Membangun Karakter Melalui Wayang

19 Mei 2017 17:38:53 Diperbarui: 19 Mei 2017 18:48:55 Dibaca : 29 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Membangun Karakter Melalui Wayang
www.kemendagri.go.id

Wayang kulit merupakan budaya asli Indonesia yang diwariskan turun temurun dan tak lekang oleh waktu. Masih dinikmati oleh masyarakat Indonesia khsusnya suku Jawa. Budaya ini harus terus dilestarikan karena asli milik masyarakat Indoesia. Selain itu pagelaran wayang juga bisa sebagai media sosialisasi kebijakan pemerintah khususnya kebhinekaan yang kian terus digesek dengan isu ras atau agama.

YUNIZAR PRAJAMUFTI, Jakarta

Cuaca malam itu cukup cerah. Walau siang harinya hujan melanda Kota Semarang lebat sekali. Seakan Tuhan ingin mengatakan “ini kuasaKu”. Sempat ragu pagelaran wayang yang akan diselenggrakan di halaman kantor Bupati Demak, Sabtu Malam (29/4) akan terganggu karena hujan. Namun Tuhan ternyata menunjukkan keberpihakan. Hujan reda setelah shalat Asar. Walau sisa-sisa genangan air hujan masih terlihat sampai magrib tiba.

Malam itu sekitar pukul 20.00 WIB pagelaraan wayang dibuka langsung oleh Menteri Dalam Negeri(Mnedagri) Tjahjo Kumolo. Sebelum dibuka, Bupati Demak menyampaikan bahwa berdasarkan fakta sejarah Demak menjadi kerajaan pertama di Pulau Jawa yang tidak lepas dari seni budaya wayang. Dia juga mengatakan pagelaran wayang patut untuk terus dilestarikan di tengah kemajuan zaman yang semakin modern.

“Seni budaya wayang dan seni-seni bernafas budaya jawa telah dijadikan media dakwah oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam,” ucap Bupati Demak M Natsir saat menyampaikan sambutannya.

Sementara, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga menyampaikan bahwa budaya wayang memang sudah seharusnya dilestarikan. Menurut ganjar, beberapa dalang yang sedang manggung dibeberapa kota di Jateng biasa mengirim pesan singkat kepadanya. Apa yang mau disampaikan dalam wayangan itu.

“Jadi melalui itu saya bisa memberikan pesan kepada masyarakat pesan-pesan moral yang baik. Biasanya pesannya, agar tetap rukun, hati-hati terhadap radikalisme, narkoba, dan pornografi,” ujar Ganjar.

Malam yang cerah saat itu, sorakramai terdengar di tengah-tengah pagelaran wayang. Masyarakat kadang tertawa dan kadang menyahut cerita yang disampaikan oleh dalang Ki Anom Dwijo Kangko. Seperti pada umumnya cerita itu disampaikan dengan bahasa Jawa Kromo. Dia membawakan cerita dengan baik dan bisa membawa penonton dalam ceritanya. Penonton dari anak-anak hingga kakek-kakek tidak mau tertinggal dalam acara pagelaran wayang. Ikan-ikan di kali yang terletak tak jauh dari panggung terlihat banyak dipermukaan. Seakan tak ingin kalah dengan masyarakat sekitar mendengarkan pagelaran wayang yang merupakan salah satu warisan Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di bumi Jawa.

Panggungnya cukup besar berukuran 5x5 meter. Dua tenda besar yang disediakan panitia terisi penuh. Dalang malam itu membawakan cerita  'Semar Mbangun Khayangan'.Ditemani enam sinden semakin membuat suasana tambah ramai. Sesekali sinden berinteraksi dengan dalang menyahut dan kadang mendebat dalang untuk membuat penonton tertawa dan terhibur.

Menurut Tjahjo Kumolo pagelaran wayang merupakan salah satu media untuk mensosialisasikan kecintaan terhadap Indonesia dan kebhinekaan yang sudah dimiliki Indonesia sejak lama. Sebab Presiden Joko Widodo juga ingin membangun bangsa tidak secara fisik saja, tapi juga dari moral. Untuk itu perlu diingatkan bahwa membangun karakter sangat penting. Sementara, seorang pemimpin dan pamong harus mampu menggerakkan masyarakat. agar kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik lagi.

Tjahjo mengatakan  judul 'Semar Mbangun Khayangan' pada pagelaran wayang tersebut memiliki kesamaan dengan tugas para aparatur pemerintah (pamong). Sebab arti 'mbangun khayangan' sendiri bukan membangun secara fisik, namun membagun moral pimpinannya. Pemimpin itu harus amanah.

“Saya menyimak intisari cerita Semar Mbangun Khayangan ini bukan berarti membangun secara fisik, tapi juga membangun jiwa. Bangsa Indonesia ini perlu dibangunkan jiwanya, rasa nasionalisme, implementasikan pancasila, menjabarkan sila-sila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mendagri Tjahjo Kumolo, Sabtu (29/4).

Selain itu, sambung Tjahjo, falsafah Bhineka Tunggal Ika dan NKRI bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Boleh beda agama, golongan, tetapi tetap satu sebagai warga neraga Indonesia yang hatinya harus bersih dan bergotong royong.

"Mari kita saling menyingkirkan ankara murka ini . Supaya kedepan makin sukses dan sejahtera,” ucapnya.

Yunizar Prajamufti

/prajamufti

Kembali menulis untuk terus belajar.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana