Seni Menata Hati

06 Juni 2012 09:12:35 Dibaca :

Kehidupan di dunia bagaikan panggung sandiwara. Setiap orang berperan sesuai dengan peran yang dijalaninya. Ada yang berperan sebagai penguasa, ada yang berperan sebagai pengusaha, ada yag berperan sebagai orang bawah dan berbagai peran yang dapat kita dilhat dalam kehidupan masyarakat. Istilah ini disebut sebagai dramaturgi. Erving Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life.


Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan.  Tujuan dari presentasi dari diri,


Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.  Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau.    Dramatugi mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.    Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu.


Saat peran yang kita jalankan memegang peran yang tidak kita sukai maka sikap kita adalah menjalani dengan sebaik-baiknya. Karena apapun peran yang sedang kita jalankan merupakan peran terbaik untuk kita menurut pandangan Allah SWT. Keyakinan ini harus kita tanamkan agar dalam meniti hari dalam memerankan peran ini sesuai dengan perintah sang sutradara. Yaitu Allah SWT. Peran manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah, sebagai penguasa bumi. Manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Walau pahit getir peran yang sedang dihadapi, tatalah hati kita agar senantiasa lapang dan selalu mendahulukan berpikir positif terhadap apapun kehendak sang pemberi peran.

Popie Susanty

/popiesusanty

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang ibu empat anak yang ingin menulis kehidupan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?