HENDRA WIJAYA
HENDRA WIJAYA

Mahasiswa Pasca sarjana UNINDRA Jakarta, Mengajar di Tangerang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Deretan Foto Mantan Kepala Sekolah Kami

14 Agustus 2017   08:05 Diperbarui: 15 Agustus 2017   10:48 403 0 0
Deretan Foto Mantan Kepala Sekolah Kami
Dokumentasi pribadi

Oleh: Hendra Wijaya

Kamis, 10 Agustus 2017

Macet  total  tiap hari di jalan raya depan sekolah sudah berlangsung seminggu ini.  Jalan raya yang terbuat dari aspal itu sedang di bongkar karena sudah rusak berat dan akan diganti dengan siraman semen beton  setebal 20 Cm  oleh dinas PU. Tiap hari antrian kendaraan mengular dari  dua arah yang berbeda,masing-masing menunggu giliran jalan setelah petugas jasa pengatur lalulintas dadakan membuka akses untuk melewati kemacetan.  Wajah wajah sopir dan penumpang nampak gelisah, ruet seperti ruetnya jalan raya pagi itu. 

Kendaraan alat berat pengeruk aspal bergerak berderik derik seperti raksasa yang siap menelan mangsa. Kendaraan roda empat tak bisa masuk lewat gerbang sekolah. kendaraan roda dua dapat masuk dengan susah payah setelah melewati tumpukan batu split yang membukit  di tengah jalan yang licin. Para siswa dan beberapa guru yang hendak masuk sekolah pagi itu terpaksa berjalan kaki dari mobil mobil angkot yang terjebak macet yang mereka tumpangi menuju sekolah. Sudah seminggu ini tidak mudah  untuk 'masuk' ke dalam  sekolah kami. Walau demikian, kami menganggap itu 'hiburan' sebelum belajar. Kegiatan belajar berlangsung seperti biasanya.

Usai sholat dhuha berzamaah, bell masuk kelas tanda kegiatan belajar berbunyi. Peserta didik umumnya segera masuk kelas, beberapa masih diluar, menunggu kedatangan guru mereka.  Sementara itu di ruang guru, para guru pun bersiap untuk masuk kelas. "bapa ibu, mohon perhatiannya sebentar...!", tiba-tiba Pa Togar  berbicara agak keras sambil berdiri di bagian paling depan ruang guru. 

Suasana hening sejenak, semua mata tertuju ke Pa Togar. "Bapa Ibu...ada Pesan dari bapak kepala sekolah, pagi ini sebelum masuk kelas beliau ingin menyampaikan sesuatu kepada kita semua...penting !". Para guru saling berpandangan, senyum kecil nampak terlihat dibibir mereka, seperti sudah paham apa yang akan terjadi. 

Tak lama berselang, kepala sekolah muncul di ruang guru. Seperti tergesa ia langsung menyambar micropon yang telah di sediakan. Setelah mengatur napasnya.."Assalamualaikum..warahmatullahi wabarakatuh. Bapak ibu guru yang saya hormati, sengaja saya tahan bapak ibu guru tidak masuk kelas terlebih dahulu karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Dari pada bapa ibu tahu kabar ini dari orang lain,lebih baiknya bapa ibu saya beri tahu  langsung dari saya. Saya sudah mendapatkan undangan Pelantikan dan Rotasi Jabatan Kepala Sekolah dari  Bapak Bupati nanti siang pukul 10.00 WIB. Intinya saya akan pindah tugas memimpin di sekolah lain.  Karenanya dalam kesempatan ini saya ucapkan terimakasih atas segala kerjasamanya dan  saya memohon maaf jika selama saya memimpin ada kesalahan, kekuarangan atau ada yang merasa tersakiti. 

Saya pun demikian, tanpa diminta oleh bapa ibu, saya sudah ikhlas memaafkan  bapak ibu. Apakah bapa ibu mau memaafkan saya ?"  tanya sang kepala sekolah dengan nada sedih dan mata yang sedikit berkaca-kaca. "mau.." jawab beberapa guru. "terimakasih bapa ibu guru...selamat menjalankan tugas mengajar kembali !"  kata kepala sekolah menutup pidato singkatnya. Ruang guru sementara hening di tinggal para guru masuk ke kelas, namun sesungguhnya keriuhan terjadi dalam benak tiap guru saat itu yang kemudian di salurkan dalam keriuhan di Group WA mereka.

