Pinto Basuki
Pinto Basuki wiraswasta

wong jawa

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Seandainya Ahok Lahir dan Besar di Jawa

26 April 2017   02:17 Diperbarui: 26 April 2017   02:25 421 3 1

Karir Jokowi melesat bagai meteor tidak lain dan tidak bukan adalah peran besar dari media massa. Ya, sejak pencalonannya dari Solo menuju Jakarta hingga menjabat jadi presiden, Jokowi adalah seorang "media darling". Tentu tidak bisa dikatakan bahwa hal itu sebagai sesuatu yang negatif. Karena bisa jadi media hanya "memoles" apa yang sudah ada agar semakin mengkilap dan bersinar. Kehebatannya mengelola Solo menjadi bahan baku yang lezat untuk diolah menjadi masakan yang "mak nyus". Hingga pada akhirnya mind set yang terbentuk di publik jadi seperti sekarang ini.

"Bergaulah dengan penjual minyak wangi maka kau akan ikut terkena wanginya". Nampaknya demikianlah yang terjadi pada pusaran nasib seorang Basuki Cahaya Purnama alias Ahok. Pun ketika Ahok naik menggantikan gubernur yang naik tahta. Ketegasan dan keberaniannya menjadi olahan sedap bagi media massa. Tentunya dengan bumbu segudang prestasi yang "konon' dicapainya dalam mengelola keruwetan Jakarta. Kenapa saya katakan "konon"? Karena saya bukan warga DKi yang benar-benar tahu dan merasakan Ahok effect.Gambaran yang ada hanyalah apa yang saya baca dan saya tonton di media massa. 

Maka tak heran jika menjelang pilkada Ahok adalah calon incumben yang digambarkan dalam berbagai survei sebagai "unbeaten". Sulit dikalahkan popularitasnya. Bahkan berita miring tentang gaya komunikasinya yang ceplas-ceplos dan kadang kasar diolah menjadi citra positif sebagai ketegasan yang tak pandang bulu. Tapi disinilah nampaknya Ahok lupa, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi bahasa. 

Mulutmu harimau mu. Lawan politik nya menembak tepat di titik lemahnya. Ya bicara nya yang suka asal. Pada akhirnya membawa dirinya sendiri ke jurang "penistaan agama". Tak bisa dipungkiri jika kasus ini tidak bisa dipandang murni soal agama tanpa muatan politis, karena kasus ini mencuat tepat sebelum Pilkada. Dan Ahok terkena batunya. Popularitasnya menurun drastis. 

Sebelumnya Ahok selalu unggul dalam pemaparan-pemaran logis tentang rencana dan program-programnya. Sebagai incumben efek kebijakannya yang sudah nyata juga menjadi poin plus tersendiri. Tetapi ketika berbicara masalah agama, maka bagi kebanyakan orang awam melampaui semua itu. Agama bagi kebanyakan kita tak lagi soal logika semata. Ada fanatisme di sana yang sulit untuk digoyahkan dengan sekadar logika duniawi. Apalagi jika itu menyangkut urusan surga dan neraka.

Pada akhirnya kalah atau menang dalam kehidupan adalah hal yang biasa. Meski masing-masing orang tak selalu bisa menerimanya dengan lapang dada tetapi begitulah alur kehidupan. Maka saya hanya ingin beranda-andai saja. Jikalau saja Ahok terlahir dan besar dalam kultur Jawa mungkin akan berbeda. Dimana di sini dia bisa belajar unggah-ungguh dan tata krama. Hingga pada akhirnya dia tidak akan mengatakan apa yang tak harus di katakan. Dia akan tahu caranya berbicara dengan orang yang berbeda-beda. Meski tentu saja mungkin dia juga tak akan memiliki "kedisiplinan dan ketegasan" yang konon luar biasa itu.

Maka rasanya aneh jika ada yang mengatakan bahwa kekalahan Ahok bukan karena kasusnya itu. Jelas di sana bahwa kasus itu telah membantu memuluskan jalan gubernur terpilih. Maka adalah tanggungjawab yang berat sebenarnya bagi Anies Sandi, sebab dipundak merekalah ada juga nama baik umat Islam yang memperjuangkan mereka atas nama agama. Pada akhirnya saya pun berharap mereka bisa lebih baik atau minimal sama baik dari Ahok agar tak ada stigma buruk bagi Islam. Khususnya di Indonesia.