Kenali Passionmu, Itulah Bisnismu!

26 September 2015 17:50:41 Diperbarui: 27 September 2015 07:09:02 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Kenali Passionmu, Itulah Bisnismu!

Keterangan foto: Ki-ka: Rinda Guswita, Ignatius Leonardo, Fitri Kumala, Anggia Rahendra, Alicia Van Akker (berdiri), 5 dari 6 'Passionate finalist' saat acara ‘Kopdar Bebas Berbagi” #UnstoppableIndonesia di Kopitiam Tan – SCBD Lot 8, Jl. Jenderal Sudirman No. 52 – 53, Jakarta, pada Sabtu, 19 September 2015. (foto: Ganendra)

CANTIK. Gaya bicaranya meyakinkan. Tenang, percaya diri, dan enjoy berpadu dengan vocal yang lantang dan jelas. Usianya masih tergolong muda untuk ukuran seorang pebisnis sukses. Kesan karakter energik melekat kuat di pribadi perempuan yang berpenampilan sederhana dengan atasan hitam dan bawahan bermotif batik itu. Riasan wajah juga tak berlebihan. Namun terlihat tetap menarik. Setiap kalimat yang dituturkannya mengalir lancar dan berisi, menjelaskan tentang dunia yang digelutinya sekian lama. Dunia yang dibangun oleh passionnya di bidang public speaking. Perempuan itu sangat menguasai menu presentasinya.

Alicia Van Akker, nama yang terdengar keren, sekeren prestasinya bersama Rumah MC yang dibangunnya. Kiprah yang diawali karena hobi cuap-cuap dan menjadi MC itu, lalu kian merambah ke bisnis professional. Membuka lapangan kerja bagi banyak orang, serta menjadi wadah pembelajaran dunia MC bagi para peminatnya. Hingga rumah MC yang menaunginya mencapai status menjadi one stop service untuk public speaking di Indonesia. Pengguna jasanya bukan hanya konsumen di tanah air, namun merambah hingga ke mancanegara. Keren khan?

Keterengan foto: Alicia Van Akker sedang presentasi Rumah MC. (foto Ganendra)

Tak heran, Alicia bersama Rumah MC-nya terpilih menjadi pemenang pertama di ajang Passionate People 2015 #UnstoppableIndonesia yang digelar FWD Life. Pemenang diumumkan saat acara Kopdar Bebas Berbagi di Kopitiam Tan-SCBD Lot 8, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Sabtu, 19 September 2015. Rumah MC berhasil menyisihkan 5 passionate finalist (1 finalis tak hadir) lainnya itu dengan nilai akhir 880. Konsep yang original, sustainable dan innovation menjadi kemenangan yang membanggakan, mengingat para dewan juri yang hadir malam itu, cukup kredibel, diantaranya Founder Passionpreneur Academy Dedy Dahlan, CEO Brodo Footwear Yukka Harlanda, CFO FWD Life Paul Setio Kartono dan Indra Cahyo Uno selaku Komisaris PT Seratoga Investama Sedaya tbk.

Apa yang diraih Alicia Van Akker dan passionate finalist lainnya, yang masih berusia muda itu layak menjadi inspirasi tersendiri, khususnya bagi kalangan muda. Bahwa generasi muda ternyata tidak hanya bisa berhura-hura seperti banyak ditudingkan publik, namun juga mampu membangun prestasi yang bermanfaat untuk umum. Saya simpulkan para passionate finalist itu memberikan pelajaran soal pengembangan ‘passion’ yang menelurkan aksi di dunia bisnis yang bermanfaat untuk publik. Persis seperti dikatakan CFO FWD Life Paul Setio Kartono yang hadir di acara, bahwa ia meyakini pada anak muda, passion tak bisa di-stop. Dan anak-anak muda yang tampil malam itu, para passionate finalist itu patut diacungi jempol. ‘Aksi-aksi’ mereka dan sekian banyak anak-anak muda lainnya yang masuk ke FWD Life, layak menjadi ‘tamparan’ untuk memacu, menginspirasi dan mensuport agar lebih berkembang dan bisa bermanfaat lebih banyak untuk publik. FED Life sebagai lembaga asuransi kehidupan, sangat concern akan potensi dan passion yang ada dalam masyarakat. Catatan bagi saya pribadi, melihat presentasi mereka satu-persatu, sambil mengingat-ingat masa lalu, saya jadi bertanya, ”Apa yang ada di benak, waktu seumuran mereka yaaa?”