Pergantian kepala sekolah di sekolah  kami sudah hal yang biasa, sudah berpuluh kepala sekolah yang berbeda telah memimpin sekolah kami. Ucapan terimakasih, permohonan maaf saat 'pidato perpisahan' bukan yang pertama. Setiap kepala sekolah memberi kenangan, kesan dan warna bagi civitas akademik sekolah dan sekolah secara fisik. 

Untuk mengenang mereka, foto-foto Kepala  Sekolah yang pernah memimpin sekolah kami terpajang di ruang kepala sekolah dengan bingkai figura berukir berukuran Large. Ketika memandang foto-foto  itu, biasanya kita mengenang saat mereka memimpin sekolah. Tentu setiap orang punya kenangan yang berbeda. Tapi umumnya orang ada yang mengenang hal  baik atau kurang baiknya. Misalnya  ada kepala sekolah yang di kenang sebagai bapak pembangunan, karena selama dia memimpin banyak dilaksanakan pembangunan sarana dan prasarana sekolah. 

Ada kepala sekolah yang dijuluki bapa pariwisata,karena pada saat beliau  memimpin banyak agenda wisata  yang dilakukan baik dengan siswa maupun khusus guru. Ada pula kepala sekolah yang  di kenang sebagai  bapak Pengayom, karena ketika memimpin beliau dikenal ramah, mengayomi, bahkan berupaya menaikkan gaji tenaga honorer. Kenangan yang kurang baik juga kadang muncul, misalnya  ada  yang dikenang karena 'kejam' nya, karena sering memarahi guru, TU,caraka, di muka umum bahkan di depan peserta didik.  Ada yang dikenang  'Pelit'. Ada yang dikenang Munafiq, karena kata dan laku tak selaras, dan lain sebagainya.

Melihat foto-foto mantan  Kepala-Kepala sekolah yang terpajang di  dinding  ruang Kepala Sekolah itu pun kadang mengingatkan kita pada gaya atau type kepemimpinan mereka sewaktu menjadi kepala sekolah. Secara umum jika disederhanakan gaya/type kepemimipnanya di bagi menjadi dua type atau gaya. Ada yang gaya kepemiminannya Tegas, keras, tak ada alasan. Tapi ada gaya kepemimpinannya yang egaliter, lentur, dinamis. 

Gaya yang pertama biasanya Kepala sekolah suka memberikan petunjuk-petunjuk kepada bawahan, selalu mengadakan pengawasan secara ketat, meyakinkan kepada bawahan bahwa tugas-tugas harus dilaksanakan  sesuai dengan keinginannya dan dia lebih menekankan kepada  pelaksanaan tugas daripada  pembinaan  dan pengembangan bawahan. Realnya, type pertama ini misalnya suka 'nongkrongin' atau 'mandorin' ruang guru sambil bawa pentungan atau pecut untuk menakuti guru guru atau siswa agar segera masuk kelas untuk mengajar atau belajar. Memarahi guru atau petugas yang dianggap lalai, melanggar, malas, di depan umum.

 Prinsipnya 'yang tidak setuju, silahkan mundur !'. Sedangkan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang kedua biasanya Kepala Sekolah  lebih memberikan motivasi  daripada memberikan pengawasan terhadap bawahan, melibatkan bawahan  dalam pengambilan keputusan , lebih bersikap penuh kekeluargaan ,percaya, hubungan kerjasama yang saling hormat menghormati  di antara sesama  anggota  kelompok. Dalam Istilahnya Hersey & Blanchard (1982) kepemimpinan gaya pertama itu disebut task behavior (berorientasi pada tugas) dan gaya kepemimpinan yang kedua disebut relationship behavior (berorientasi pada hubungan).

Menjadi pemimpin di sekolah  dengan banyak orang dibawahnya  memang bukan hal yang mudah. Diperlukan kecakapan, keahlian dan integritas untuk mengelolanya.  Menyenangkan semua orang dibawahnya  adalah keniscayaan. Menjadi pemimpin bukan tanpa resiko. Karenanya terkadang menjadi pemimpin  tidak  otomatis hidup jadi 'enak'. 

Siang itu Bunga semboja merah dan kuning bermekaran di halaman sekolah, beberapa berjatuhan dan berserakan, seperti ditaburkan alam. Harum semerbak kamboja tercium sampai  sudut hati  seluruh civitas akademik sekolah kami, yang sedang menanti foto berwajah baru yang akan terpajang di didinding ruang kepala sekolah di sebelah para mantan kepala sekolah kami.