Menjadi Sahabat Murid

13 Juni 2012 19:29:47 Dibaca :
Menjadi Sahabat Murid

Dulu mendengar cerita orang tua kita bahwa seorang guru dan murid seolah-olah memiliki jarak. Guru berada pada posisi yang sangat terhormat dan murid seolah-olah jauh dari hubungan yang non formal. Bertanya tentang kehidupan pribadi guru mungkin merupakan sesuatu yang tabu dan dilarang sehingga murid hanya mengenal gurunya sebatas dalam ruangan formal di kelas.

Kadang saya sulit mengukur mana rasa hormat, segan atau takut dari murid terhadap gurunya. Setelah saya mengenal bangku pendidikan. Saya juga merasakan hal yang sama. Ketika jarak antara murid dan guru merupakan suatu keharusan, kebiasaan atau aturan yang harus benar-benar dijaga. Ketika kini saya menjadi seorang guru, saya merasakan adanya desakan yang sama yaitu jarak tersebut harus tetap dijaga. Memang ada benarnya, menjaga jarak antara guru dan murid penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas atau selama mata pelajaran berlangsung. Ini merupakan hal yang harus dapat diterima oleh semua guru maupun murid.

Akan tetapi ketika diluar kegiatan formal di kelas, apakah murid tidak dapat mendekatkan diri pada gurunya sebagai orang tua bahkan sebagai sahabatnya tempat untuk bercerita dan berkeluh kesah? Rasanya kurang manusiawi apabila di luar kelas pun saya harus menerapkan hubungan yang penuh aturan itu. Kebetulan di sekolah yang saya ajar ada beberapa murid yang memiliki single parent. Mereka kadang tak segan menceritakan kegiatannya di rumah atau masalah yang dihadapi di rumah. Saya merasa harus bisa menjadi bagian orang yang dekat dengan mereka, yang bisa banyak mendengarkan dan memberi sedikit masukan atau nasihat. Mengapa sedikit? Karena bagi saya kualitasnya bukan kuantitas nasihatnya.

Mungkin agak berlebihan ketika saya memiliki hubungan dekat dengan murid-murid saya saat ini. Mereka dapat jadikan saya sebagai sahabat mereka bahkan orang tua mereka. Kapan pun di saat waktu yang tepat tentunya, saya dapat dengan leluasa mendengarkan semua cerita dan keluhan mereka tentang apa saja. Mulai dari masalah di sekolah, di rumah serta masalah pergaulan mereka. Sebisa mungkin saya mengerti bahasa-bahasa gaul mereka, menjadi teman di dunia maya mereka, dan menjadi teman ngocol mereka. Saya berusaha untuk tidak sakit hati ketika mereka berani meledek saya karena saya yakin mereka merasa dekat dengan saya.

Apa yang saya lakukan selama ini tetap pada batas-batas yang wajar. Dimana saya juga tetap menghormati adanya aturan dimana guru harus menempatkan diri secara baik dalam kegiatan formal dan tidak ada salahnya saya dapat berperan menjadi sahabat dan orang tua mereka. Mungkin ada yang berbeda dengan sikap saya seperti ini, namun jujur saya boleh katakan. Baik saya dan murid-murid saya dapat menikmati hubungan seperti ini dengan baik. Kami sama-sama dapat memetik hal yang postip dari hubungan yang kami bangun.

Bagi saya pribadi dengan mengenal murid saya, saya juga dapat memahami sejatinya diri mereka. Sehingga saya juga dapat dengan mudah memotivasi mereka dalam pendidikan di sekolah Sebagai contoh simple, ketika melihat mereka murung atau nilai ulangannya kurang baik, disitulah saya dapat mendekatkan diri untuk mengetahui apa yang menjadi permasalahan mereka. Disaat itu juga mereka dengan mudah dapat menceritakan apa yang menjadi beban pikiran mereka.

Mungkin ada yang menilai hal tersebut merupakan tanggung jawab guru BP, namun bagi saya, semua guru dapat berperan menjalankan fungsi bimbingan dan penyuluhan walaupun telah ada bagian khusus di sekolah.

ya seperti itulah kira-kira, konsep hubungan guru dan murid yang dapat saya terapkan secara sederhana. Tanpa harus merasa hilangnya kewibawaan dan mulianya anggapan tentang seorang guru.

Ratih Sugianti

/racathea

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis akan selalu hadir sebagai karya hidup
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?