M U Ginting
M U Ginting

penggemar dan pembaca Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Donald Trump, Ceplas-ceplos dan "Unpredictable"

20 April 2017   17:34 Diperbarui: 20 April 2017   21:59 92 0 0

'Beli Produk Amerika, Pekerjakan Warga Amerika'

Kata-kata Trump ini juga diucapkannya dalam pidato pelantikannya “We will follow two simple rules: buy American and hire American.”

Inilah usahanya untuk mengurangi pengangguran besar-besaran di AS setelah banyak perusahaan neolib meninggalkan AS pindah ke luar negeri tenaga murah, terutama ke China. Trump bilang:"One by one the factories shuttered and left our shores without a thought for millions of millions of American workers left behind. The wealth of middle class Americans has been ripped from their homes and redistributed across the world. But that is the past but now we are only looking to the future."

Terlihat jiwa dan semangat nasionlisme Trump. Tetapi lawannya memang terlalu besar, kekuatan neolib internasional, yang punya kekuatan ekonomi dan finans yang belum bisa ditandingi dan sudah dibangun sejak hampir 200 tahun, dan sudah menguasai atau memiliki pemerintahan AS sejak era presiden ke 7 AS Andrew Jakcson. Kekuatan ini bisa memperdayakan Trump seperti film palsu White Helmets serangan gas kimia Syria, dan bikin dia ketipu 'kirim' 59 Tomahawk ke Assad. Soal White Helmets baca disini

Assad lebih dibutuhkan oleh neolib untuk menjaga perpecahan dan perang di Syria supaya bisa terus menjarahi SDA minyak dan bikin uang masuk triliunan dolar ke pundi-pundi neolib. Jadi sebenarnya bukan Putin yang paling butuh existensi Assad. Tetapi sampai disini mungkin belum terpikirkan oleh Trump yang dipuji oleh Duterte sebagai orang pintar dan berpikir mendalam he he . . Ternyata masih bisa dikalahkan oleh neolib globalist penjarah SDA Syria itu dalam soal pemikiran akal-akalan atau akal bulus.

Kalau Putin bisa tertipu dan tidak mengerti kalau neolib lebih membutuhkan Assad dibandingkan kebutuhannya sendiri akan Assad, masih masuk akal karena Putin masih ketinggalan satu kakinya di era perang dingin abad lalu.

Sekarang banyak demo dan kontra demo di AS. Terakhir di Berkeley, California utara, bentrokan antara pendukung Trump (biasanya orang putih AS) dengan penentang Trump (pendukung 'multikulti' Clinton). Pendukung Trump ini menamakan dirinya nasionalist dan patriot. The main media (media the establishment) menamai mereka ini 'rasist'. Yang baru dan menarik dalam 'pertunjukan' ini ialah kalau dulu orang-orang nasionalist ini pakai tutup muka, sekarang terbalik, yang pakai tutup muka adalah orang-orang 'multikulti' Clinton itu. Orang-orang nasionalist patriot ini malah menunjukkan dirinya secara terbuka dan betul-betul gagah berani sebagai patriot dan nasionalist sejati nation AS.

Pengaruh kuat atas Trump dari kekuatan neolib global ini masih belum bisa dilawan oleh Trump, sehingga terlihat 'rasa nasionalistnya' kadang-kadang jadi goyah. Terlihat juga dari pernyataannya terakhir kalau NATO 'no longe obsolete' katanya. Mulanya dia juga yang mengatakan NATO obsolete karena didirikan tadinya untuk melawan Pakta Warsawa yang sudah lenyap, tepat memang alasannya. Tetapi dalam kegoyahan itupun dia masih ada 'rasa' nasionalisnya seperti dia sering mengulangi lagi kalimat dalam pidato pelantikannya soal 'buy american and hire american'.

Dari analisa seorang wartawan AS Allan Nairn bahwa serangan terhadap Ahok adalah serangkaian usaha makar terhadap pemerintahan Jokowi dari pihak AS. Analisanya bagus dan menunjukkan bukti-bukti nyata sehingga kesimpulannya bisa dikatakan ilmiah, sesuai dengan anlisa banyak ahli dan akademisi dunia. Tetapi belum terlihat analisa perbedaan antara Trump dengan presiden-presiden sebelumnya yang pada pokoknya adalah boneka-boneka dari the secret government dibelakang layar. 

Sekarang AS dipimpin oleh Trump. Dan bahwa Trump sekarang mewakili nasionalis AS, peranannya dalam soal mencampuri urusan negeri lain pasti tidak sama dengan presiden-presiden sebelumnya yang pada hakekatnya adalah boneka neolib atau 'the party of money' (Gore Vidal) atau boneka dari 'the secret government' yang berada dibelakang layar. Trump bertentangan dengan globalist neolib ini. Dia tidak tunduk kepada 'the secret government' neolib. Karena itu juga dibilang bahwa 'Obama was the last gasp of neoliberalism', presiden terakhir sebagai boneka neolib. Trump menentang neolib, menentang politik globalist internasional. "We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example for everyone to follow."katanya.

Dalam pertarungan politik dunia sekarang dimana kontradiksi pokoknya adalah perjuangan antara kepentingan nasional nation-nation dunia kontra kepentingan internasional neolib global hegemony, Trump adalah pahlawan sejarahnya di AS setelah hampir 200 tahun dikuasai kekuatan neolib. 

(Sekarang dinamakan neolib global, semula, 1933 dinamai 'the finance element of the large centers' oleh presiden Roosevelt). 

Tetapi apakah Trump bisa berhasil atau tidak melaksanakan cita-cita mulia nasionalisme itu, masih jadi tanda tanya karena kekuatan penentangnya dalam semua lapangan masih tak bisa ditandingi oleh kekuatan Trump yang pada dasarnya masih dalam pertumbuhan tetapi sangat pesat, bukan hanya di AS tetapi seluruh dunia, terutama di negeri-negeri maju barat seperti Brexit. Kebangkitan kembali nasionalisme adalah arus jaman.

Trump orang pandai kata Duterte,tetapi gampang diakal bulusi. Sikap ceplas-ceplosnya bikin celaka sendiri karena dimanfaatkan orang licik, sampai kirim Tomahawk ke Assad. Sebentar lagi bisa juga giliran 'anak muda' Korut presiden Kim Jong-un terkena getah ceplas-ceplos Trump dapat 'kiriman' Tomahawk, karena  Trump adalah unpredictable.