Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan profesional

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

featured

Sebuah Pelajaran dari Pilkada DKI

12 Juli 2012   00:06 Diperbarui: 15 Februari 2017   04:37 5304 16 2
Sebuah Pelajaran dari Pilkada DKI
Ilustrasi Gambar : jakartabaru.co


Jakarta, 12 Juli 2012. 

Walaupun persaingan dalam perebutan enam pasangan Cagub-Cawagub untuk menjadi pemimpin di ibukota belum usai, dari hasil quick count beberapa lembaga survei telah mampu menggambarkan bahwa Pasangan Jokowi-Ahok pada Pemilu Kepala Daerah DKI Jakarta yang digelar 11 Juli 2012 menjadi unggulan sementara dan bahkan diatas incumbent. 

Survei Sebagai Referensi 

Menurut hasil quick count Lembaga Indo Barometer, hasilnya adalah Joko Widodo (Jokowi)-Basuki T Purnama (Ahok) : 42,24%, Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) : 33,77%, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini : 11,50%, Faisal Basri-Biem Benjamin : 5,11%, Alex Noerdin-Nono Sampono : 4,73%, Hendardji Supanji-Ahmad Riza Patria : 2,65%. Sementara Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyampaikan hasil quick count sebagai berikut, Joko Widodo-Basuki T Purnama : 43,09%, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli : 34,11%, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini : 11,77%, Faisal Basri-Biem Benjamin : 4,86%, Alex Noerdin-Nono Sampono : 4,33%, Hendardji Supanji-Ahmad Riza Patria : 1,84%. 

Sebelum pelaksanaan pilkada DKI, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengeluarkan hasil surveinya terhadap para pasangan cagub-cawagub, yang dilaksanakan diantara tanggal 22-27 Juni 2012. Survei yang dilaksanakan  kepada 450 responden, memperkirakan peroleh suara Foke sekitar 43,7 persen, dengan margin of error survei 4,8 persen, multi stage random sampling, di mana seluruh pemilih Jakarta dipilih secara acak. Urutan kedua ditempati pasangan Jokowi - Basuki, dengan dukungan hanya sekitar 14.4 %. 

Sementara empat pasangan lain hanya memperoleh dukungan di bawah 10 %, bahkan ada yang di bawah 5 %. Dari hasil survei menjelang pilkada 11 Juli dibandingkan dengan hasil quick count, terlihat ada perbedaan posisi kekuatan, dimana  pasangan Jokowi-Ahok mampu mengungguli Foke-Nara. Akan tetapi survei mampu menunjukkan, benar dua pasangan terkuat tersebut yang akan maju ke putaran kedua. 

Sebuah Pelajaran dan Perubahan Yang Diharapkan 

Walaupun hasil pilkada belum resmi diumumkan oleh KPUD DKI Jakarta, dari sejarah quick count juga tidak akan jauh bergeser dengan hasil penghitungan KPUD. Nah, dari posisi menyolok keunggulan sementara Jokowi-Ahok, kita bersama melihat bahwa penduduk Jakarta pada minggu terakhir kemudian menyimpulkan keputusannya siapa calon pemimpin yang mereka incar.  Direktur Peneliti LSI Arman Salam mengaku perolehan suara pasangan Jokowi- Ahok cukup fenomenal dan memutarbalikkan sejumlah survei yang ada, termasuk survei LSI. 

Dikatakannya, “Bukan lagi soal imej, tetapi ini soal jejak keberhasilan yang diingat oleh masyarakat,” katanya. Beberapa pengamat mengatakan,  Keunggulan pasangan Jokowi – Ahok pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2012 membuktikan warga Ibu Kota sangat menginginkan perubahan. 

Pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro mengatakan, “Sebelum kampanye pilkada, sosok Jokowi sudah dicitrakan sebagai kepala daerah yang sukses dan mampu membuat perubahan. Nah, prestasi tersebut mampu menarik simpati pemilih, terutama anak-anak muda yang punya semangat perubahan,” katanya. Sementara Koordinator Kajian Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Girindra Sandino mengungkapkan, keunggulan Jokowi-Ahok karena pemilih secara emosional bersimpati pada figur Jokowi. “Faktor utama keunggulan Jokowi lebih terletak pada psikologi politik pemilih yang secara emosional bersimpati pada figur Jokowi,” katanya.  

Menurut Sandino, pemilih Jokowi bukan hanya mereka yang mempunyai ikatan kedaerahan, melainkan juga lapisan masyarakat bawah dan menengah yang menolak “status quo” politik. Mesin politik parpol pengusung terutama Partai Demokrat juga tidak mampu menunjukkan kapasitas sebagai organ pemenangan. Kasus kemunculan pasangan Jokowi-Ahok sebagai penantang terkuat incumbent, mengingatkan kita kepada kasus pilkada Jawa Barat pada tahun 2008. 

Penulis kembali teringat pilkada Jabar 2008, dimana pasangan warga biasa yang muda, Heryawan-Dede Yusuf mampu menjungkirkan optimisme pasangan incumbent Danny Setiawan-Mayjen TNI Iwan Sulanjana (mantan Pangdam Siliwangi), serta pasangan Jenderal TNI (Pur) Agum Gumelar (Mantan Menko Polkam)-Nu’man Abdulhakim (Wagub Jabar). Danny didukung Golkar dan Partai Demokrat, Agum diusung PDIP, PPP,PKB , PBB, PKPB, PBR dan PDS, sementara Heryawan hanya didukung PKS dan PAN. Kemenangan Heryawan-Dede Yusuf lebih dikarenakan keduanya adalah pasangan biasa saja, bersih, sederhana dan bukan pejabat atau mantan pejabat. Sementara dua pasangan lainnya adalah tokoh-tokoh hebat, bak selebrities yang diberitakan seperti tokoh tak terkalahkan. 

Dua pejabat Gubernur-Wakil Gubernur dan dua Jenderal yang demikian populer di media. Heryawan dan Dede Yusuf kemudian dipilih warga Jawa Barat pada umumnya karena turunnya kepercayaan masyarakat Jabar terhadap mereka yang sudah menjabat, terlebih ada kasus terhadap incumbent. 

Nah, demikian kini nampaknya yang terjadi di pilkada DKI Jakarta. Pergeseran keputusan pada minggu-minggu terakhir perhatian konstituen di ibukota, karena adanya keinginan sebuah harapan perubahan terhadap kejenuhan atas masalah yang demikian complicated di Jakarta. Pemilih DKI kemudian mencari sosok diantara pasangan yang ada, dan Jokowi kemudian menjadi ikon harapan perubahan, dengan catatan yang terekam karena bersih, tidak ada masalah, pengabdi serta pelayan masyarakat, sederhana, tidak muluk-muluk, realistis. 

Oleh karena itu maka jadilah Jokowi, dari tokoh lokal di Solo menjadi sosok yang fenomenal yang mereka harapkan bisa memperbaiki Jakarta yang semrawut ini. Sementara calon dari PKS ternyata tidak mampu menyatukan semua kekuatan dan suara PKS seperti yang terjadi pada pilkada 2007. Walau menjadi calon ketiga yang memperoleh suara terbanyak, posisi pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini  agak jauh perolehan suaranya dibawah juara satu dan dua. 

Nampaknya pada putaran dua, PKS bisa bersatu dengan PDIP dan Gerindra menghadapi Foke yang didukung Demokrat, walaupun pergeseran masih dimungkinkan, karena dalam perhelatan politik, kepentinganlah yang berada dimuka disebut politik uang.. Keputusan para pemilih Jakarta lebih menegaskan bahwa dalam sebuah pemilihan langsung baik pilkada ataupun pilpres, konstituen lebih menitik beratkan kepada siapa si tokoh tersebut. Brand imagedan momentum menjadi dua hal yang harus diperhitungkan dari sisi psikologis konstituen. Nah, gambaran pilkada DKI Jakarta telah berlangsung setengah jalan, semua yang terlibat dalam persaingan pilkada putaran kedua kembali harus memikirkan baik strategi ataupun momentum menjelang bulan September 2012. Karena ini ranah politik yang banyak seni, tricky dan upaya yang aneh serta nekat, para pemikir kedua team sukses harus benar-benar jeli menghadapi persaingan campuh yang akan semakin berat. 

Perhitungan kemenangan dalam perhitungan dasar teori intelijen dalam sebuah peperangan harus dihitung dari sisi kekuatan, kemampuan, kerawanan serta niat. Siapa yang mampu menganalisa keempat faktor itu dengan akurasi yang lebih tinggi, nampaknya akan menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dari sisi kekuatan dan kemampuan tidak terlalu sulit mengukurnya, yang patut diwaspadai adalah sisi kerawanan, dimana kerawanan adalah kelemahan yang apabila bocor ke fihak lawan dan mereka eksploitir, maka target akan menjadi lumpuh. Sisi lain yang juga sangat perlu diwaspadai adalah "niat," yang dimaksud adalah seberapa jauh niat pihak lawan atau pesaing akan berulah. Demikian sedikit ulasan tentang hasil sementara pilkada DKI Jakarta. 

Mari kita tunggu perjalanan dua pasangan tersebut di putaran kedua. Kedua pasangan jangan marah dan jangan sombong, warga Jakarta sudah jenuh dengan kerasnya hidup di ibukota, "boring" dengan macet dan ulah para pengabdi masyarakat yang berkuasa itu. "Boring" dengan berita korupsi para pemegang amanah. Karenanya, kekuatan calon pemenang adalah siapa yang bersih dan mau menjadi pengabdi masyarakat. Loooh, kalau gitu Jokowi akan unggul? Nampaknya begitu. Tetapi ingat ini perhelatan politik dan di Jakarta pula, uang terbanyak beredar disini, banyak cukong dengan segala kepentingan juga disini, dan uang bisa untuk disalahgunakan untuk bermacam cara dari yang buruk hingga yang terburuk.  

Segala sesuatu bisa saja terjadi. Bisa saja akan terjadi anti klimaks kan? Foke-Nara mana mau mengalah serambutpun, itulah tantangan Mas Jokowi dan Bung Ahok. Tugas kita sebagai pemilih ataupun yang golput, siapapun yang menang, kita doakan bersama, semoga yang terpilih nanti adalah yang mendapat ridhoNya. 

Yang jelas, amanah itu berat, terlebih jadi pemimpin di Jakarta, karena ini bukan hanya urusan dunia belaka, tetapi juga akan ditanya di akhirat nantinya, dan siapapun sudah mengantri kesana, hanya gilirannya yang kita tidak jelas. 

Salam.
Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net