Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan profesional

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

featured

Mencermati Bom Panci Rajapolah dan Teroris yang Tewas Ditembak

23 Juli 2013   10:13 Diperbarui: 1 Maret 2017   02:00 1390 6 7

Sisa-sisa bom Panci yang meledak di Rajapolah (foto : Detik.com). Nampaknya Polisi yang dicap thogut oleh kelompok teroris masih menjadi target utama serangan mereka. Markas Polisi Sektor Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (20/7/2013) sekitar pukul 01.30 WIB telah diserang dengan sebuah bom rakitan. Bom tersebut berisi sejumlah materi di antaranya mesiu dan paku.  "Bomnya berupa panci. Di dalamnya ada mesiu, paku, timah dan kabel-kabel," kata Kapolsek Rajapolah AKP Junaedi di kantornya, Sabtu (20/7/2013). Didekat sisa-sisa panci ditemukan HP danrangkaian kabel, yang menurutnya merupakan untuk mengatur ledakan. Bom panci diperkirakan mirip dengan Bom yang meledak di Boston Marathon, Amerika merupakan favorit kelompok teroris karena efek ledakannya menjadi lebih kuat dan mudah dipelajari melalui sumber terbuka. Bom yang meledak menggunakan rumah bom (casing) berupa pressure cooker. FBI dan Polisi Boston menyatakan bom tersebut adalah “improvised explosive devices,”(IEDs) diledakkan dengan remote control dari perangkat elektronik ponsel, atau cara lainnya. Casing tersebut yang diisi bahan peledak, juga  diisi dengan material pencelaka seperti paku, gotri dan bahan logam lainnya. Demikian nampaknya bom serupa yang diletakkan di dekat jendela kantor kapolsek Rajapolah. Dalam ledakan tersebut tidak menimbulkan korban. Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Agus Rianto mengatakan, sampai saat ini aparat masih terus melakukan penyelidikan atas ledakan bom di Markas Polisi Sektor Rajapolah. Agus mengatakan, untuk mengantisipasi serangan serupa, pihaknya telah meningkatkan keamanan di seluruh tingkat kesatuan, mulai dari Polsek hingga Polda. “Penjagaan ditingkatkan dari setiap satuan. Menjaga keamanan masyarakat tetap menjadi prioritas, tetapi menjaga tempat kami bertugas juga jangan sampai dilupakan,” katanya. Teror berupa serangan lain terhadap kantor polisi beberapa kali terjadi di daerah Poso dan Palu.  Pada hari Rabu (17/7/2013) malam, Markas Polsek Palu Selatan, telah ditembaki oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Kapolsek Palu Selatan Kompol Saemuda Ali di Palu, Kamis (18/7/2013) mengatakan, telah dilakukan  olah tempat kejadian perkara (TKP) dan ditemukan selongsong peluru ukuran 5,56 mm yang berasal dari senjata laras panjang. Dalam kasus ini tidak terdapat korban, bahkan petugas jaga sempat melakukan tembakan balasan. Penyerang berhasil meloloskan diri. Pada pertengahan Mei 2013, Mapolres Palu juga sempat diserang oleh  orang tak dikenal. Sebuah bom molotov yang dilengkapi rangkaian kabel ditemukan di belakang Kantor Satlantas Polres Palu. Pada awal Juni 2013, Mapolres Poso yang berjarak 220 kilometer dari Kota Palu mendapat teror bom bunuh diri yang menewaskan pelakunya. Pihak Polri akhirnya menemukan  identitas pelaku sekaligus korban bom bunuh diri tersebut bukan penduduk Poso.  Kabagpenum Polri, Kombes Agus Rianto, di Gedung Divisi Humas Polri, Jl Senjaya, Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2013) menyatakan,  "Namanya Zainul Arifin, alias Arif Petak kelahiran 26 Juni 1979, yang bersangkutan aktif di pondok pesantren di Lamongan," katanya. Arif telah menyiapkan diri menjadi "pengantin," istilah teroris sebagai pelaku bom bunuh diri untuk mati syahid. Dua Teroris Tewas Ditembak Densus di Tulungagung Pada hari Senin (22/7/2013), pukul 08.45 WIB,  Team Densus 88 telah melakukan penyergapan terhadap empat orang tersangka teroris di sebuah warung dekat rumah sakit lama Tulungagung. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie menjelaskan, penyergapan empat terduga teroris di Tulungagung, Jawa Timur dilakukan saat keempatnya menunggu angkot di Jalan Pahlawan, Kedungwaru, Tulungagung. Saat akan ditangkap, seorang teroris ats nama Dayah, langsung mengeluarkan senjata pistol dan menembakkan peluru kearah aparat. "Terjadi kontak senjata dengan keempat tersangka. Akibatnya, dua terduga teroris (Dayah dan Rizal) tewas, sementara dua tersangka menyerahkan diri sehingga dilakukan penangkapan," kata Ronny. Menurut informasi,  Dayat dan Riza  sama-sama berasal dari Medan. Sedangkan dua orang yang selamat, Mugi Hartanto dan Sapari, keduanya berasal dari Tulungagung. Menurut beberapa informasi, Sapari merupakan warga Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, yang menjabat sebagai staf Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Desa Penjor. Sementara itu, Mugi Hartanto adalah warga Desa Gambiran, Kecamatan Pagerwojo, yang bekerja sebagai guru honorer Polisi juga menyita 2 sepeda motor yang dipakai orang-orang yang diduga sebagai teroris itu.  Kapolda Jawa Timur Irjen Unggung Cahyono mengatakan, empat terduga teroris yang disergap tersebut  berasal dari jaringan Poso. Mereka telah dijejaki  petugas selama hampir tiga bulan, terus berpindah–pindah tempat. Mulai dari Surabaya, Lamongan, Magetan, serta terakhir Tulungagung. Selama pelariannya, mereka tidur di SPBU hingga mushola. Menurut Kapolda, Keterlibatan warga Tulungagung hanya sebagai penunjuk jalan serta pelaku penyembunyian para teroris. Saat ditangkap keempat orang tersebut membawa sebuah bom rakitan yang disimpan didalam ransel, disita juga sebuah senjata api jenis revolver. Analisis Dari informasi tersebut diatas, terlihat bahwa bagi kelompok teroris telah terjadi konflik tersendiri antara mereka dengan Polri. Dari kasus penyerangan terlihat target utamanya adalah polisi atau kantor polisi. Ini berarti adanya rasa sakit hati ataupun dendam mereka terhadap Densus/Polri yang telah menembak/menangkap teman-teman mereka. Menurut teorinya, terorisme adalah sebuah mazhab/aliran kepercayaan melalui pemaksaan kehendak guna menyuarakan pesan, asas dengan cara melakukan tindakan ilegal yang menjurus kearah kekerasan, kebrutalan bahkan pembunuhan. Teror adalah sebuah ilmu pengetahuan dari intelijen dari sub intelijen penggalangan dalam upayanya baik melumpuhkan otoritas pemerintah atau hanya upayanya meninggalkan sebuah pesan, bahwa mereka masih eksis disebuah wilayah/negara. Melihat penyergapapan di Tulungagung, kedua warga setempat (Mugi Hartanto dan Sapari) adalah masuk dalam tataran organisasi teroris sebagai simpatisan. Sementara Dayah dan Rizal  bisa dimasukkan dalam kelompok pendukung aktif ataupun juga kader aktif. Mereka bertugas mencari dana operasi tetapi juga melakukan penyerangan bom. Seperti disebutkan oleh Kapolda Jawa Timur mereka adalah kelompok Santoso, maka Santoso adalah Ketua/Pimpinan kelompok yang aktif di Poso. Santoso yang menjadi DPO utama dari Polri nampaknya diakui oleh beberapa kelompok kecil teroris, dalam gerakannya memiliki kepemimpinan yang efektif dan memperoleh dukungan struktur yang cukup luas. Terbukti dari beberapa angkatan latihan di hutan Poso, para kader/pendukung aktifnya telah menyebar kebeberapa pelosok tanah air. Menurut penelitian ahli teror, meskipun pimpinan kelompok mempunyai intelijensia tinggi, banyak dari kader aktifnya berasal dari masyarakat yang menderita dan kurang mampu. Banyak kemudian mereka merekrut kadernya yang pernah atau masih dipenjara karena kasus kriminal. Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh Kemenkumham. Yang akan jauh lebih berbahaya apabila didalam penjara para teroris berhasil membina napi Narkoba. Maka akan terbentuk Narcoterorism. Upaya fa'i dilakukan dengan berdagang narkoba, ini jelas jauh lebih berbahaya. Kesimpulan lain yang dapat ditarik dari kasus Rajapolah,Poso, Palu dan Temanggung adalah para teroris dibawah kepemimpinan Santoso masih berkeliaran dan mereka membuktikan diri masih mampu melakukan serangan kepada polisi. Sebagai target utama serangan, Polri sebaiknya terus menerus menyiagakan dimanapun anggotanya bertugas. Penulis yakin bahwa Densus 88 telah semakin matang dalam melakukan mapping keberadaan kelopok-kelompok kecil teror tersebut. Upaya deradikalisasi BNPT perlu semakin digiatkan bersama-sama Menkumham, dan instansi lainnya, karena sangat perlu diantisipasi adanya upaya  kolaborasi teror dan narkoba. Menghadapi teror, jelas aparat harus tegas dan tidak boleh separuh-separuh, perlu penegasan ulang strategi yang dipergunakan. Walau kelompok teror yang ada saat ini kecil, tetapi duri sekecil apapun dapat menyebabkan infeksi yang mengganggu dan menyakitkan. Jelas tidak membuat nyaman, semoga sukses untuk BNPT dan Polri. Salam. Oleh : Prayitno Ramelan (Pengamat Intelijen), www.ramalanintelijen.net Artikel Terkait : -Fadli Sadama Napi Narcoterrorism Lolos dari Tanjung Gusta (http://ramalanintelijen.net/?p=7032) -Updating Berita Terorisme Juni 2013 (http://ramalanintelijen.net/?p=7016) -Bom Teroris hanya Seharga Rp 800 ribu (http://ramalanintelijen.net/?p=6940) -Teroris Menyerang Polres Poso dengan Bom Bunuh Diri (http://ramalanintelijen.net/?p=6938)