Maaf Merepotkan Karena Ver 2 Ini

21 Januari 2012 19:24:48 Dibaca :

*) surat terbuka berkaitan dengan ID Radix WP ( http://www.kompasiana.com/radixwp )


Nama saya Radix WP (sesuai dengan isian akte kelahiran). Hampir dua tahun saya aktif di forum Kompasiana ini. Sedari awal, saya memperkenalkan diri sebagai seorang liberal-sekuler. Identitas saya sama sekali bukan rahasia, tersaji lengkap mulai tempat kuliah (waktu itu), tempat kerja, bahkan hingga nomor ponsel. Tujuan keterbukaan ini adalah memotivasi para user lain untuk ikut terus terang dengan identitasnya. Tapi tentu, saya tetap bisa memahami jika ada user yang masih takut "menampakkan diri".


Mengenai ideologi, saya juga hadir di sini untuk memperkenalkan bagaimana sejatinya liberal dan sekuler, yang kadangkala dianggap negatif oleh kalangan tertentu. Di forum yang bukan "untuk kalangan sendiri" ini, tujuan saya bukanlah mengajak orang lain untuk mengikuti prinsip hidup saya, melainkan mengajak untuk saling menghormati dalam segala perbedaan prinsip hidup, tanpa perlu ada pihak yang mengklaim diri paling benar atau paling mulia.


Saya yakin menjadi diri sendiri adalah yang terbaik. Tidak perlu berpura-pura hanya demi punya banyak teman atau demi masuk HL. Toh, dengan begitu saya tetap bisa mendapat banyak teman baru, dengan prinsip hidup yang sangat berbeda-beda.


Tapi, di awal tahun 2012, ada kejutan yang tidak mengenakkan, yaitu pembekuan ID Radix WP oleh admin. Gelagat buruk sudah terlihat beberapa hari sebelumnya. ID tersebut sempat dibekukan, lalu diaktifkan lagi ketika saya mempertanyakannya. Tapi, kemudian admin menggunakan suatu alasan baru untuk membekukan lagi ID saya.


Alasan baru tersebut adalah komen saya di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/12/31/haram-merayakan-tahun-baru-kesia-sia-an , yaitu "kan lbh murah ketimbang biaya umroh.. jk anda menganggap umroh yg mahal itu bermanfaat, maka kembang api juga menimbulkan kegembiraan yg bermanfaat bagi yg menyukainya".


Rupanya, admin menilai komen tersebut sebagai suatu pelecehan terhadap agama. Saya sudah mengajukan keberatan. Saya terangkan bahwa komen tersebut tak beda dengan pilihan antara mendatangi ulama atau mendatangi psikiater demi menenangkan jiwa. Masa lebih memilih psikiater daripada ulama merupakan suatu pelecehan terhadap agama?


Sayangnya, admin tidak punya mekanisme naik banding untuk kasus semacam ini. Apalagi, janggal sekali bahwa suatu ID langsung dibekukan hanya karena sepotong komen, sementara ada sejumlah user lain yang tak henti menebarkan kebencian terhadap pihak-pihak yang berbeda dengannya ternyata cuma dikenai sanksi berupa penghapusan artikel, yang bahkan kadang dimunculkan lagi dengan sedikit modifikasi.


Tapi sudahlah, saya ambil sisi positifnya. Paling tidak, mestinya saya tidak lagi dituduh sebagai "piaraan admin" (tuduhan konyol, mengingat masuk HL pun saya belum pernah). Kini, saya tak punya pilihan selain membuat ID versi kedua ini. Saya masih berhutang aktivitas kepada banyak user lain yang jadi rekan diskusi saya selama ini. Masih banyak komen di artikel-artikel ID Radix WP yang belum saya tanggapi. Belum lagi diskusi lain di berbagai artikel milik user lain yang pernah saya kirimi komen. Sharing and connecting harus berjalan terus.


Karena itu, kini saya meminta maaf kepada para user yang diskusinya dengan saya sempat terpotong. ID Radix WP ver 2 ini saya dedikasikan untuk melanjutkannya. Tapi, untuk admin, saya tetap berharap ID Radix WP (versi pertama) dicairkan lagi, agar saya bisa menjawab pesan-pesan dari para user yang pasti sudah menumpuk di inbox.


Surabaya, Januari 2012

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?