Keluarga Rok Mini dan Hotpants

02 Mei 2012 17:22:35 Dibaca :

Kini semakin banyak orang-orang seperti ini...

Ada keluarga kecil dengan dua anak gadis. Si bungsu masih duduk di bangku SMP sebuah sekolah internasional. Di sebagian kegiatan sekolahnya, atau ketika kursus EF, Kumon, dan modelling, ia mengenakan hotpants atau rok mini. Kebanyakan temannya di lingkungan sekolah dan perumahan juga berpakaian serupa.

Si mama juga suka mengenakan hotpants. Misalnya, ketika berjalan-jalan di mall bersama ibu-ibu lain, yang juga suka ber-hotpants atau rok mini. Atau ketika bepergian dengan suami dan kedua puterinya. Karena dulu pernah jadi finalis model salah satu majalah remaja, ia punya bekal untuk mengajari kedua puterinya jadi fashionable.

Si sulung ditempatkan di apartemen dekat kampusnya. Pakaian favoritnya sama dengan mama dan adiknya. Di apartemennya, itu pakaian yang sangat lazim. Begitu juga dalam sejumlah kegiatan ekstrakurikuler di kampus, kecuali taekwondo, yang mungkin merupakan satu-satunya kegiatan di mana ia selalu mengenakan celana panjang. Ketika magang di sebuah perusahaan desain pun, ia beruntung karena rok mini boleh dipakai di kantor.

Bagi si mama, hotpants dan rok mini berguna untuk memantau kesehatan puteri-puterinya dan diri sendiri. Jika tiba-tiba ada bawahan yang jadi sesak untuk dikancingkan, jadi pertanda untuk lebih rajin berolahraga. Di kolam renang atau pantai wisata, ia mengajarkan kedua puterinya untuk mengenakan baju two-piece, yang memberikan tekanan psikis ekstra jika perut pemakainya kurang langsing. Untuk bisa mengenakan pakaian terbuka, rutin makan buah dan sayur, serta minum air dalam jumlah banyak, merupakan keharusan.

Kecantikan wajah dan tubuh si mama menurun kepada kedua puterinya. Penampilan mereka yang modis dan serasi jadi panutan bagi para perempuan lain di sekitar lingkungan mereka. Si mama dan si sulung tak pernah pelit berbagi tip cara tampil yang indah dipandang.

Dan yang tak kalah pentingnya, mereka tak pernah terancam oleh kejahatan seksual. Bahkan yang paling minor seperti disiuli ketika lewat. Para laki-laki di perumahan mereka rata-rata punya kerabat yang juga suka berpakaian terbuka, sehingga mereka jadi terbiasa dan tak gampang norak hanya karena melihat paha perempuan. Begitu juga di lingkungan sekolah atau di mall.

Oh ya, dengan selera busana yang seperti itu, mereka tak pernah menjaga jarak dari para perempuan lain yang memilih untuk berpakaian tertutup. Mereka juga punya sejumlah teman yang berjilbab, yang menjalin hubungan saling menghormati pilihan hidup masing-masing.

Pendeknya, mereka berbahagia dengan pilihan jenis pakaian mereka tersebut. Pilihan tersebut juga sama sekali tidak menimbulkan kerugian bagi siapapun. Tapi, yang memprihatinkan, selalu ada saja orang-orang kalangan tertentu (setipe dengan sejumlah user di Kompasiana ini) yang terus mempermasalahkan selera busana mereka...

Sungguh saya tak habis pikir...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?