Wow, Guru Ini Novelis Hebat!

23 September 2012 17:53:55 Dibaca :
Wow, Guru Ini Novelis Hebat!

Bedah novel Safir Cinta di Perpustakaan Kota Surabaya pada 22 September 2012. (Sumber: Jawa Pos Radar Surabaya)

Sahabat sekaligus senior saya, Faradina Izdhihary, baru saja merilis novelnya yang terbaru: Safir Cinta. Sebelumnya, ia mengabarkan bahwa novel terbitan Writing-Revo Jogjakarta tersebut akan dibedah. Road show ke beberapa kota.

Semula, guru SMAN 1 Batu itu meminta saya untuk menjadi pembicara dalam bedah novelnya di Surabaya pada 22 September 2012. Sayangnya, saya punya jadwal lain dan sudah diagendakan jauh-jauh hari sebelum Mbak Fara –demikian saya biasa menyapan– menghubungi saya.

Namun, tak lupa saya memberikan ucapan selamat kepada ibu empat anak itu. Saya yakin acara tersebut pasti sukses. Apalagi, tim suksesnya didukung oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya serta Gerakan Nusantara Menulis. Acara ini sendiri dihelat di Perpustakaan Kota Surabaya di kawasan Rungkut Asri Tengah.

Benar saja, Minggu pagi, 23 September 2012, saat mengikuti acara Car Free Day di Sidoarjo, saya membaca berita bedah novel itu di surat kabar Radar Surabaya (Jawa Pos Group). Senang sekali mendapati wajah kolega saya tersebut muncul di koran.

Secara singkat, novel ini bisa dibilang bertema religi. Tokoh utamanya bernama Reysa. Gadis cantik dan nyaris sempurna. Namun, ia menyimpan kenangan terhadap masa lalu yang kelam. Nenek dan ibunya pernah hamil di luar nikah. Hal ini ikut membentuk karakter Reysa.

Label anak haram melekat padanya. Ia pun dendam. Rasa sakit hatinya dilampiaskan dengan cara meniduri banyak laki-laki. Klimaksnya, pesona Reysa menggaet perhatian bapaknya. Dan noda itu terjadi.

Singkatnya, ia kemudian menjalani pengasingan diri di sebuah pesantren. Pengalaman di situ mengubah kepribadiannya. Ia menjadi shalihah dan penuh perhatian kepada anak-anak terlantar. Muara cintanya mengalir seiring kehidupan pascakelam itu.

Novel ini setebal 275 halaman. Meski saya lebih menyukai kisah-kisah bertema sejarah, toh akhirnya saya bisa menuntaskan membaca novel ini dalam dua hari.

Saya terkesan dengan gaya penulisan Mbak Fara dalam novel ini. Unsur sastranya amat kental. Beberapa diksi yang dipakai juga tidak menampakkan sang penulis ternyata adalah guru, yang biasanya berkutat dengan bahasa-bahasa akademis. Alur ceritanya juga memikat kendati ada prolog yang diulang-ulang. Secara garis besar, novel ini menyisipkan pesan moralitas tanpa berupaya menyembunyikan realitas kehidupan masyarakat modern saat ini.

Jika membaca kisah Reysa tersebut, saya teringat Keyko, germo wahid yang kasusnya tengah hangat diperbincangkan. Sama seperti Reysa, Keyko adalah wanita muda cantik dan berbodi aduhai. Bedanya, Reysa berhasil menata kehidupannya menjadi lebih baik. Sedangkan Keyko saat ini jadi tersangka sebuah kasus di Mapolda Jatim.

Saya betul-betul terkesan dengan cerita tentang Reysa dalam novel Safir Cinta. Mbak Fara berhasil menyajikannya dengan apik. Sungguh, saya tak menyangka ada guru yang juga novelis hebat seperti beliau.

Dalam salah satu kesempatan, saya pernah bertanya kepada pemilik nama asli Istiqomah itu tentang tujuannya menjadi penulis. ”Dengan menulis, saya ingin lebih memahami kehidupan,” jawabnya singkat.

Selepas pertemuan dengannya, saya masih menyimpan kagum. Betapa tidak, menulis novel itu sebenarnya tidak mudah. Bisa dibilang sulit. Penokohan, alur, klimaks, dan ending-nya harus rampak dan kuat. Imajinasi bermain di wilayah ini. Tidak semua orang bisa mengarahkan imajinasinya menjadi tulisan yang mengalir bak kisah dalam kehidupan nyata. Dan Faradina mampu melakukannya. Wow!

Tentunya saya bangga bisa berpartner dengannya menjadi promotor dalam buku Memoar Guru yang bakal terbit tak lama lagi. Tujuan kami sederhana: mengajak para guru untuk mau menulis. Itu saja.

Graha Pena, 24 Sept 2012

Eko Prasetyo

/prasetyo_pirates

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Hingga Januari 2015, penggemar wedang kopi ini baru menulis 30 buku. Kini ia melanjutkan sekolah di Pascasarjana Unitomo Surabaya. Alasan utamanya kuliah S-2 adalah menghindari omelan istri.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?