Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Kekerasan Antar-Kesatuan Polri dan TNI

12 Agustus 2017   07:12 Diperbarui: 12 Agustus 2017   07:14 395 17 10

Selalu saja terulang kasus, peristiwa, kejadian, dan berita penganiayaan polisi dan tentara. Aparat negara yang dibayar oleh negara dengan uang rakyat, harusnya bekerja untuk bangsa dan negara. Selama ini, apa yang  terjadi?

Kisah Terbaru dan Penanganannya

Polisi yang menegur tentara yang tidak tertib berlalu lintas, pemukulan dan divideokan pihak lain, dan menjadi konsumsi publik, artinya, luar negeripun bisa membaca, betapa rapuh kepribadian bangsa ini. syukurnya satu pihak diam saja, apapun alasannya, entah takut, entah tahu diri, entah karena lebih muda, atau apapun yang jelas tidak menimbulkan kerusuhan lebih besar. Misalnya si polisi membalas, kemudian terjadi perkelahian di tengah jalan, bisa dibayangkan apa yang terjadi. minimal kemacetan luar biasa, bisa juga kematian sia-sia.

Pihak kepolisian memberi penghargaan atas kesabaran anggotanya. Apresiasi yang baik agar polisi bisa bertindak sabar di dalam melakukan pekerjaannya yang tidak mudah apalagi di jalan. Luar biasa mengenakan seragam di depan banyak orang, di tempeleng tidak membalas. Secara naluriah, tidak akan ada rasa takut itu selain membalas apapun risikonya, menggunakan seragam, biasanya korp ikut terbawa.  

Pihak TNI menyatakan kalau anggota yang melakukan kekerasan itu diindikasikan menderita skizofrenia. Menarik jika ini benar diderita prajurit, bagaimana psikotest bisa meloloskan calon prajurit yang diindikasikan memiliki kecenderungan seperti ini, atau memang tstnya tidak sampai bisa mendeteksi sampai sekian tahun ke depan? Atau ada sebab lain. Taruhlah pribadi ini menderita setelah menjadi prajurit, mengapa tidak segera mendapatkan perawatan. Betapa bahayanya tentara memiliki persoalan seperti itu. Ini persoalan keamanan, belum lagi, jika memegang senjata api.  Apalagi menjadi intelijen, bagaimana prajurit yang demikian bisa menjadi intelijen?

Penyelesaian atas nama adat timur

Hampir selalu penyelesaian model ini adalah damai, semua saling memaafkan, hanya salah paham atau salah komunikasi. kekerasan adalah kriminal. Belum lagi jika membesar seperti di Sumatera Selatan beberapa waktu lalu bahkan ada pembakaran markas atau kantor, berapa beaya yang harus ditanggung negara?  Damai, memaafkan, dan kekeluargaan atas nama kemanusiaan, perilaku kriminal perlu dihukum dengan tegas, apalagi jika sudah merugikan keuangan negara, merusak, dan menghancurkan. Hukuman atasan langsung susah diharapkan apakah terjadi, nyatanya perilaku arogansi selama ini terus saja terulang.

Penegakan hukum mendesak

Efek jera bukan balas dendam. Perilaku pribadi bukan korps atau lembaga. Harusnya lembaga malu bukan membela anak buahnya yang serupa preman itu. Bangga itu jika berprestasi, menang dalam lomba atau pertandingan di arena resmi, bukan berkelahi di jalanan atau membakar milik umum dan negara, itu memalukan.  Harus dipisahkan dan disadari bahwa menang menghajar sesama aparat negara itu memalukan, apalagi jika melanggar hukum.  Malah berganda malu dan mencoreng nama baik korps bukan sebaliknya.

Sikap iri dan arogansi korp

Pada dasarnya sikap manusia untuk iri dan dengki pada yang berbeda itu ada, bagaimana manusia yang berakal budi seharusnya menepikan hal tersebut. Malu jika bertikai bukan malah bangga kalau berselisih dengan rekan yang memiliki perbedaan.  Polisi dan tentara harusnya saling mengisi dan melengkapi, bukan malah saling iri dan mengedepankan sikap ego sektoral.  Ini negara beradab bukan biadap.

Kekerasan beda dengan tegas

Entah bagaimana membangun bangsa ini yang begitu menghidupi kebiasaan salah kaprah. Kapan tegas, kapan keras, kapan bar-bar saling sengkarut. Menghadapi teroris malah lembek, kalau menghadapi sesama penegak hukum malah galak minta ampun.  Sikap tegas tidak berani pada korp lain, tapi jika menghadapi rakyat biasa, jangan tanya, garangnya luar biasa.

Penegakan hukum yang lemah

Atas nama kekeluargaan, menangis alay, menyesal yang tiba-tiba selalu melingkupi kasus-kasus demikian. Bagaimana kekerasan di bandara juga merupakan kisah klasik yang terus menerus terulang, sebagaimana kekerasan antarkesatuan antara tentara dan polisi.  Memaafkan berbeda dengan sanksi. Jangan campur adukkan antara kemanusiaan dan hukum. Selama ini atas nama kemanusia, hukumpun bisa dilanggar.

Tabiat buruk, terulang, dan tidak ada pelajaran yang dimaknai

Heran, hal demikian selalu saja terulang. Apalagi usai reformasi yang eranya maju, malah munudr menjadi barbar dan arogansi semena-mena. Bagaimana negara dibangun dan dikendalikan atas kekerasan demi kekerasan.  Penyelesaian yang begitu-begitu juga. Lingkaran setan yang dilestarikan dan tidak diupayakan untuk dibenahi.

Bangga Korps yang salah dan keliru

Bangga itu pada ranah prestasi, kemenangan, kebenaran, bukan jagoan jalanan, apalagi modelpreman berseragam begitu.  Korp sepanjang benar dan baik layak dibanggakan, melanggar aturan atas nama korp mana ada, kecuali orang sakit.

Bangsa atau hukum rimba?

Entah mengapa bangsa ini dikuasi rimbawan. Hutan banyak yang gundul, sehingga hukumnya pun dibawa ke kota dan menjadi gaya hidup banyak orang. Hukum rimba siapa kuat dia menang, apa bedanya dengan hewan yang tidak memiliki akal budi tersebut?

Seleksi yang amburadul, teladan yang buruk

Dimulai seleksi yang tidak jelas, belum transparan, dan penuh aroma uang, masih diperparah dunia politik yang gerah dan banyak masalah, perebutan kemenangan dan kekuasaan sangat menular. Lingkaran setan lain yang perlu dibenahi dan diselesaikan dengan segera.

Apakah akan begini terus menerus bangsa ini? Main kuasa seperti negeri terjajah saja. Tangan dan kaki lebih cepat dari otak. Mulut untuk mencaci.

Salam