HIGHLIGHT

Gua Gudawang, Bogor

21 Maret 2011 13:42:39 Dibaca :
Gua Gudawang, Bogor
Mulut Gua Simasigit, seperti mulut macan

Sabtu-Minggu kemaren (19-20 Maret 2011), saya dan rombongan menghabiskan weekend di salah satu gua yang cukup terkenal di Bogor, yaitu Gua Gudawang. Gua ini terletak di Kecamatan Cigudeg,  Bogor. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih satu jam dari kampus IPB, Dramaga. Tiket masuk gua ini tergolong murah, yaitu Rp. 2.500/org. Kami berangkat dari kampus sekitar pukul 20.45 dan tiba di pintu masuk sekitar pukul 22.35 (sempet nyasar dulu). Begitu tiba, kami melakukan persiapan penelusuran gua, seperti sepatu, senter/headlamp, helm, dll. Terdapat tiga gua dalam komplek Gua Gudawang ini, yaitu Gua Simenteng, Simasigit, dan Sipahang.  Gua pertama yang kami masuki adalah Gua Simenteng atau biasa disebut Gua Simacan. Begitu masuk ke dalam gua, suasana pengap dan bau kotoran kelelawar (guano) mulai terasa. Terdapat pengaman di sisi kanan-kiri jalan berupa pegangan besi. Terlihat juga kabel-kabel listrik dan lampu-lampu di langit-langit gua. Namun, lampunya tidak menyala. Makin masuk ke dalam, udara mulai panas. Saya mulai merasakan kesulitan bernafas dan pusing. Tanpa menunggu lama lagi, saya dan seorang teman memutuskan untuk keluar. wheew, ternyata teman saya juga merasakan gejala yang sama, malah sempat mual katanya. Ini terjadi mungkin karena oksigen di dalam gua sedikit dan rombongan kami terlalu banyak (11 orang). Sehingga pasokan oksigen ke tubuh berkurang. Puas dengan Gua Simenteng, kami memutuskan untuk beristirahat. Sambil menunggu supermoon sie ceritanya, haha. Kami mendirikan tenda di dekat Gua Sipahang. Gua ini berjarak sekitar 100 m dari pintu utama. Saat mendirikan tenda, tidak sengaja tangan saya menyentuh daun pulus (Laportea stimulans). Whaa perihnya terasa sekali, seperti ditusuk-tusuk jarum. Untung teman saya ada yang membawa minyak kayu putih, jadi perihnya agak berkurang. Malam semakin larut, kami mulai menghangatkan diri dengan merebus mie, menyeduh kopi hingga membuat nutri jell. Mengisi malam dengan lagu-lagu dari playlist handphone sambil sesekali bernyanyi. Malam yang menyenangkan. Sayang sekali supermoonnya tidak kelihatan, tertutup kabut. Esoknya, sekitar pukul 8.30 kami memasuki gua yang kedua, Gua Simasigit. Gua ini, merupakan gua terpendek. Ornamen guanya juga tidak terlalu banyak. Setelah puas, kami memasuki gua yang ketiga, yaitu Gua Sipahang. Nah, gua ini yang paling panjang, paling menarik. Pintu masuk gua ini juga yang paling unik. Kita harus menuruni anak tangga dulu ke bawah untuk sampai di mulut gua. Banyak ornamen yang menarik kami temukan di gua ini, stalaktit, stalakmit, pilar, dll.  Chambernya juga besar-besar. Jalur gua ini juga menantang, kami sampai harus merangkak dan merayap. Disepanjang jalur kami menemukan aliran air. Tiba-tiba teman saya yang di depan berteriak, whaa ada ular!. Kontan saya yang posisinya paling belakang rombongan mencari-cari tempat yang aman. Kami menaiki salah satu batu yang tidak terendam air. Tidak lama kemudian, ular berwarna terang itu, melenggak-lenggok tepat di dekat kaki saya, whaaaaaa!!! Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami tiba di jalur yang sangat menantang. Kami harus melewati aliran sungai yang dalamnya melebihi tinggi saya. Pelampung mulai kami pakai. Tim pun kami bagi menjadi dua. Saya termasuk tim pertama dan lagi-lagi posisinya paling belakang. Dinding-dinding gua mulai menyempit, hanya bisa dilewati satu orang. Karena airnya dalam, rasanya seperti berenang di kolam biasa. Bedanya suasananya yang gelap dan bau kotoran kelelawar. Perasaan ngeri ada juga. Takut tiba-tiba ada ular lagi yang lebih besar atau makhluk lainnya, hiiii (seperti difilm-film). Kami terus berenang, melewati kelak-kelok jalur. Kadang menyempit dan kadang melebar. Sampi kami tiba di jalur yang benar-benar mentok dan tidak bisa dilewati. Kami memutuskan untuk kembali ke tempat tim 2  istirahat. Tim 2 pun berangkat. Sekitar 30 menit kemudian mereka kembali. Cerita mereka juga sama. Mentok sampai tidak bisa melewati jalur lagi.  Setelah istirahat, minum dan makan cemilan yang di bawa. Kami kembali ke tenda. Rasa gatal menjalar di seluruh tubuh terasa di sepanjang perjalanan. Begitu sampai di tenda, tanpa membuang waktu saya langsung mencari kamar mandi untuk bilas dan ganti baju. Gatalnya mengerikan haha.. Seru sekali berwisata ke dalam gua. Kami banyak menemukan hal-hal yang unik. Melihat ornamen-ornamen yang menakjubkan, biota-biota gua, seperti udang, kelelawar, jangkrik, kodok, hingga ular, berenang di dalam aliran sungai, merasakan kegelapan abadi, suasana lembap dan bau khas kotoran kelelawar. Dan yang paling menyenangkan itu, gatal-gatalnya, hahaha.. Tidak ada salahnya sekali-kali kita menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini. Menelusup ke dalam perut bumi, untuk menyaksikan betapa indah ciptaanNya. Banyak teman saya yang mengatakan, bahwa di dalam gua lah dia bisa merasakan kesunyian dan kegelapan yang menenangkan :) Berikut foto-fotonya: 13007139101678123647

13007140781859564513
Suasana dalam Gua Simasigit
130071415466771633
Salah satu ornamen gua. kelap-kelip begitu kena cahaya
1300714249388897801
Bagaimana menurut anda? cave painting manusia purba atau??
13007143761780019509
Air yang tergenang juga ada
13007144671017483611
Merayap pun jadi!
1300714529595413031
Air sudah sepinggang, kesananya lagi harus pakai pelampung
13007145931954226421
Menuju cahaya dan udara segar, yeeey!!
1300714673653174795
Perlu diingat, inilah daun pulus. Jangan sampai menyentuhnya, hehe
13007148351255831586
Ular kecil yang sempat difoto. Ular yang lebih besarnya (panjang kuranglebih 50 cm), yang berenang di sungai tidak sempat difoto. Warna nya sama, kira-kira berbisa tidak ya?

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?