PILIHAN HEADLINE

Roger Milla, Mario Kempes, hingga Essien, Apa yang Diperoleh?

18 April 2017 18:32:55 Diperbarui: 26 April 2017 10:15:40 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Roger Milla, Mario Kempes, hingga Essien, Apa yang Diperoleh?
Essien yang kini berkostum Persib. Juara.net

Heboh kedatangan Essien yang pernah ada di klub elit Eropa, melengkapi kegirangan karena pelatih timnas adalah pelatih timnas Spanyol yang pernah membawa juara. Soal pemain masa lalu yang besar dan tenar tidak kurang-kurang, pernah ada Mario Kempes bintang Argentina, Roger Milla bintang Kamerun. Apa yang didapat Indonesia?

Dulu, prestasi Indonesia masih bisa sejajar bahkan di depan saat pemain semua asli orang Indonesia, bukan pemain asing. Kesempatan untuk main dan dikontrak lebih besar daripada ada pemain luar. Benar bahwa zaman makin mengglobal, namun apakah sudah siap bersaing?

Pemain asing tidak kok langsung dinilai sebagai penyebab terpuruknya pemain lokal, tidak juga, atau ambil pemain bekas besar juga buruk. Toh USA bisa berbuat banyak dengan penggunaan pemain ex-bintang.

Sikap belajar bangsa ini perlu ditingkatkan.

Transfer ilmu dan skil ternyata tidak berjalan. Miris malah pemain asing ikut tabiat pemain lokal yang main keras bahkan kasar, aturan dilanggar sebagai hal biasa. Terbaru malah ada upaya akal-akalan agar pemain asing bintang tetap bisa bermain dengan mengakali aturan. Entah apa maunya pejabat PSSI ini.

Orientasi penonton dan uang, termasuk sponsor, prestasi nanti dulu

Uang atau materi itu konsekuensi logis atas prestasi, jangan dibalik. Paradigma di Indonesia, juga sepakbola, uang dulu, padahal jika prestasi baik, pengelolaan bagus, uang, sponsor, pemain baik akan berdatangan, bisa jauh lebih murah tentunya. Prestasi masih juga berkutat level trakam, tapi pembelanjaan pemain gila-gilaan, dari mana coba?

Tabiat potong kompas bukan pembinaan berjenjang.

Maunya seperti Barcelona, Madrid, MU, atau Juventus, tapi mereka punya akademi dari sangat dini, di sini mana ada? Mengandalkan talenta alam yang kebetulan ditemukan, hal ini harus diubah, ciptakan bakat-bakat alami, jual hingga ke luar negeri, coba uangnya besaran mana? Contoh Arsenal, meski prestasi sama di sini, tapi memang orientasi beli pemain yang biasa dijaul sangat mahal. Toh mereka masih peringkat empat berabadabad. Jelas ada tujuan yang mau dicapai. Pembinaan tidak ada, jual beli pemain seperti kacang rebus.

Banyaknya kepentingan di luar sepak bola.

Susahnya sepak bola ini sama dengan soal swasembada beras, kemauan berubah. Toh kini beras bisa mampu swasembada, mengapa? Karena tegas menghindari kepentingan kelompok (importir dan pejabat korup), dan mau kerja keras. Sepak bola juga, bagaimana ada Mario Kemps, dihukum FIFA tapi masih saja hal yang sama dilakukan. Kalau pemain baik sedikit disanjung setinggi langit kalau jatuh terhempas koma, ditinggal pergi. Ini beban untuk si bintang, contoh U-19 era Indra Sjafri, dielu-elukan setinggi langit, pas hancur karena kepentingan, semua lari. Beban bagi pemain juga bagi yang tidak bisa ke sana menjadi frustasi.

Pemain ya itu-itu saja.

Luar biasa Indonesia ini banyaknya talenta, bakat, dan pemain muda bahkan belia. Namun yang diperbincangkan atau diperebutkan, masuk timnas ya itu-itu saja. Ini tentu membuat semangat menjadi kendur dan tidak lagi ada antusiasme yang seharusnya ada dalam diri pemain.

Kebanyakan gaya daripada harga

Entah dari mana model harga uang kontrak yang gila-gilaan, kalau dipandang dari kualitas sebenarnya belum sampai sebesar itu sebenarnya. Bukan merendahkan kualitas pemain namun harga yang terlalu mahal, banyak yang belum sesuai profilnya. Di satu sisi bisa meningkatkan kesejahteraan pemain dan keluarga, namun di sisi lain bisa membuat rusak industri yang mau dibangun.

Hukum, regulasi, dan peraturan yang bisa dengan seenaknya diganti

Hal ini sejak zaman anjing gigit orang hingga kini orang gigiti anjing masih juga  dilakukan. Susah berubah jika paradigma yang sama, hanya ganti orang bukan sistemnya yang diperbaiki. Ini sama juga mesin rusak yang diganti sopirnya. Kerja keras dan kerja cerdas diperlukan, sehingga tidak jalan pada tempat yang sama, bahkan mundur.

Masa depan dan masa lalu,

Meskipun sekelas Messi pindah ke sini, hanya penonton dan sponsor yang ramai, soal prestasi sami mawon, tidak akan ada perubahan signifikan. Selalu saja mengatakan lalu lalu, bangga sejarah, lupa masa depan.

Perilaku pegiat bola masih saja jalan di tempat, dibekukan sekian lama juga tidak berubah, mau ke mana timnas jika demikian terus? Pembinaan sangat penting, daripada “import” mahal, beri kesempatan pemain lokal untuk mengglobal.

Jayalah Indonesia

Salam

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana