koko anjar
koko anjar

Seorang penikmat senja dengan segala romantikanya. Menyukai kopi dan pagi sebagai sumber inspirasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Maria Walanda Maramis, Menginspirasi tapi Menolak Disebut Kartini Minahasa

21 April 2017   22:14 Diperbarui: 21 April 2017   23:37 160 1 0
Maria Walanda Maramis, Menginspirasi tapi Menolak Disebut Kartini Minahasa
source : http://pahlawancenter.com

Nama aslinya adalah Maria Josephine Catherine Maramis, lahir di desa Kema Minahasa Utara pada tanggal 1 Deseber 1872. Ia adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, memiliki seorang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Kakak yang perempuan namanya adalah Antje Maramis, sedangkan kakak laki-lakinya adalah Andries Maramis. Andries Maramis ini nantinya akan menjadi menteri keuangan RI di masa-masa awal kemerdekaan. Maria sudah menjadi yatim piatu sejak usianya menginjak 6 tahun. Sejak saat itulah dia beserta kedua kakaknya diasuh oleh pamannya dari pihak ibu di Maumbi, Minahasa Utara.

Dalam tradisi masyarakat Minahasa kala itu, tugas utama seorang perempuan hanyalah mengurus keluarga. Karena itulah baik Maria maupun Antje hanya mendapatkan pendidikan sampai pada tingkatan sekolah dasar. Di sekolah dasar tersebut, yang diperoleh Maria hanyalah pelajaran dasar membaca, menulis, dan berhitung. Sedikit sekali ilmu pengetahuan yang didapatkannya. Beruntungnya, kakak laki-lakinya Andries Maramis termasuk dalam golongan orang terpelajar. Sehingga setiap kali kakaknya berkumpul bersama teman-temannya, Maria bisa ikut bergabung untuk berdiskusi dan mendapat tambahan wawasan serta ilmu pengetahuan. Sesuatu hal yang sangat langka waktu itu untuk perempuan. Dari situlah muncul keinginannya untuk memajukan perempuan. 

Dalam pemikirannya, perempuan harus mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki. Meskipun harus mendobrak tradisi yang ada, Maria tetap pada pendiriannya. Hingga akhirnya ia menikah dengan Yoseph Frederik Calusung Walanda pada tahun 1890. Sejak saat itu pula ia menyertakan nama suaminya, sehingga sebutan namanya berubah menjadi Maria Walanda Maramis. Setelah menikah, Maria kemudian pindah ke Manado mengikuti suaminya yang berprofesi sebagai guru. Niat Maria untuk memajukan perempuan disetujui dan didukung suaminya. Ia pun mulai menuliskan pemikiran-pemikirannya di harian Tjahaja Siang . 

Didalam opininya tersebut, ia mengungkapkan bahwa tanggung jawab utama seorang perempuan adalah untuk mengurus keluarga. Mengurus keluarga disini maksudnya bukan hanya sekedar mencuci, membersihkan rumah, ataupun mengurus anak, tapi lebih dari itu. Seorang perempuan adalah sosok pertama yang memberikan bekal pendidikan kepada anak-anaknya. 

Selain itu seorang perempuan juga harus tau tentang kesehatan, sebab merekalah orang pertama yang akan merawat kalau anak atau suami mereka sakit. Atas dasar itulah seorang perempuan harus mendapatkan bekal pendidikan yang cukup, yang selama ini tidak mereka dapatkan karena sekolah mereka hanya berhenti di tingkat sekolah dasar.

Menyadari pentingnya peranan perempuan serta terbatasnya pendidikan untuk mereka, Maria bersama beberapa temannya lantas mendirikan PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya) pada tanggal 8 Juli 1917. Di dalam organisasi PIKAT ini para perempuan diberikan pembekalan mengenai memasak, menjahit, merawat bayi, kesehatan dan berbagai pengetahuan lain yang tidak mereka dapatkan di sekolah dasar. Semakin lama organisasi ini pun semakin berkembang pesat. Bahkan cabangnya sampai di Pulau Kalimantan juga. Yang lebih hebatnya lagi, Maria juga berhasil mendirikan sekolah kejuruan putri yang lengkap dengan asramanya.

Tidak berhenti di situ saja, perjuangan Maria untuk memajukan perempuan juga sampai di ranah politik. Pada taun 1919 dibentuk parlemen lokal dengan nama Minahasa Raad. Saat itu hanya laki-laki lah yang memiliki hak suara untuk memilih wakilnya di parlemen. Merasa bahwa hal tersebut tidak benar, Maria pun memperjuangkan kaum perempuan agar mendapatkan hak pilih juga untuk wakilnya di parlemen. Perjuangannya pun membuahkan hasil. Dua tahun kemudian muncul pemberitahuan dari Batavia (Jakarta) yang isinya memperbolehkan perempuan untuk ikut pemilihan anggota Minahasa Raad.

Perjuangan Maria Walanda Maramis untuk kaum perempuan, jelas sangat besar dan terasa sekali dampaknya. Oleh beberapa kalangan, ia bahkan disebut sebagai Kartini-nya Minahasa. Akan tetapi, Maria menolak julukan tersebut. Ia memang terinspirasi sosok Kartini. Namun ia tetap menolak kalau disamakan dengan Kartini. Maria meninggal pada tanggal 22 April 1924, saat usianya 51 tahun. Untuk mengenang jasanya, pemerintah membangun patung Walanda Maramis di kota Manado. Dan sebagai penghargaan atas jasanya, pemerintah RI pun memberinya gelar Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1969.