HIGHLIGHT

Kehidupan Gay di Makassar (3)

14 Februari 2011 06:40:22 Dibaca :

Namanya Andri

Seperti biasa, pojok cafe menjadi labuhan ku untuk menjelajah dunia tanpa batas. Siang menjelang sore itu, tanpak biasa saja. Tiada poker hari ini. Tiada pula teman kampus yang ingin mengulang cerita tentang tugas dan kegilaan dimasa lalu, hingga menghabiskan waktu berjam-jam cerita ngidul kidul tak karuan.

Facebook tidak ada yang menarik untuk dikomentari. Gadis-gadis Ababil (ABG Labil) sudah bosan untuk saya ganggui. Setelah menatap langit-langit cafe yang memutar lagu fall for you-nya secondhad serenade saya teringat dengan facebook yang kemarin saya buat.

Setelah terbuka, ternyata pesan yang masuk sekitar 34 pesan dari orang yang berbeda-beda. Hampir semua mengucapkan terima kasih karena telah saya konfirmasi pertemanannya, tak sedikit pula diantara mereka yang langsung memberikan nomor telpon berharap suatu saat akan saya hubungi.

Semua biasa saja menurut saya. Kebetulan hari itu, saya lagi tidak semangat. Hubungan ku dengan Yani sedang dipersimpangan jalan. Gadis sekampus ku yang menjadi tautan hati selama hampir 4 tahun ini sedang dipertaruhkan waktu. Tiada gairah untuk mengisi rasa penasaran ku akan kehidupan gay. Facebook pun ku biarkan terbuka tanpa ingin mengutak atik.

Langit-langit cafe dan sesekali melihat dunia luar dari balik kaca, menjadi tautan pandangan kosong yang entah kemana tujunya. Saya benar-benar kosong saat itu. Tiada gairah. Sekuat apapun rasa ku untuk bangkit, sekuat itu pula bayangan Yani muncul dengan segala konsekwensi yang diperhadapkan.

Entah sudah berapa kali nafas panjang ini ku tarik mencoba menenangkan rasa. Tetap saja, waktu selanjutnya mengulang dan mengulang kegagalan menguatkan diri. "Keputusan ada ditangan mu, apakah ingin bertahan atau akhir semua ini sudah dekat," kata-kata Yani yang terus terulang dalam benak ku.

Kini ku disimpang jalan. Apakah memilih kanan atau kiri. Semua ada konsekwensinya. "Pasti akan ada pihak yan tidak iklas dengan salah satu putusan mu, tapi saya juga pihak yang harus menjadi prioritas mu," kata Yani dilain waktu yang terus berngiang dan semakin membuat ku kalut dalam pilihan.

Sudah dua bungkus Marlboro putih tergelatak kosong disata meja. Belum juga kutemukan jawaban akan pilihan yang harus ku tempuh.

Sesaat ingin mematikan si mini hitam kesayangku. Facebook yang sedari tadi diam menlongo tiba-tiba menerima chat dari seseorang. Tulisannya dalam pesan sungguh membuat kaget bukan kepalang.

"Jangan bingung dengan pilihan, semua ada jalannya" kata dia.

Sontar rasa kaget ku mencuat, karna orang ini seakan tahu apa yang kurasakan saat ini. kalut, gundah dan tak punya arah. Langsung saja kuladeni dia sebelum menutup mata dan melupakan semua. Awalnya saya ingin menghilangkan semua keinginan menjelajah kedunia gay ini, lantaran kisruh asmara yang melandaku tak kunjung usai.

Dia mengaku tahu saya punya masalah dari status yang saya posting tidak punya makna. Hanya deretan kompilasi angka, huruf dan simbol tanpa arti. Dalam hati saya berujar, "kayanya orang ini sakti, atau mungkin dia ini sikolog yang bisa tahu masalah seseorang dari status" tapi sudahlah benar juga kata dia. Semua punya jalannya masing-masing.

Keakraban kami makin hangat ketika sama-sama menceritakan kepribadian. Walau saya tidak menyebutkan secara gamblang siapa saya, dia cukup penasaran dan simpatik dengan kehidupan saya. Saya juga mengaku bukan gay apalgi waria dengannya. Tentu saya tidak menyebutkan kalau saya ini ingin mencaritahu kehidupan gay.

Singkat cerita, setelah bertukar foto dan nomor hp. Kami sepakat bertemu malam nanti pukul 9.00 wita didepan anjungan Losari. Ini kesempatan langka yang bisa saya gunakan mengorek informasi tentang kehidupan dunia gay. Berawal dari dia yang mengaku bernama Andri, pemuda berusia 22 tahun yang masih kuliah di Universitas Islan Negeri Makassar.

Kulupakan sejenak masalah ku dengan Yani yang mengikutkan kehidupan dua keluarga. Biarlah waktu yang akan menentukan pilihan dari ketidak pastian hidup. Sedikit rasa penasaran ku membuatkan hasil membangkitkan gairah menjelajah lagi.

