HIGHLIGHT

Energi Menulis: Kerahkan Segala Perasaan, Marah Sekalipun!

09 Maret 2012 03:53:00 Dibaca :
Energi Menulis: Kerahkan Segala Perasaan, Marah Sekalipun!

Darimana datangnya energi menulis? Pertanyaan ini sering terlontar dari peserta pelatihan menulis yang disampaikan kepada saya sebagai pemateri. Ini pertanyaan sederhana tetapi cukup penting. Saya sering menunjuk diri sendiri sebelum menjawab pertanyaan itu; iya juga ya darimana datangnya energi menulis. Tanpa berpretensi tebar-tebar teori, lalu saya jelaskan hal-hal yang saya pernah alami saja sebagai jurnalis sekaligus penulis. Saya bilang, energi atau bahan bakar menulis datangnya dari diri sendiri, tidak lain. Energi terbesar adalah KEMAUAN untuk MEMULAI. Ada juga KEINGINTAHUAN yang besar akan satu hal, yang menciptakan KERAGUAN yang pada gilirannya ingin membuktikan kebenaran atas skeptisisme itu. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman saya, ada energi besar yang sumbernya ada pada diri sendiri, yaitu: RASA atau PERASAAN (emosi). Betapa pentingnya kepekaan terhadap rasa ini, sehingga saya berani menyimpulkan, tidak ada penulis yang bisa menuangkan pikiran dan gagasannya tanpa rasa ini. Rasa, perasaan, emosi, atau entah apa lagi namanya, bisa bermacam-macam. Anda tengah dilanda asmara, emosi yang Anda rasakan bisa berbeda sama-sekali saat Anda mengalami "berpulangnya" asmara secara menyakitkan. Rasa yang ekspresif dan personal itu adalah energi Anda untuk memulai menulis jika Anda MAU MEMULAINYA. Jika sudah mulai menulis, kata demi kata, kalimat demi kalimat akan mengalir tak terbendung bagai tsunami bahasa. Satu energi menulis yang berasal dari perasaan atau emosi ini adalah MARAH, GUSAR, atau GERAM. Ini rasa dan sifat yang tidak menyenangkan, cenderung negatif. Akan tetapi percayalah, ini rasa "negatif" yang bisa diubah menjadi energi positif menulis luar biasa yang sangat dahsyat! Contohnya tulisan Dewi Damayanti, seorang pegawai pajak yang juga Kompasianer, yang menuliskan kemarahan atau kegeramannya secara lugas, mengalir deras, dan masuk akal (make sense). Kemarin, 8 Maret 2012, tulisan Dewi berjudul "Terkait Kasus DW, Apakah Para Wartawan Telah Menjunjung Tinggi Profesionalisme?" menjadi Headline di Kompasiana dengan memperoleh lebih dari 2.300 pembaca dan kurang lebih 90-an komentar. Saya bayangkan, karena marah dan geramnya sebagai pegawai pajak atas pemberitaan Majalah Tempo terbaru yang menurutnya mendiskreditkan lembaga tempatnya bekerja, Dewi menulisnya dengan cepat seperti larinya Gundala Putera Petir dengan gerbong kata-kata yang mengalir bagai menuju air terjun. Setelah saya meminta izin untuk membagikan tulisan itu melalui "Nulis bareng Pepih" secara utuh, saya ingin memuat kembali bagaimana kemarahan dan kegeraman seorang warga biasa yang bukan penulis profesional, mampu mengalirkan kata dan kalimat menjadi tulisan yang bermanfaat, juga menarik jika dilihat dari sudut pandang orang yang tertohok oleh pemberitaan majalah terkemuka itu. Sidang pembaca bisa menilai sendiri kegeraman dan kegusaran Dewi yang telah ia ubah menjadi kayu bakar untuk menciptakan energi dahsyat dalam menghasilkan sebuah tulisan.

Pepih Nugraha

/pepihnugraha

TERVERIFIKASI (BIRU)

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis di funpage Facebook "Nulis bareng Pepih" dan situs pribadi http://pepih.com, mempraktikkan dan mengobarkan citizen journalis dan hybrid journalism. Bermimpi lahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal sebagai sebuah obsesi. Upaya dan langkah untuk mewujudkan obsesi itu dengan mengajar dan memberi pelatihan menulis/jurnalistik di dalam dan luar negeri, serta menjadi juri berbagai lomba menulis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?