Prilly Jeanaldi
Prilly Jeanaldi Sound Engineer

Seorang yang menyukai kegiatan mendengar, dari khusyuk mendengarkan alunan musik sampai cermat mendengarkan alunan suara pemimpin.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Kekalahan Ahok Adalah Kesalahan Kita dalam Proses Berdemokrasi?

20 April 2017   21:15 Diperbarui: 20 April 2017   23:37 615 1 3
Kekalahan Ahok Adalah Kesalahan Kita dalam Proses Berdemokrasi?
Sumber Foto : www.unsplash.com

Pagi buta itu Media Pertelevisian kian ramai dijejali berita berita yang kontennya hampir sama satu sama lain, Pilgub DKI putaran ke dua ini seolah mempunyai daya tawar  luar biasa untuk disajikan. Sementara saya menyaksikan dijagat raya maya pemberitaan dan segala opini kian komplek dan masifnya di lontarkan oleh kedua pendukung calon, Mereka menjadi seolah seperti Global Citizen yang aktif bersuara. 

Tagar berhamburan, lalu dimainkan sedemikian apiknya di ranah Twitter untuk saling mengadu trending topic sementara itu di 'ring tinju' Facebook berserakan iklan iklan sarkasme bias yang siap meluluh lantahkan isi pikiran kalian bahwa perang badar akan dimulai. Saya menghembuskan nafas yang paling terdalam seraya bermonolog ' Betapa hebatnya kekuatan kekuatan manusia di sosial media, tetapi mereka larut dan melupakan sesuatu. . ya edukasi itu edukasi ".

 Tetapi diantara himpitan nafas ini berdecak rasa kagum bahwa atensi masyarakat indonesia terhadap pesta demokrasi ini begitu tinggi, saking tingginya penyampaian dan ajakannya sangat mengerikan, sampai lupa mana teman mana lawan hahaha. .

Seperti biasa untuk menghilangkan rasa berburuk sangka (selain beristighfar. .) dan kejenuhan melihat serangkaian konten konten kampanye di sosial media, tidak lupa saya putar lagu di mini compo kesayangan. Entah kenapa saya memilih lagu ' American Jesus ' dari Band Bad Religion, kaliber punk dari California yang intelek liriknya sangat beramunisi dan berisi tidak seperti band band punk lainnya yang hanya berisi kemarahan kemarahan atau protes terhadap kekuasaan tanpa ada solusi di setiap liriknya. 

Lagu ini cocok sebagai 'Anthem' dipagi hari karena selain musiknya yang cocok bersemangat lalu menghentak , energinya pun bisa seketika melalaikan 'iman' saya seketika untuk ingin berteriak kepada dunia dengan senantiasa mengikuti frase demi frase liriknya :


“ I don't need to be a global citizen [Saya tidak perlu menjadi warga negara global]

Because I'm blessed by nationality [Karena aku diberkati oleh kebangsaan]

I'm a member of a growing populace [Saya adalah anggota masyarakat yang tumbuh]

We enforce our popularity [Kami menegakkan popularitas kami]

There are things that seem to pull us under [Ada hal-hal yang sepertinya menarik kita di bawah]

And there are things that drag us down [Dan ada hal yang menyeret kita ke bawah]

But there's a power and a vital presence [Tapi ada kekuatan dan kehadiran yang vital]

That's lurking all around [Itu mengintai di sekitar]

We've got the American Jesus [ Kita punya Yesus Amerika ]

See him on the interstate [Sampai jumpa di interstate]

We've got the American Jesus [Kita punya Yesus Amerika]

He helped build the president's estate . . [Dia membantu membangun istana presiden]

Lagu tersebut memang sensitif, nakal dan berani tapi secara interpretasi dapat memberikan pengetahuan bagaimana proses sebuah kekuasaan terlanggengkan dengan cara cara yang tidak rasional. Jangan kisruh lagu ini bukan tentang menghina agama kok, itulah mengapa ada lirik yang saya tebalkan. sebentar lagi juga kamu akan mengerti!