Malu? Mungkin iya, namun lebih baik semakin tersemangati dan terinspirasi oleh aksi-aksi cemerlang para passionate finalist. Apa saja sih aksi-aksi mereka yang dengan disiplin dan teguh mempertahankan pilihannya, membangun bisnis sesuai pasion yang dimiliki itu? Bagaimana mereka mampu menepis segala rintangan? Bagaimana pula imbas bagi lingkungan maupun public?

Nah saya siap berbagi aksi mereka, para anak muda yang inspiring banget. Ada Rinda Guswita, Ignatius Leonardo, Fitri Kumala, Anggia Rahendra, Alicia Van Akbar. Satu lagi passionate finalist yang berhalangan hadir adalah Clarisa Olivia, penggagas STAINNO, penghilang noda instan pertama dan satu-satunya di Asia yang menerapkan konsep ramah lingkungan.

Keterangan foto: Anggia Rahendra sedang presentasi PLUA. (foto Ganendra)

Presentasi pertama diberikan anak muda nan energik. Dengan vocal lantang dan jelas, Anggia Rahendra terlihat sangat percaya diri. Sosok yang menyukai  dunia informasi aplikasi masih berusia kisaran 23 tahun itu, menggeluti bidang aplikasi yang menjadi passionnya. Ia membangun perusahaan yang membuat aplikasi mendapatkan peluang, bernama PLUA. Apa yang dilakukan aplikasi PLUA?

PLUA merupakan aplikasi manajemen peluang, dengan menerapkan penyebaran informasi peluang berbasis aplikasi smartphone, tanpa spam. Aplikasi didukung dengan fitur Smart Planning untuk memberikan rekomendasi pelaksanaan event terbaik secara dinamis, dikemas dalam konsep gemification, seperti berburu hadiah, promo achievement dan lain-lain.

Latar belakang terciptanya PLUA sendiri menurut Anggia, bahwa untuk lebih menekan biaya marketing dan riset pasar, menekan ketergantungan pada kertas (karena memakai system aplikasi), dan meningkatkan produktifitas daya saing bangsa. Sementara model bisnisnya untuk awalnya/ Early adalah semua fitur free, tidak ada informasi spam, setiap pengguna dapat berkontribusi memberikan ide dan ada reward. Lebih lengkap lihat bahan presentasinya ini. Tentunya model bisnis tersebut akan dikembangkan dalam Plan. Ada Plan A dan Plan B. Misalnya Plan B menyebutkan bahwa semua fitur free, tambahan biaya jasa tiket online dikenakan di luar harga pokok tiket dan lain-lain. Hal yang menjadi tantangan adalah tingkat kepercayaan/ penggunaan online paymen di Indonesia masih rendah.

Keterangan foto: Sebagian model bisnis PLUA. (foto Ganendra)

Menyimak pemaparan Anggia mungkin menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan di masa datang. Terbukti Plua ini menjadi pemenang kedua dalam ajang #UnstoppableIndonesia yang digelar FWD Life. Patut dicatat sebagai inspirasi dari Anggia, simak filosofinya ini, "Kita hidup di era informasi artinya orang yang sukses tidak selalu milik orang-orang yang memiliki kualitas terbaik namun dapat mengakses informasi lebih baik dari yang lain". Cukup membuat kita merenung bukan?

Keterangan foto: Fitri Kumala sedang presentasi Starwannabe. (foto Ganendra)

Simak juga passionate finalist yang berkecimpung dalam bidang tarik suara. Passion menyanyi menjadikan Fitri Kumala menekuni bidang ini sekaligus mengembangkan dalam bisnis bersama STARWANNABE. Starwannabe hadir merespon tingginya animo publik untuk menjadi penyanyi professional. Oleh karena itulah Starwannabe mewadahi para talent di bidang vocal dan music. Para talent bisa belajar dan mengembangkan karir secara professional baik individu maupun kelompok. Lebih jauh, Starwannabe bukan hanya sebagai wadah untuk pengembangan bakat menyanyi, namun juga menyalurkan ke event-event yanga memutuhkan talent pengisi acara. Prestasi yang telah dikoleksi Starwannabe diantaranya menjadi 50 besar Asia’s got talent mewakili Indonesia pada 2015, jadi 10 besar AFI Jogja 2015, talent dalam pembuatan iklan perubahan logo JTV, serta talent dalam berbagai event lokal.

