HEADLINE HIGHLIGHT

Teroris Asal Aceh Disambut bak Pahlawan

12 September 2012 02:31:41 Dibaca :
Teroris Asal Aceh Disambut bak Pahlawan
Teungku Ismuhadi, terpidana teroris peledakan gedung BEJ Jakarta 13 September 2000 (sumber: Atjehpost.com)

Tiga Narapidana terorisme asal Aceh yaitu Tengku Ismuhadi, Ibrahim Hasan dan Irwan Ilyas yang selama ini mendekam di Lapas Cipinang kemarin resmi dipindahkan ke LP Banda Aceh. Sesaat setelah tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, ketiga terpidana tersebut melakukan sujud syukur setelah tiba di tanah kelahirannya. Kedatangan para terpidana teroris tersebut disambut bak pahlawan oleh warga Aceh, tak ketinggalan pula Gubernur, Wakil Gubernur Aceh beserta Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud ikut menyambut kedatangan mereka. Bahkan ratusan mahasiswa dan berbagai elemen sipil menyanyikan lagu "panglima Prang" untuk menyambut kedatangan mereka.

Ismuhadi Jafar dkk ditangkap polisi terkait peledakan gedung BEJ pada 13 September 2000 yang mengorbankan 15 orang tewas dan puluhan lainnya  luka-luka. Polisi mengungkap empat orang tersangka. Irwan Ilyas, Ibrahim Abdul Manap, Ismuhadi, dan Nuryadin. Pemilik bengkel mobil Krueng Baro di daerah  Ciganjur Jakarta Selatan ini dituduh terlibat merancang aksi peledakan dengan bom mobil itu. Peristiwa tragis setahun menjelang serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC di AS ini, merupakan tragedi kemanusiaan yang cukup menggemparkan Indonesia, sehingga dikaitkan dengan aksi separatisme GAM maupun terorisme kala itu.

1347415527801702973
Sumber: Atjehpost.com

Memang sungguh ironis, ketika sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia terjadi namun di saat yang sama politik berbicara sebaliknya. Para teroris yang telah mengakibatkan 15 orang nyawa manusia tak berdosa melayang, pada tempat yang berbeda mereka disambut bak pahlawan. Kerancuan antara tahanan politik atau tahanan terorisme mengakibatkan pihak berwenang tidak memiliki posisi tawar karena terikat oleh perjanjian politik kesepahaman perdamaian Helsinki 2005 lalu, sehingga aksi terorisme yang dilatarbelakangi dengan motif separatisme ini dapat kembali ke kampung halamannya.

Politik memang absurd, semua dilandasi kepentingan, bahkan untuk narapidana  dengan aksi terorisme sekalipun. Lobby-lobby politik para mantan petinggi GAM yang saat ini telah menduduki posisi puncak dalam pemerintahan Aceh pun sangat berpengaruh dalam perpindahan para narapidana politik tersebut. Pada akhirnya, hukum pun dapat berbicara lain, dari hukuman seumur hidup, dengan keputusan Presiden, menjadi 20 tahun penjara. Sekarang, para napi tersebut tinggal menjalani 8 tahun masa hukumannya di LP Banda Aceh, yang mana jelas jauh lebih baik secara psikologis bagi para narapidana tersebut di kampung halamannya apalagi dengan support moril dari para mantan petinggi GAM maupun simpatisan mereka. Bagi para mantan petinggi GAM yang saat ini menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Pemangku Wali, secara politik jelas hal ini sangat menguntungkan bagi popularitasnya di daerah, dan hampir bisa dijamin bahwa loyalitas dan kesetiaan para narapidana ini akan sangat tinggi terhadap para petinggi tersebut.

Sekali lagi, sungguh ironis. Kejahatan terhadap kemanusiaan ternyata dapat dipandang sebagai sebuah kebaikan di tempat yang berbeda. Bagi keluarga korban tewas dan luka-luka BEJ 12 tahun lalu tentu kenyataan ini sangat tidak adil, namun bagi para keluarga narapidana tersebut hal ini adalah sebuah kebaikan. Semoga tragedi peledakan BEJ 12 tahun lalu adalah terakhir kalinya kejahatan yang diperbuat oleh para narapidana ini, sebagai ungkapan rasa syukur atas "nikmat" yang mereka peroleh dari sebuah perubahan politik, dan semoga keahlian mereka dalam merakit bom dan merancang sebuah tragedi kemanusiaan tidak lagi digunakan sampai kapanpun dan atas dalih apapun.

Rafli Hasan

Rafli Hasan

/raflihasan

columnist, urban traveler, blogger
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?