Balik lagi ke penyelenggaraan Pilkada di DKI Jakarta, Hasil berdasarkan versi hitungan cepat dari berbagai sumber sudah tersaji diberbagai televisi nasional, dan saya sudah berprediksi sebelumnya siapakah dari kedua calon pasangan yang bakal unggul dalam putaran ke dua ini. dan berdasarkan versi hitungan cepat Pasangan Cagub Anies Baswedan dan Sandiaga Uno unggul, 

sontak berbagai kalangan di Media Jagat Raya bergemuruh dan merespon kekalahan Pasangan Petahana yaitu Basuki T. Purnama dan Djarot S. hidayat, komentarnya pun beragam ada tanggapan yang sesuai nurani dan tirani dari kedua kubu pendukungnya. Hasil itu semua tidak terlalu mengagetkan bagi saya, kenapa? Karena pertama DKI Jakarta tidak bersifat Hegemoni, 

Suara Ahok-Djarot yang menang diputaran pertama ternyata berbuah Stagnan di Putaran kedua. Timses Ahok-Djarot terlalu terbawa arus permainan kampanye yang dilontarkan dari timses kubu Anies-Uno. Timses (timsesnya loh yah bukan Ahok-Djarotnya) Ahok-Djarot terlihat sangat menikmati permainan SARA yang dilontarkan, 

Mereka terjebak dalam pusaran Ego untuk melawan isu isu yang bersifat kebodohan. - - Balik ke Pilpres 2014, saya harus akui kalau Jokowi memang setingkat lebih matang dari Ahok, dibalik diamnya beliau itu Apik dan epik. Padahal Atensi gencaran Isu fitnah pada kampanye waktu itu sama, cuma motifnya berbeda. Jokowi sengaja menempatkan diri tidak terlalu terbawa arus yang dihantamkan lawannya melalui permainan kampanye lawan, beliau cukup tersenyum dan membatasi perkataan kepada media. 

Beliau hanya membalasnya dengan guyon dan simbol simbol yang membuat lawan terbingung. Ya, Diam itu terkadang memang emas - -. Dan lalu isu SARA ini dimanfaatkan secara masif oleh kubu Anies-Uno secara masif dan saya pikir berlebihan juga seolah olah itu merupakan 'People Power' (sampai ada aksi rutin pengerahan maksa), tapi ini memang jadi santapan yang bakal laku dalam mendulang suara. Bias tapi laku dimata pemilih kita!

Alasan kedua yang membuat sedikit kecewa pada proses demokrasi kita adalah Pemilih Kita! Iya pemilih kita saya pikir belum terlalu dewasa untuk mengambil keputusan berdemokrasi. Inilah mengapa pentingnya dalam  berkampanye Ahok pernah mengatakan bahwa Edukasi itu penting dalam sebuah kampanye bukan soal perebutan untuk menjadi gubernurnya, namun Timsesnya kurang jeli dan tepat menangkap sinyal yang dilontarkan ahok tersebut dalam acara debatnya.  

Meskipun saya sadari bahwa itu merupakan hak pemilih untuk memilih siapa yang menjadi keputusannya, namun yang ingin saya angkat disini proses kedewasaan dalam berdemokrasinya dan dampak untuk PILKADA di daerah daerah kecil yang bukan pusat. PILKADA DKI ini seharusnya menjadi 'Role Model' untuk pemilihan pemilu di daerah yang lain,

 Kampanye yang sehat nan tidak menghalalkan segala cara dan Pemilih yang teredukasi dan Bijak. Harus diakui pemilih kita itu cenderung lebih bersifat emotional dalam memilih, sementara ahok-djarot dalam paparannya di debat terbuka selalu bersifat rasional mengenai visi, misi serta Program kerjanya maka yang tersanjung pada Ahok-Djarot rata rata pemilihnya kelas menengah dan berkarakter berpendidikan tinggi. 

'Gap' kelas pemilih ini pun dimanfaatkan oleh Kubu Anies - Sandi dengan penampilan yang dibubuhi karakter yang lebih pada pendekatan emotional, Kata kata Motivasi, Terlihat santun, Agamis dan Peduli terhadap kelas bawah ini pun berhasil menyita perhatiaan sebagian pemilih yang masih 'mengambang'( Menurut berita 100% pendukung AHY berpindah ke paslon No. 3). 