Tiba juga waktunya untuk bertemu. Pesan singkat dari Andri masuk ke handphone buntut ku. Dia sudah dilokasi, saya dengan sergap mengaku 5 menit kemudian saya sudah akan disana. Dan setelah kucing-kucingan beberapa waktu mencari lokasi yang tepat akhirnya saya dan dia bertemu juga.

Jauh diluar dugaan saya, dia tidak nampak sedikit pun jika seorang gay. Perawakannya yang tinggi dengan berat ideal mengikuti tinggi badannya. Dia pasti akan menjadi playboy dan menjadi incaran wanita-wanita yang mendamba ketampanan wajahnya.

Dia tanpak kikuk ketika bertemu dengan saya. Bukan karena saya cakep atau keren, bahkan sebaliknya. Penampilan saya yang amburadul dengan ciri khas anak teknik yang membuatnya terperangah. Sejurus kemudian, suasana sudah bisa dikendalikan. Saya dan Andri memilih tempat yang pas untuk cerita.  Dan jatuhlah pilihan ke balleZZa sebagai tempat nongkrong kami malam itu.

"Kamu top apa bot?" tanyanya yang membuatku diam seribu bahasa. Bukan karena tidak tahu arti bahasa itu, tapi tidak tahu apa maksud top dan bot dalam dunia gay. Saya masih awam dan sama sekali belum tahu istilah-istilah yang mereka gunakan.

Tiba-tiba saya teringat dengan seorang teman penulis di Jakarta yang berkata kesaya beberapa waktu lalu. "Jika kamu ingin menjadi orang lain, maka jadilah orang lain secara utuh, jika ingin menjadi orang biasa, maka jadilah orang biasa secara utuh, maka kamu akan dapatkan satu cerita yang hidup yang bisa kamu gambarkan, masuki dunia yang kamu ingin ketahui, disana kamu akan menemukan satu kenyataan yang kamu lupakan"

Tanpa ragu lagi saya mengaku tidak tahu istilah itu. Dia pun dengan segera menjelaskan sebelum terlebih dahulu terkekeh melihat tingkah saya yang lugu. Orang-orang didalam cafe itu pun langsung melirik kami yang duduk di pojok. Saya pun dengan tingkah laku aneh berusaha mengambil alih suasana.

"Oke... oke.... jelaskan" desak ku.

Setelah terdiam beberapa saat dan sedikit menahan tawa geli dia pun menjelaskan.

"Jadi top itu yang diatas dan bot itu yang dibawah," terangnya sambil memainkan jari-jarinya mengacungkan telujuk untuk istilah top dan membuat lingkaran dengan ibu jarinya saat menyebut bot.

Hmmm... sedikit terbayang dibenak saya. Istilah top itu ibarat laki-laki dalam hubungan dengan lawan jenis dan bot itu si perempuannya. Baru saya tahu istilah ini. Cukup menarik sejauh ini.

Rasa penasaran saya pun akan dunia gay makin tinggi. Kulancarkan pertanyaan selanjutnya.

"Kamu sudah gay dari kecil atau kapan,?" tanya ku penasaran.

"Oke, kamu mau tau apa tentang dunia gay,?"

"Itu tadi, kamu jadi gay karna apa dan sejak kapan,?"

"Saya begini sejak SMU kelas dua, kira-kira 5 tahun yang lalu," jelasnya panjang lebar hingga waktu kami berbicara saat itu memakan waktu tiga jam. Banyak pertanyaan yang ku utarakan dan dengan sigap diapun menjawab tanpa sedikit pun menaruh curiga ke saya.

Selain membicarakan dirinya yang menjadi gay karena kakak kelasnya, dia juga banyak memberi tahukan saya tempat-tempat kumpulnya para gay di Makassar. Tempat-tempat keramaian yang luput dari kecurigaan masyarakat. Bahkan dia mengajarkan saya ciri-ciri seorang lelaki gay itu teperti apa, mulai dari pandangan matanya hingga bahasa tubuhnya.

"Dari penampilan mu, kamu bukan seorang gay," ujarnya mengaku pas ketemu tadi ke kikukan dirinya karena tidak menemukan ciri-ciri gay dalam diri saya.

Waktu berlalu, jam sudah menunjukan pukul 1.00 wita. Dan kami masih di dalam cafe yang ternyata tempat ngumpulnya gay di Makassar. Pantas saja sejak saya masuk sedari tadi, mata orang-orang tertuju ke saya semua, seakan saya ini orang asing yang datang dari luar angkasa.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? (To Be Continue)

------------------------------------------------------------------------------

Kehidupan Gay di Makassar (1)

Kehidupan Gay di Makassar (2)

Ancha Hardiansya

/rahardiansya

Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu, Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cepu, Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung, kuhasilkan taman, sawah dan kebun...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?