[Guru Punya Cerita (13)] Ternyata Oh Ternyata

16 September 2012 13:03:18 Dibaca :
[Guru Punya Cerita (13)] Ternyata Oh Ternyata
ilustrasi : internet

Dua tahun lebih gue sudah menjadi guru kelas Writing Clubs di tempat gue mengajar. Tapi anehnya selama itu—gue mengajar tak ada satu pun anak didik gue yang laki-laki ikut kelas gue. Kalau pun ikut paling tidak lama.

Karena apa? Karena anak didik gue itu tidak nyaman kalau dominan lebih banyak anak perempuannya. Jadi mereka (anak didik) gue yang laki-laki memilih untuk mencari kelas yang lain. Entah, itu kelas Manga, kelas Bahasa Inggris maupun kelas Karate/Tae Kwon Do dan sebagainya. Dan...ternyata oh ternyata pas gue selidiki saat gue bertanya—dengan salah satu anak didik gue yang tidak lama ikut kelas gue memberikan keterangan yang membuat gue lumayan membuat mulut gue nggak bisa mengkem. Ups, salah mingkemnya gue saat itu lagi sariawan akut. Jadi mulut gue kayak ikan koi yang sedang kelaparan minta diberi makanan.

Akhirnya gue pun berhasil bertanya. Lebih tepatnya sih menyelidiki kenapa dominan anak-anak didik gue perempuan semua ketimbang anak laki-lakinya.

Di suatu siang di sekolah sebelum gue mengajar. Gue bertemu dengan salah satu (mantan) anak didik gue yang pernah mencoba masuk di kelas gue. Kelas Writing Clubs. Dan terjadilah dialog antar guru dan anak didik saat itu di halaman sekolah. Layaknya seorang laki-laki dewasa gue dan anak didik, gue berbicara empat mata. Serius banget saat itu.

”Kamu kenapa Ham nggak ikut kelas Bapak lagi?” tanya gue dengan bijak selayaknya guru yang patut dicontoh:D

Gue yang bertanya seperti itu kepada anak didik gue itidak langsung menjawab. Diam sejenak sambil ekor matanya kemana-mana. Walau mukanya ada depan gue. Tapi gue merasa tidak berhadapan dengannya. Habisnya anak didik gue itu pikiranya kemana-mana. Lha wong gue ngomong serius dua rius. Lha ini yang diajak bicara pikirannya kemana tahu. Ter-la-lu:D

”Lho kok tidak dijawab Bapak tanya, Ham?” Gue kembali bertanya lagi dengan daya upaya gue agar ini anak berusia 10 tahun ini bisa buka mulut.

Ternyata ucapan gue yang kedua akhirnya disambutnya juga. Walau anak didik gue itu menjawabnya pelan. Saking pelannya kuping gue dekat ke mulutnya. Lebay ya? Ya, begitu deh:D

“Saya tidak mau Pak ikut kelas Writing Clubs. Saya malu habisnya ada pacar saya di kelas itu. Jadi saya cari kelas yang lain,” ucapnya tanpa tedeng aling-aling kepada gue.

Gdubrakkk!

Gue yang tadinya bete banget ketika gue ngomong dikacangi sejak tadi. Ketika anak didik gue kayak begitu ngomongnya. Jujur gue kagak bisa tahan ketawa. Rasanya saat itu juga mau tertawa terbahak-bahak. Tapi gue jaga image sih. Masa sih gue di depan (mantan) anak didik gue itu tertawa. Kayak nggak etis bagetkan? Ibarat, menertawakan kelucuan anak didik gue sendiri.

“Oh, begitu ya? Terus apalagi?”

”Selain itu saya juga nggak mau kalau di dalam kelas kebanyakan anak perempuannya. Nanti saya dibilang bencong,” lanjutnya lagi penuh tendensius.

Ya, ampyun segitunya anak didik gue itu. Lha, gue aja yang dulu pernah mangkal di Taman Lawang biasa-biasa aja:D. Ups, nggak kali...Itu sih lebay banget ya.

Hmm, ternyata anak didik gue yang baru seumur jagung sudah sudah punya rasa seperti itu. Sungguh saat itu ada rasa antara terharu dan tersenyum ketika gue mendengarnya!

Deuh, benar-benar anak sekarang sangat peka sekali. Sudah begitu cepat sekali mengenal dan berani suka-sukaan dengan lawan jenis. Lha gue aja suka sama cewek pas waktu SMP mulainya. Lha, beda sama anak didik gue itu. Kalau begitu berarti guenya yang salah ya? Kok gue baru suka sama cewek pas SMP beda sama anak didik gue itu.

Ternyata oh ternyata... Ternyata beda usia dan beda zaman, beda semua ya! Kalau gue di zaman jadul kalau anak didik gue di zaman digital. Pantas aja anak didikgue cari kelas lain. Zaman oh zaman. Ini yang semakin tua guenya apanya zamanyaya?

Entahlah, yang penting gue bisa mengamalkan ilmu yang gue miliki ini walau nanti gue dibilang guru jadul[]

Uray, 14/ September Ceria 2012

Tebe Tebe

/perantaukatakat.multply.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Hidup itu....Tuhan yang menentukan. Kita yang menjalaninya. Dan orang lain yang mengomentari (kepo)." (tebe)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?