Maka inilah pentingnya pemilih kita untuk matang dalam menentukan suaranya, Menurut Hati nurani namun tetap Objektif dan Rasional dalam menggunakan Hak suaranya. Inilah dari dulu kampanye pemilu di Indonesia itu mengalami stagnan, Tim Sukses di Indonesia selalu menerapkan Kampanye Politik sama halnya dengan sebuah kampanye sebuah Produk dagang, Lebih menitik beratkan kepada pendekatan Emosional dibandingkan sebuah titik temu yang rasional. Analoginya, Mau harga barang tersebut semahal apapun(meskipun itu hanya tas atau casing HP) kalau bisa terlihat lebih gaya dan bermartabat ya kita beli, yang penting branded yes!

Ada yang menarik saya dalam momen Pilgub DKI Jakarta Kemarin, Saya menangkap kekecewaan kekalahan Ahok-Djarot tidak hanya dirasakan oleh Pendukung yang berdomisili di DKI Jakarta tetapi dirasakan secara nasional. Mereka (Netizen) kecewa bukan karena kekalahan Ahok-Djarotnya namun lebih kepada Proses Pemilu di DKI Jakarta, karena kekalahan Ahok-Djarot adalah merupakan kekalahan ideologi berdemokrasi. Pilgub DKI Jakarta merupakan sebuah cerminan bahwa pemilih kita gampang diubrak abrik dan dirampok hati nuraninya, 

Pemilih kita ternyata semudah itu untuk dirobohkan oleh isu isu yang berbau dogmatik yang menurut kerangka demokrasi itu sungguh sangat bias. dengan labeling, Bahwa memilih pemimpin Adminstratif pun harus berdasarkan sebuah Agama tertentu, ini jelas melunturkan nilai nilai kerangka Pancasila yang sudah dibangun. 

Kalau Pemilihan Pemilu di Pusat seperti ini apalagi di daerah daerah kecil lainnya, cukup hanya dengan menjual agama dalam berpolitik lalu semua pemilih akan gampang direbut suaranya. Jika cara seperti itu sudah dibangun dan berhasil maka tak lama lagi model Pemilu pun dimana mana akan seperti itu, ini jelas mengerikan! suara kita di bungkam oleh sentimen agama.

Tetapi,Selamat juga untuk Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur baru DKI Jakarta, Semoga janji dan program kerja anda bisa di realisasikan segera. Dan Terima Kasih untuk Basuki Tjahaja Purnama danDjarot Saiful Hidayat telah senantiasa menularkan edukasi pemikiran kepada masyarakat diluar DKI Jakarta, semoga banyak tumbuh pemimpin baru diluar sana yang punya pandangan bahwa berpolitik itu sebagai jalan untuk melayani rakyat.

Oh Iya! saya jadi teringat lagu yang saya putar tadi pagi di Mini Compo kesayangan, Lagu ‘ American Jesus ‘ itu merupakan sentimen terhadap dogma yang mampu melegangkan kekuasaan di sebuah Negara dengan cara menjual kepercayaan atau agama pada pemilihnya. Lagu tersebut termuat di album Bad religion bertema “Recipe for Hate” yang dirilis 4 Juni tahun 1993. 

Semoga di negeri ini tidak ada lagi tumbuh segala resep kebencian yang mengatas namakan agama, Greg Graffin Vocalis Bad religion yang sekaligus bergelar doktor keilmuwaan Berkata “ Arti nama Bad Religion tersebut bukan berarti Kami Anti Kristen, Anti Yahudi, Anti Buddhis atau agama lainnnya, nama tersebut merupakan cerminan bahwa kita jangan menganut jalan hidup dan pandangan dogmatik yang sempit, yang secara umum membatasi ide serta berpikir dan itu selalu merupakan kekeliruan kita dalam beragama. “ 

Apakah pandangan lagu tersebut relevan di proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta kemarin?Who Knows? Saya tidak tahu karena saya orang Bandung dan tidak ikut memilih yang hanya saya tahu bahwa islam itu Rahmatan lil Alamin yang mengantarkan keluasan ilmu yang paling dalam terhadap sebuah jalan hidup. Islam yang universal yang relevan dalam berkemanusiaan serta mengajarkan toleransi yang beradab. 

Wahai para pendukung ini bukan tentang yang menang atau kalah, ini tentang kita semua para pemilih pemimpin yang seharusnya menjadi semakin teredukasi dan menyadari proses kedewasaan demokrasi Negeri ini.


Jadi, Apakah Kekalahan Ahok Adalah Kesalahan kita Semua dalam Proses Berdemokrasi?