Mohon tunggu...
Rakyat Jelantah
Rakyat Jelantah Mohon Tunggu... -

Ketika manusia tidak peduli terhadap manusia lain, siapa yang peduli dengan manusia lainnya ? - Rakyat Jelantah

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih

Selamat Ulang Tahun Indonesia!

16 Agustus 2017   20:00 Diperbarui: 16 Agustus 2017   20:16 811
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://ahmadmushofihasan.wordpress.com/

Minggu lalu di Gereja tempat saya beribadah, sang Pendeta mengambil tema tentang ulang tahun Indonesia. Dalam khotbahnya sang Pendeta berbicara seperti ini,

"dulu para pejuang bangsa berjuang dengan senjata, darah dan nyawa untuk merebut kemerdekaan, sekarang kita tidak perlu seperti itu. Kita berjuang dengan kecerdasan dan semangat agar tidak tertinggal dengan bangsa asing."

Ya kurang lebih itu petikan kalimat khotbah sang Pendeta tempo hari, saya kurang ingat spesifiknya seperti apa, tapi kira -- kira seperti itu. Kalimat yang sebenarnya sudah kita dengar sejak upacara di bangku Sekolah Dasar, kurang lebih seperti kiat -- kiat cara mengerjakan soal ujian. Setiap tahun selalu diulang -- ulang. Para pelajar di Indonesia selalu dituntut untuk menjadi cerdas untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan yang sudah lebih dulu dilakukan oleh para pahlawan bangsa.

Para elit negara juga berucap demikian, tapi tidak diimbangi oleh perkembangan kemajuan infrastuktur pendidikan. Menurut data dari BPS tahun 2006, terdapat 2,5 juta anak putus sekolah, 900 ribu anak tidak lanjut di Sekolah Dasar dan 1,6 juta anak tidak lanjut di Sekolah Menengah Pertama.

   Angka yang sangat memalukan untuk negara yang cita -- cita para pendirinya sejak 72 tahun yang lalu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bahkan sampai tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Seharusnya merupakan sesuatu yang prioritas untuk dicapai oleh para elit negara.

Menurut data dari http://data.kemenkopmk.go.id/content/jumlah-sekolah-di-indonesia sekolah negeri di Indonesia jenjang SD sekitar 132ribu, SMP 15ribu dan SMA 4,5ribu. Melihat jumlahnya saja sudah mengherankan semakin tinggi jenjangnya semakin merosot jumlahnya, tidak mengherankan banyak anak yang putus sekolah. 1,6 juta anak tidak bisa bersekolah, karena apa ? sekolahnya tidak tersedia!

Bagaimana mau tersedia, menurut artikel Koran Republika http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/02/24/o3258y361-icw-korupsi-2015-telan-uang-negara-rp-31077-triliun , jumlah korupsi tahun 2016 mencapai 31.077 TRILIUN!Sepertinya sudah cukup untuk membangun sekolah bertaraf nasional plus, bahkan internasional di setiap kecamatan. Tidak perlu lagi ada gedung sekolah yang bocor, banjir bahkan tidak ada atap sekalipun. Semua guru bisa dibayar layak. Ini baru total korupsi tahun 2015 yang sudah dikasuskan, entah berapa rupiah yang sudah hilang sejak awal negara ini berdiri. Sepertinya orang -- orang kita sendiri yang tidak ingin bangsa ini berkembang. Kasus korupsi selalu menjadi headline utama surat kabar setiap minggunya, bahkan hari.

Pendidikan memang menjadi pilar utama bangsa, anak -- anak bangsa yang cerdas merupakan Sumber Daya yang sangat mahal untuk didapat, kita mempunyai penduduk yang sangat banyak, jika SDM dikelola dengan baik , para rakyat mendapat kesempatan untuk mengeyam pendidikan yang merata. Sangat mungkin kita menjadi negara adidaya. Tapi apadaya ini hanya cita -- cita pendiri bangsa, bukan cita -- cita elit negara. Berharap menjadi cita -- cita, terbesit dari pikiran mereka saja saya ragu.

Di negara kita selalu berisik tentang hal -- hal itu -- itu saja, korupsi, kasus ham, perbedaan latar belakang, dan saling sindir antar petinggi. Berisik hal -- hal yang tidak perlu, itu -- itu saja membuat kita jalan di tempat. Tidak salah apa yang pernah diucapkan Tan Malaka, Padi tumbuh tidak berisik.

Selama kita memperdebatkan dan berisik tentang hal -- hal itu saja berarti kita tidak sedang tumbuh.

Padi tumbuh tidak berisik -- Tan Malaka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun