Kisah Kecil di Masa Kecil (1): "Atur Barisan"

21 Mei 2012 07:13:26 Dibaca :

Guru "ngaji" yang juga seorang kiai atau tepatnya imam surau kecil (kami menyebutnya "langgar") di dusun kecil lereng Wilis, mengajar pada santri-santri kecilnya... anak-anak sekitar 5 sampai 9 tahunan, para lelaki dusun yang belum akil baligh... tentang tata cara yang baik berjama'ah. Ia selalu mengingatkan para santri yang pasti masih dalam ruang umur "harus banyak tingkat dan mbeling" pada setiap menjelang shalat maghrib dan isya'.



"Atur shaff yang baik dan rapat. Jangan ada ruang kosong diantara kita. Kalau shaf tidak rapih dan ada ruang kosong... Nanti ditempati setan, iblis yang menggoda. Jamaah kita bisa kacau... ruwet... ribut..."



Santri-santri kecil dengan segala polah-tingkahnya merapatkan diri, mengatur diri dan menata shaff dengan baik dan rapat. Semua berpikir sama, jangan samai ada setan di sebelah kanan, kiri, muka dan belakang saya... Kalau ada setan..... hiiiii..... takut, nanti dapat digondol ke neraka.



Santri-santri kecil. Belajar berjamaah dan menjadi ma'mum yang baik. Ma'mum yang mengatur dan mengimami dirinya untuk berimam pada kebersamaan.



Jamaah para santri kecil itu berlanjut menjadi jamaah mengaji, lalu jamaah pulang, jamaah bermain, jamaah hidup sehari-hari.



Rapatkan shaff... rapatkan barisan... yang rapih. Shaff atau barisan yang rapat dan rapih... adalah kebersamaan yang kuat.



Jkt.0110

ripana puntarasa

/puntarasa

aktif dalam kerja perkuatan keberdayaan masyarakat dan jejaring kerja peneguhan kedaulatan rakyat. bersastra sebagai bagian ekspresi hidup sehari-hari.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?