Andri,dr,SpKJ,FAPM
Andri,dr,SpKJ,FAPM Psikiater

Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter&Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2010. Anggota dari American Psychosomatic Society dan satu-satunya psikiater Indonesia yang mendapatkan pengakuan Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dari Academy of Psychosomatic Medicine di USA. Dosen di FK UKRIDA dan praktek di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang (Telp.021-29779999) . Twitter : @mbahndi

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Artis Butuh Rileks, Lalu Pakai Narkoba?

11 Agustus 2017   11:19 Diperbarui: 11 Agustus 2017   15:49 277 5 2
Artis Butuh Rileks, Lalu Pakai Narkoba?
Ilustrasi. Liputan6.com

Berita artis tertangkap dalam operasi kepolisian untuk Napza belakangan mulai marak lagi. Setelah artis TS yang kedapatan menguasai tanpa resep obat golongan Benzodiazepine, Dumolid, kemarin baru terdengar lagi kabar adanya artis E yang diduga memiliki Ganja. 

Mungkin banyak orang yang mengira kehidupan artis memang tidak lepas dari obat-obatan. Kalau berkaca pada artis di luar negeri apalagi musisi rock mungkin kita melihat bahwa alkohol dan obat terlarang sering menjadi karib mereka. Beberapa artis di luar sana menjalani rehabilitasi berkali-kali. Lalu mengapa artis menggunakan napza? 

Artis Butuh Semangat dan Rilaks?

Saya mengamati bahwa kebanyakan artis dulu banyak ditangkap karena penyalahgunaan stimulan seperti sabu dan ekstasi. Kita dalam dunia kedokteran jiwa memahami bahwa zat jenis stimulan ini biasanya digunakan untuk mendapatkan semangat dan rasa senang yang berlebihan. Pada saat digunakan orang bisa mengalami euforia bahkan sampai halusinasi. Tentunya efek yang diinginkan adalah efek semangat dan rasa senang. 

Kita melihat sendiri banyak artis yang menjalani kehidupannya dengan tingkat kesibukan yang tinggi. Pindah dari satu studio televisi ke studio yang lain. Belum lagi acara off air yang banyak dipandu mereka. Tentunya dengan kondisi kesibukan yang luar biasa dan sering kali melampaui batasan kemampuan fisiknya mereka butuh alat bantudan sayangnya berujung pada penggunaan zat stimulan. 

Lihat saja dulu saat artis terkenal RA yang diketahui menggunakan Katinon. Saat itu katinone belum dimasukkan dalam daftar golongan obat stimulan oleh hukum di Indonesia. Biasanya zat ini didapatkan dari garam mandi (bath salt) yang bisa didapatkan di toko-toko umum di negara tertentu. Amerika Serikat sendiri melalu UU daruratnya mengawasi peredaran zat ini karena memang diketahui memiliki efek stimulan. 

Mengapa RA butuh stimulan? Tentu semua tahu jawabannya. Mobilitas dan aktivitasnya yang tinggi tentu membutuhkan dukungan performa yang tinggi pula, kalau tidak tidak bisa tampil optimal. Walaupun tentunya menggunakan stimulan dalam jangka waktu panjang juga sangat berbahaya bagi tubuh. 

Banyak sekali artis yang tertangkap karena kepemilikan sabu. Jenis stimulan ini memang dianggap punya efek memberikan rasa bahagia berlebihan dan semangat. Wajar juag banyak digunakan oleh para artis yang juga sudah mulai meredup bintangnya. Ketiadaan pekerjaan lagi dan kemungkinkan tidak dikenal lagi membuat mereka mungkin sedikit banyak terpengaruh mental emosionalnya. 

Keinginan membuat rasa bahagia yang segera tentunya juga diharapkan. Tentunya ini hanya asumsi saya pribadi karena kalau dilihat tidak hanya artis yang sibuk yang menggunakan stimulan tetapi juga banyak artis yang sudah mulai redup. 

Ganja yang didapatkan pada banyak kasus artis yang tertangkap adalah suatu zat yang berfungsi menenangkan seperti layaknya banyak obat benzodiazepine. Ketegangan yang sehari-hari ditemui dengan jadwal yang padat mungkin membuat banyak artis tidak tenang, susah relaks dan tidak bisa tidur. 

Mereka akhirnya memilih jalan singkat untuk mengatasi hal tersebut tanpa berkonsultasi dengan dokter lagi. Kita tentu memahami betapa susahnya menjadi artis yang kesibukannya sangat padat dan tidak ada waktu untuk relaksasi. Belum lagi tuntutan penggemar yang sering kali menjadi sulit dipahami oleh mereka sendir. Para lovers dan haters yang saling simpang siur dalam hidup mereka. 

Satu lagi yang perlu diwaspadai namun masih tetap bisa bebas dibeli adalah Alkohol. Alkohol memiliki efek menekan susunan saraf pusat. Efek yang diharapkan adalah menenangkan. Namun kita melihat juga betapa banyak kasus terkait kekerasan dan penggunaan alkohol karena alkohol mampu menekan rasa tidak nyaman namun juga bisa menumpulkan perasaan takut. 

Pengguna alkohol yang menggunakan zat ini untuk menenangkan dirinya dari perasaan cemas dan depresi tentunya akan sangat sulit menghadapi kenyataannya lagi jika pengaruh alkohol sudah hilang. Itulah mengapa alkohol bisa membuat cemas dan depresi lebih dalam. 

Ambil Waktu untuk Istirahat

JIka mengatuk tidurlah, jika capai rasanya badan istirahatlah. Sempatkan waktu untuk melakukan aktifitas olahraga dan relaksasi. Inilah sebenarnya yang diperlukan dalam menjaga keseimbangan tubuh. Sayangnya mungkin tidak semua orang mampu melakukan ini. Kendala karena sedang dalam mengejar sesuatu atau yang dikaitkan dengan banyaknya kegiatan membuat orang mengubah pola tidur dan istirahatnya. 

Itulah mengapa akhirnya mereka menggunakan zat pembantu yang lebih sering ilegal untuk mengatasi kondisinya. Ayo mulai gaya hidup sehat. Jangan salah gunakan Napza! Salam Sehat Jiwa (Twitter : @mbahndi)