HEADLINE

Carikan Obat Untuk Pensiunan, Dok...

06 Mei 2012 19:57:58 Dibaca :
Carikan Obat Untuk Pensiunan, Dok...
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

"Dok, saya mau berobat penyakit yang lama..."Kata si bapak usia 50 tahun pertengahan sambil senyum-senyum.

"Oke, tapi saya tetap tidak mau diatur-atur ya pak? Kalau bapak mau ngatur saya, lebih baik cari dokter lain saja!"Kataku tegas dan si bapak mengiyakan, kemudian pemeriksaan fisik dilakukan setelahnya baru diberikan obat sesuai kondisi terkini si bapak yang menderita hipertensi, diabetes melitus serta rematik sekaligus 3 penyakit dalam satu badan.

"Obat yang biasa, tetapi seperlunya saja ya?"Kataku.

Ini saya perlu tekankan, karena si bapak yang kerjanya di sebuah perusahaan minyak asing suka minta ditambahin obat macam-macam di resepnya seperti vitamin mahal, antibiotik mahal, obat lambung yang mahal yang katanya untuk cadangan, padahal biasanya dijual lagi ke pasar gelap. Toh, yang menanggung biaya perusahaan.

Saya sempat menolak meresepkan dan si bapak ini marah lalu mengancam tidak mau lagi berobat pada saya dan memang dia sempat hilang beberapa lama dan berobat ke dokter lain yang mungkin bisa diajak 'nego-nego'. Tapi tumben si bapak malah datang lagi berobat denganku.

"Maaf, dok. Saya malah minta diresepin obat generik. Teman saya yang sudah pensiun dan penyakitnya mirip-mirip saya bilang dokter kasih dia obat generik yang nebusnya murah, tapi efektif membuat dia jarang jatuh sakit."Tambahnya lagi.

"Mau pensiun juga pak?"Tanyaku.

"Iya dok, empat bulan lagi. Dan kalau sudah pensiun dan diberi pesangon, otomatis tunjangan kesehatan kami hilang."Kata si bapak sedih.

Lalu akupun meresepkan 5 obat generik untuk mengatasi 3 penyakit utama si bapak untuk sebulan yang biasanya harga totalnya tidak sampai 200 ribuan.

Sebuah keputusan yang tepat dilakukan si bapak untuk mulai belajar menyesuaikan diri dengan kondisi pensiunnya. Gajinya sebagai buruh di sebuah perusahaaan minyak asing mungkin lebih cukup untuk sekedar makan, sedangkan untuk pengobatan ditanggung penuh perusahaan.

Bagi beberapa oknum pasien yang berpenyakit kronis, kondisi sakitnya ini sering dijadikan alasan untuk minta diresepkan obat-obat titipan yang mahal-mahal karena toh nanti dibayar perusahaan. Obat-obatan ini biasanya sudah ngerti dimana menukarkannya jadi uang.

Malah ada pasien yang obat untuk penyakitnya pun dijual ke pasar gelap, lalu dia berobat lagi ke puskesmas untuk mendapatkan obat generik.

Bagaimana setelah pensiun? Semua fasilitas kesehatan otomatis putus dan si bapak harus menerima keadaan menjadi rakyat jelata lagi di bidang kesehatan. Tidak ada general check up, jatah kamar perawatan kelas 2 di rumah sakit yang hebat pun musnah dan obat-obatan mahal pun akan jadi terasa mahalnya.

Nah, belum lagi anak-anak si bapak yang juga harus melepas semua fasilitas itu bahkan ketika sudah usianya memasuki 21 tahun dan tidak kuliah. Kalau kuliah lagi maka ditanggung sampai 25 tahun.

"Makanya anak perempuan saya yang ada kelainan darah tapi cantik, sedang saya jodoh-jodohin dengan pegawai perusahaan saya yang masih bujangan. Karena kalau dia nikah dengan orang biasa tanpa fasilitas kesehatan sebagus perusahaan saya, bakalan susah. Obat-obatan untuk kelainan darah mahal semua."Katanya lagi.

Wah, kalau begitu jadi mengerti mengapa semua orang rela bayar upeti kemana-mana untuk jadi PNS. Sampai pensiunpun, bahkan janda atau dudanya pensiunan pun ditanggung oleh asuransi.

Nah, jadi bagi anda yang punya keluarga berpenyakit kronis dan kemungkinan juga diturunkan, perhatikan benar fasilitas kesehatan tempat anda bekerja, apakah ditanggung seumur hidup ataukah di batas pensiun saja?

Kalau hanya terbatas semasa kerja, maka jangan biasakan tubuh anda dengan obat-obat paten yang mahal, sedari awal pakai obat-obat generik saja, tetapi yang tetap efektif.

Posma Siahaan

/posmasiahaan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?