bersalah dalam seumur hidup mereka.

 Dan perihal ini juga, saya selalu duga pribadi sampai sekarang, diakibatkan karmayang menimpa saya selama beberapahari itu; hari pulang ditunda sehari, tiga barang saya perlu jaga menghilang dan lebih menakjubkannya perlakuan saya dapat oleh para guru pendamping ketika mengetahui saya kehilangan sesuatu serta apa yang terjadi setelahnya. Tentunya saya akan merasa perjalanan itu tidak menyenangkan karena apa yang saya alami pribadi, tapi tak apa-apalah karena saya masih hidup sampai sekarang. Mungkin saya akan ceritakan di lain waktu.

            Baik, langsung ke poin yang ingin saya ceritakan disini.

            Kami tiba di Malang setelah menghabiskan semalam di kereta. Bus telah mengumpul untuk kelompok yang sama ketika kami berada di Jakarta; kami masuk, dan berjalanlah kemudian menuju…saya rasa dari sebuah tempat makan menuju masjid, namun saya tak tahu dengan pasti, kemungkinan sebaliknya. Jalanan Malang melintas di jendela berbeda sisi, berjejer sampai ke belakang menampakkan pemandangan buram, namun dari titik saya pribadi semuanya terlihat jelas; impresi awal saya jelas-jelas takjub memandang suasana sekitar mirip seperti Bandung, di beberapa titik terasa seperti di Medan. Ketika melewati semacam lapangan tandus, terpagari dengan rangkaian dinding tempat beradanya sejumlah pedagang kecil, saya melewati sebuah papan spanduk menarik. Bunyinya, saya parafrasekan, seperti ini—

            “Pemerintah Malang melarang para penduduk kota untuk memberi uang kepada pengemis atau orang miskin.”

            Saya ingat sempat tersenyum, entah karena apa. Saya tak sempat memotretnya; kalaupun begitu, Anda—Kompasianer sekalian, yang mungkin bekerja kecil-kecilan di Malang—akan bangkit dan membangkang kepada Pemda kota sana seperti Revolusi Oktober Rusia tahun 1910an silam dengan dua buah bukti nyata di tangan; sebuah foto, dan tulisan seorang pemuda yang bukan sama sekali revolusioner seperti Lenin.

Saya teringat suatukali; Orwell sempat menuliskan sebuah buku epitom kaum miskin di Inggris dan Prancis lewat ceritanya sendiri bergelandang—berjudul Down and Out in Paris and London—dimana ada semacam kontras antara kedua tempat ia sempat melakukannya; selama bagian pertama, ia menceritakan pengalamannya yang mampu mengambil sebuah pekerjaan dengan gaji kecil di sebuah restoran setelah ada seorang pencuri masuk ke apartemennya. 

Setelah tiap kejadian, ia mampu pergi ke London; namun sepanjang waktunya disana, ia tak mendapatkan pekerjaannya dan mulai benar-benar hidup sebagai seorang gelandangan; melewati hari demi hari di spike(istilah perpondokan disana untuk orang-orang tunawisma dan miskin) yang harus berganti setiap waktu, losmen penginapan dan rumah-rumah gubuk yang dimiliki oleh Salvation Army—sebuah gereja Protestan-Nasrani dan ormas amal internasional kini, tertata dalam struktur pseudo-militer.

            Keadaan ini lumayan sama dalam paralel jika disetarakan dengan negara kita sendiri; terutamanya jika ditepatkan ke kota Malang. Saya pikir begitu; karena aneh pula ketika kita memandangnya dengan Jakarta, tempat bersematnya kapitalisme, Malang lebih mengutamakan epitomnya yang lebih jelas pula dengan melarang pengemisan bagi orang miskin ketika prosesi itu sendiri terjadi di Jakarta. Sedangkan disini sendiri mereka digunakan untuk bahan komodifikasi oleh media, menurut kutipan sebuah buku saya sempat lihat di Instagram, dituju agar menampik rasa ‘keprihatinan’ untuk rating acara.

Pengemisan, maupun secara tidak asli (atau dengan cara diatur oleh para preman), adalah etos dari kaum miskin dan bagi rakyat sendiri, yang kita mampu lakukan hanyalah untuk memberi amal kepada mereka sebisa mungkin; ketika mereka sendiri bagian dari seluruh rakyat, salah satu orang didalam negara yang tercantum sebagai seorang penduduk walaupun tak secara resmi. Tak bisa kita menduga langsung untuk tujuan apa mereka menggunakan apa yang kita berikan maupun alasannya mengapa, begitujuga saya.

            Amerika, maupun dengan tingkat kemiskinannya yang rendah (sayangnya ini diketahui lewat cara Badan Sensus yang nampaknya salah), adalah sebuah contoh baik. Di titik-titik dikenal oleh pemerintahan memiliki pengangguran, jumlah penduduk yang bertunawisma dan miskin, ada ormas-ormas amal dan gereja terbentuk untuk membantu mereka semua secara jasmani maupun rohani. Di tempat kita hanya ada satu saja yang dapat dijamin dengan masukan tinggi karena memiliki marketingyang amat menyeluruh lewat pemasangan spanduk, segalamacam; yakni ACT.

Namun tentunya masih ada perjalanan panjang lagi untuk meraih titik terakhir, tak hanya dari Pencerahan saya sebutkan tadi saja; menyadari bahwa kita itu sama, walaupun itu dapat kita lakukan untuk sementara, sayangnya bukan oleh Gedung Istana maupun para pejabat bawahan Kabinet. Tapi tak apa-apalah, waktu itu uang, biarkan mereka melakukan pekerjaannya sendiri.