Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Selanjutnya

Tutup

Humor

Saat Sang Perjaka Tingting Pertama Kali Belajar Belah Duren dengan Perawan Semalam

11 Mei 2011   23:36 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:49 249316 2 20

Namanya Septi, lebih dikenal sebagai si perawan bengal liar, masih kuliah dan sangat cantik.

Dia aktifis kampus dan aktifis di kompasiana.Dengan gaya bergaul dan pengetahuannya yang luas sungguh mengejutkan saat si gadis mengaku masih perawan.

Yakin?

Yakin! Sebab dia tinggal di kota menengah di pulau Sumatera yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya ketimuran, walaupun  belum tentu menjunjung tinggi nilai luhur ujian nasional.

Nah, saat kegiatan ngeblog itulah dia kenal seorang cowok yang masih perjaka tulen namanya Andre, sering dipanggil sayang AA.

Dia tinggal lain kota dengan sang nona dan kebetulan ada kunjungan kerja ke kota Palembang. Mereka pun chat di FB PK.

"Kita bisa kopi darat yuk Sep?" Kata sang perjaka.

"Ayok aja bang. Ajarin saya menyelesaikan skripsi, ya. Saya masih bab III nih, padahal Juli sudah mau ujian tesis." Si nona yang tahu si perjaka bekerja di bidang yang cocok dengan tesisnya mulai menemukan celah untuk berjumpa.

"Oh, kebetulan sekali. Sep, saya mau memastikan, apa benar kamu masih perawan? Virgyn?"

"Sumpah! Eh, mas AA sendiri apa yakin masih perjaka tulen?"

"Kayaknya masih deh. Menurut mantan-mantan pacar saya sih kami belum ngapa-ngapain." Kata AA agak ragu.

"Kok AA tanya virgyn segala, apa urusannya?" Tanya Septi penasaran.

"Begini Sep, Palembang kan terkenal banyak duren, kabarnya sekarang lagi musim, yang gede sebesar kepala orang cuma 10 ribu."

"Bener, malah ada yang 20 ribu dapat tiga."

"Nah, aku di kota ini jarang ada duren.Yang ada di mall duren thailand, tapi terasa benar itu karbitan dan tidak asli. Jadi teman-teman bilang, karena aku masih perjaka, maka kalau mau belah buah duren di Palembang kalau bisa dengan perawan, jangan dengan yang tidak perawan lagi, supaya seimbang."

"Oke, kalau begitu nasehat teman-teman AA, ya sudah. Telpon saja kalau sudah sampai."

Kemudian AA datang ke Palembang, menyelesaikan urusannya dalam 2 hari dan kemudian hari terakhir, di hari ke 3 dia berjanji ketemu dengan Septi.

"Sep, mau makan duriannya dimana? Di rumahmu?"

"Iya, AA. Kebetulan rumah lagi kosong, semua pergi ke luar kota acara pernikahan keluarga. Aku yang lagi kejar tesis jadinya tinggal dulu."

Dan tepat pukul 19.00 semalam AA tiba di rumah Septi, dengan taxi. Dan sudah membawa 10 buah durian sebesar kepala orang.

"Banyak benar AA. Kan kita cuma berdua."

"Aku gak pernah makan duren sep. Jadi sekali aku belah duren, aku harus makan sepuas-puasnya." Kata AA.

Dan Septi ke belakang dulu, ganti baju dari memakairok panjang, sekarang memakai celana pendek sehingga kakinya yang putih, mulus, panjang terlihat oleh AA.

"Waw! Belah duren harus celana pendek ya Sep?"

"Iya, biar enak nanti posisinya. Kalau pakai rok panjang risih."

Dan AA pun berdebar-debar melakukannya, malam itu untuk pertama kalinya dia melakukan belah duren dengan seorang perawan di rumahnya.

[caption id="attachment_108819" align="alignleft" width="300" caption="from google"][/caption]

"Ujung durian biasanya ada ruas-ruasnya AA, nah ruas-ruas itu kita iris dengan pisau atau parang sampai kurang lebih 5 senti meter, baru kemudian kita buka ke kiri dan ke kanan. Tapi kalau masih belajar, pelan-pelan ya AA, nanti bisa berdarah."

"Iya, aku juga maunya pelan-pelan dulu."

Lalu AA melakukannya, dibantu Septi, "Hati-hati AA! Awas!"

Dan akhirnya duren berhasil dibelah, lalu keduanya menikmati masing-masing 2 buah.

Nah, sisa 6 lagi AA bawa 2 dan tinggalkan di rumah Septi 4 untuk keluarganya.

AA sangat bahagia. Ternyata duren komering di Palembang harum dan lezat luar biasa, apalagi dia memakannya langsung dari belah duren secara langsung dengan tangannya sendiri dan dia lakukan sesuai dengan saran teman-temannya, bersama seorang gadis yang masih perawan.

AA pun pulang ke kotanya dengan bahagia dengan sejuta nostalgia indah tentang belah duren yang bersejarah.

"Gimana bro belah duren di Palembang? Berhasil?" Tanya teman kantor AA, si Geboy dan Wepe.

"Sukses!Gurih, lezat, waw nikmatnya"

"Dengan perawan kan?"

"Asli!" Jawab AA mantap.

"Ada darahnya gak?"

"Iya, yang pertama kurang hati-hati, belum ngerti! Jadi ada darahnya sedikit!" Kata AA sambil senyum senang.

"Wah, hebat! Selamat bro. Berhasil kamu ya belah duren pertama yang indah dan ideal banget. Padahal aku sama Geboy yang pertama belah duren bukan dengan perawan."Kata Wepe dengan sedih sambil menyalami AA.

"Dengan siapa bro?" Tanya AA penasaran.

"Di jakarta, dengan tukang jual duren dekat taman lawang, ternyata si mamang jual duren merangkap banci juga. Dialah yang ajarin kami belah duren sekaligus berdua. Wah, gak seindah dan senikmat nostalgia belah duren pertama kamu. Sekali lagi, selamat dan salute bro!" Wepe dan Geboy menjabat erat tangan AA dengan terharu, temannya itu berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna.

Tidak semua kota banyak tersedia buah duren seperti di Palembang. Maka itu fenomena belah duren banyak yang belum pernah melakukannya sendirian, kebanyakan selama ini mengkonsumsi duren yang sudah diolah menjadi lempok (dodol duren), eskrim, kolak, dll.

Membelah duren dan memakannya langsung dari bongkahan buahnya memiliki kenikmatan tersendiri.

Tetapi sampai sekarang yang aku tidak mengerti kenapa Geboy dan Wepe sedih dan iri sewaktu AA belah duren pertama dengan perawan, sedangkan keduanya belah duren pertama dengan mamang penjual duren yang banci?

Apa hubungannya ya?