Keterangan foto: Alicia van Akker sedang presentasi Rumah MC. (foto Ganendra)

Alicia Van Akbar dengan Rumah MC, yang bergerak dan mewadahi agency MC, Academy MC, Komunitas MC, Komunitas Public Speaking, Majalah Public Speaking, Indonesia Public Speaking Festival. Awal membangun Rumah MC, menurut Alicia semakin sulitnya memperoleh MC yang berkualitas. Di satu sisi MC yang berkualitas juga kesulitan mencari job. Bagaikan botol ketemu tutup, saling membutuhkan, maka Rumah MC menjadi sarana mempertemukan MC dengan pengguna jasa dan sebaliknya. Untuk semakin memberikan skill/  keahlian, Rumah MC menyediakan program belajar di kelas maupun praktik menjadi trainee. Model bisnis Rumah MC, meliputi pembagian profit antara kedua belah pihak. Sebagai contoh lihat bahan presentasi Alicia di bawah ini.

Keterangan foto: Sebagian model bisnis Rumah MC. (foto Ganendra)

Saat ini konsumen/ pengguna jasa Rumah MC sudah menyebar di tanah air juga mancanegara. Target market meliputi corporate, pemerintahan, mall, hotel, embassy, kampus dan lain-lain.

Keterangan foto: Ignatius Leonardo sedang presentasi Kulit Kayu. (foto Ganendra)

Passinate finalist berikut agak berbeda. Seorang laki-laki yang menggeluti dunia kerajinan kulit kayu. Ignatius Leonardo dari KULIT KAYU. Berlatar belakang kecintaan pada lingkungan, menjadi latar belakang inspirasi Kulit Kayu. Oleh karenanya 100% ramah lingkungan ecofriendly tanpa harus menebang pohon. Kayu menjadi pilihan karena mempunyai tekstur yang unik dengan kualitas bahan yang kuat seperti kulit binatang. Ragam produknya meliputi dompet, tas, ransel, casing handphone dan tas organiser, aksesoris kendaraan dan perlengkapan sehari-hari. Tentang perencanaan keuangannya, Leonardo menjelaskan seperti bahan presentasinya di bawah ini.

Keterangan foto: Perencanaan keuangan KULIT KAYU. (foto Ganendra)

Keterangan foto: Rinda Gusvita sedang presentasi Starbooks Coffee. (foto Ganendra)

Simak juga passionate finalist yang berkecimpung mengembangkan social bisnis kopi, khususnya kopi lampung. Rinda Gusvita dengan Starbooks Coffee, memberdayakan petani kopi di Lampung melalui social bisnis. Starbooks Coffee memberikan solusi sociopreneurship untuk kopi Lampung yang produksinya naik, namun berhadapan dengan berbagai masalah. Dengan Starbooks Coffee mengangkat kopi Lampung untuk pasaran yang lebih luas dan produksi bisa berkelanjutan.

Keterangan foto: Clarissa Olivia salah satu passionate finalist yang berhalangan hadir. (foto Ganendra)

Satu passionate finalist yang berhalangan hadir, yakni Clarissa Olivia dengan Stainno-nya cukup memberikan inspirasi terkait dengan kesehatan. Stainno adalah penghilang noda instan yang menerapkan konsep ramah lingkungan. Stainno memanfaatkan sampah kulit pisang sebagai bahan baku dan menerapkan prinsip sustainabilitas.

*

Bisnis yang terbangun dari passion melahirkan ide cemerlang yang original, sustainable dan innovation, membawa jalan sukses bagi Alicia dan kawan-kawan passionate finalist lainnya. Nampaknya menjadi kunci dalam membangun bisnis dengan passion, “Kenali passion lalu melahirkan bisnis.”

Seperti dikatakan Paul Setio Kartono, ia meyakini bahwa anak muda, passion tak bisa di-stop. Berkaitan dengan itu, pengalaman unik dikisahkan oleh pembicara lainnya di ajang Kopdar Bebas Berbagi, yakni CEO Brodo Footwear Yukka Harlanda. Yuka terlibat dalam bisnis justru dari pengalaman uniknya saat mencari ukuran sepatu 46. Susah dan mahal harga yang ditawarkan membuatnya mencari cara agar dapat memenuhi kebutuhannya dengan budget yang terjangkau oleh dirinya, kalangan mahasiswa. Permasalahan itulah yang membawa Yukka untuk selanjutnya menggali informasi dan survey. Hingga akhirnya mendirikan Brodo Footwear dan mulai merintisnya.

Keterangan foto: Narasumber Kopdar Bebas Berbagi #UnstoppableIndonesia; Dedy Dahlan (Founder Passionpreneur Academy), Leonora Adelia (Travas Life), Indra Cahyo Uno (Komisaris PT Seratoga Investama Sedaya) Yukka Harlanda (CEO Brodo), dan Paul Setio Kartono (CFO FWD Life). Acara digelar oleh FWD Life di Kopitiam Tan-SCBD Lot 8, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu, 19 September 2015.(foto Ganendra)

Patut disimak pula pandangan Dedy Dahlan, Founder Passionpreneur Academy yang menjelaskan dengan cara sederhana bahwa kenali passion dan manfaatkan untuk membangun bisnis. Tipsnya adalah fokus pada hal-hal yang disukai, menurut passion masing-masing lalu kembangkan. Jika sudah menemukan passioan-nya, selanjutnya tinggal memilih bisnisnya. Dedy menganjurkan untuk punya nyali dalam membangun bisnis. Jangan takut akan resiko.

“Mereka yang berani mengatasi rasa takut adalah mereka yang akhirnya akan berhasil,” katanya.

Lalu bagimana kalau bisnis kita melibatkan orang lain? Bahkan ada passion yang berbeda?

Indra Cahya Uno Komisaris PT. Seratoga Investama Sedaya tbk, menyebutkan pentingnya karakter dalam berbisnis. Bahwa mengenali karakter ‘passion’ partner bisnis sangat perlu. Pasalnya dengan mengetahui karakter dapat ditemukan sisi-sisi yang memperkuat bisnis bukan hal yang melemahkan. Partnership tak ada masalah namun kuncinya bisa menggunakannya untuk mendukung keberhasilan bisnis. Jadi, passion yang berbeda juga tak masalah, selama bisa ditemukan hal yang mensuport untuk bisnis.

Soal manajemen keuangan dalam bisnis yang baik, ditekankan Paul Setio Kartono. Bahwa saat melakukan bisnis harus mampu melakukan melakukan manajemen keuangan yang baik. Ia menambahkan perlunya mempertimbangkan juga resiko dalam berbisnis. Oleh karena itulah modal manajemen yang baik diperlukan untuk mengatasi resiko yang timbul. kemampuan memanajemen akan membawa bisnis semakin berkembang besar. Catatan pentingnya adalah sangat perlu pemisahan uang antara uang keperluan usaha dan pribadi. Jangan sampai saling mengganggu. Biasanya pebisnis pemula kurang cermat dalam hal ini.

Sooo... bagaimana dengan anda, siap membangun bisnis sesuai passion anda? Biarkan passion anda melaju, karena passion tidak bisa di-stop, kata Paul Kartono. Dan modal besar atau kecil tidak menjadi masalah. Patut diperhatikan adalah menemukan permasalahan, passion dan kembangkan menjadi ide bisnis.

“Jangan takut,” saran Dedy Dahlan.

Anda setuju? Jika setuju, tak ada lagi masalah, yang kita mesti lakukan sekarang adalah, “Kenali Passionmu, dan Itulah Bisnismu!”

#SelamatBerbisnis

@rahabganendra

Semua foto dokumen pribadi Penulis


Ganendra

/rahab2

TERVERIFIKASI

tanyakan pada diri sendiri, apa yang benar-benar penting .... lalu bangun dengan keberanian yang dipunya, semua jawaban itu ... (Reportase Fotografi & Review) www.ganendra.net ________________________________________ TWITTER/ INSTAGRAM: @rahabganendra ________________________________________ EMAIL: masrahab@gmail.com ________________________________________ FACEBOOK: https://www.facebook.com/rahabganendra ________________________________________ #SemangatPagi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana