pilihan headline

Apakah Freeport Bermanfaat bagi Orang Asli Papua?

9 April 2017   14:28 Diperbarui: 10 April 2017   18:14 639 5 2
Apakah Freeport Bermanfaat bagi Orang Asli Papua?
Sumber gambar: wartaekonomi.co.id

Akhir-akhir ini PT Freeport Indonesia secara tidak proporsional sering disorot dan dikritik, seakan perusahaan ini seenak perutnya mengeruk sumber daya alam Indonesia untuk keuntungan sendiri tanpa memberi manfaat bagi bangsa Indonesia dan khususnya bagi orang asli Papua yang masih miskin di negerinya yang kaya.

Orang lalu bertanya: kalau begitu apa manfaat kehadiran Freeport selama lima puluh tahun ini bagi Orang Asli Papua? Apakah selama 50 tahun ini Freeport menutup mata terhadap realitas sosial ekonomi masyarakat asli Papua tanpa berbuat sesuatu untuk menolong?

Menyadari Risiko Pertambangan
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, perlu kita menyimak apakah pimpinan perusahaan ini sejak beroperasi di Tanah Papua pernah memiliki kepekaan sosial dan menunjukkan kepedulian terhadap orang asli Papua khususnya mereka yang hidup di sekitar daerah operasinya ataukah tidak punya kepedulian sama sekali dan hanya semata mengeruk keuntungan.

Wilson Forbes, geolog yang menemukan kembali Ertsberg pada tahun 1960 dan yang kemudian ditunjuk sebagai Presiden Freeport Indonesia pertama antara tahun 1966 - 1974 dalam prolog bukunya “The Conquest of Copper Mountain” (New York, ATHENEUM 1981) menulis, “One of our biggest challenges was to find ways of helping the simple Stone Ages people in the area adjust to their sudden confrontation with the technological and social complexities of modern western civilization. Our goal was to improve their austere living conditions without disturbing the valuable qualities of their traditional existence.

Terjemahannya: “Salah satu tantangan terbesar kita adalah menemukan cara-cara untuk menolong orang-orang sederhana yang masih hidup di zaman batu di wilayah ini menyesuaikan diri dengan kompleksitas teknologi dan peradaban barat moderen yang secara tiba-tiba diperhadapkan kepada mereka. Tujuan kita adalah meningkatkan kondisi kehidupannya yang sederhana tanpa mengganggu nilai-nilai berharga dari tradisi kehidupannya.”

Dari awal Forbes Wilson sudah menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi perusahaan ketika beroperasi adalah bagaimana menyejahterakan masyarakat asli Papua di sekitar kawasan pertambangan tanpa mencederai eksistensi budaya dan tradisi mereka dengan nilai-nilainya yang berharga. Dia juga sadar bahwa loncatan raksasa yang harus dilakukan orang asli Papua di wilayah itu dari zaman batu ke zaman teknologi moderen dalam hitungan puluhan tahun bukanlah sesuatu yang mudah, sementara sejarah peradaban manusia mengajarkan kepada kita bahwa masyarakat-masyarakat di belahan dunia lain yang sudah pernah melewati zaman batu membutuhkan waktu ratusan dan bahkan ribuan tahun untuk mencapai tahapan kemajuan seperti keberadaan mereka sekarang ini khususnya masyarakat-masyarakat barat yang sudah maju. Perobahan memang diperlukan namun harus dilakukan dengan berhati-hati agar tidak menimbulkan cultural-shock dan future-shock yang menyakitkan dan bahkan menimbulkan frustasi dan perlawanan terhadap semua yang datang dari luar. 

George A. Mealey salah seorang pejabat eksekutif Freeport dalam bukunya “Grasberg” yang diterbitkan pada tahun 1996 menulis, “Bagi orang luar, kehidupan suku Amungme dan Kamoro sebelum adanya operasi tambang, dibayangkan sebagai kehidupan sederhana yang indah. Tetapi kenyataan menunjukkan sebaliknya, di mana tingkat kematian bayi mencapai 50 persen, penyakit pernafasan dan gangguan pencernaan merupakan penyakit umum, sedang orang-orang muda yang sehat, mati dalam perang antar suku.”

Padangan-pandangan ini menunjukkan bahwa para pimpinan perusahaan ini sejak awal sudah menyadari realitas yang ada dan tidak menutup mata terhadap realitas social yang ada di sekitar perusahaan. Mereka berusaha memahami apa yang seharusnya dilakukan untuk membantu masyarakat asli agar dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang pasti akan melanda kehidupan traditionalnya akibat hadirnya Freeport dengan segala modernitas yang menyertainya. Mereka harus dipersiapkan untuk berperan serta dan memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka demi meningkatkan kesejahteraannya dan tidak menjadi korban dari perobahan-probahan tersebut.

Program-program Strategis dan Prioritas
Freeport memandang pendidikan sebagai salah satu aspek penting dan faktor kunci untuk mempersiapkan masyarakat asli Papua menghadapi perubahan tersebut terutama generasi muda di area operasi pertambangan. Selain memberikan ribuan bea siswa (9.500 beasiswa) bagi pelajar dan mahasiswa agar dapat melanjutkan pendidikannya di Papua, di luar Papua dan 67 beasiswa untuk pendidikan di luar negeri serta pendirian Institut Pertambangan Nemangkawi untuk melatih orang asli Papua agar trampil menjadi pekerja tambang yang handal. Perusahaan juga membangun empat sekolah berasrama untuk menampung anak-anak dari desa-desa terpencil di sekitar areal pertambangan agar tidak tertinggal dalam memasuki dunia moderen yang hanya bisa dimasuki melalui pintu pendidikan. Inilah langkah-langkah strategis dari perusahaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia orang asli Papua. 

Selain pendidikan, perusahaan juga memandang pembangunan kesehatan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan rumah sakit untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada suku Amungme dan Kamoro serta lima suku kerabat lainnya baik di kawasan pegunungan maupun di dataran rendah. Kesehatan merupakan hal yang dinilai sangat penting oleh perusahaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakatnya serta mengatasi berbagai macam penyakit serta berbagai masalah kesehatan lainnya yang dihadapi masyarat seperti malaria, TB, kesehatan ibu hamil. Sebagai gambaran, pada tahun 2015 Rumah Sakit Mitra Masyarakat di dataran rendah mendapat kunjungan pasien sebanyak 123.343 orang sedangkan rumah Sakit Waa Banti di dataran tinggi serta klinik umum dan spesialis yang ada mendapat kunjungan pasien sebanyak 58.010 orang. 

Para seniman ukir suku Kamoro disebut maramowe. Dan, tidak semua warga Kamoro bisa menjadi maramowe. (Maulana Bachri/Kompas TV)
Para seniman ukir suku Kamoro disebut maramowe. Dan, tidak semua warga Kamoro bisa menjadi maramowe. (Maulana Bachri/Kompas TV)

Dibandingkan dengan jumlah penduduk seluruh kabupaten Mimika yang diperkirakan berjumlah 300.000 orang dapat diasumsikan bahwa lebih dari separuh penduduk Kabupaten Mimika mendapat pelayanan kesehatan melalui bantuan perusahaan. Angka-angka ini dari tahun ke tahun terus meningkat sebagi indikasi tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Kasus-kasus malaria mengalami penurunan yang drastis antara tahun 2011 – 2014 sampai mencapai 70% sedangkan angka keberhasilan pengobatan TB mencapai keberhasilan 99%.

Program-program pengembangan ekonomi masyarakat Amungme dan Kamoro dengan 5.890 kelompok usaha yang sebagian besar terdiri dari kaum perempuan dengan total bantuan Rp 192 miliar terus dilakanakan oleh perusahaan melalui Yayasan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro yang mengelola dana 1% dari keuntungan kotor perusahaan yang setiap tahunnya mencapai miliaran rupiah. Selain itu dilaksanakan pengembangan ekonomi berbasis desa meliputi pengembangan 181 ha lahan kakao di dataran rendah dan 33,4 ha lahan kopi di kawasan pegunungan. Demikian juga usaha perikanan dan peternakan.

Sejak tahun 1992 – 2015 perusahaan juga mengucurkan dana sebesar US$ 1,4 miliar untuk kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat sebagaimana diuraikan secara singkat di atas. 

Selain pengembangan masyarakat, perusahaan juga terus menciptakan lapangan kerja bagi orang Indonesia pada umumnya dan orang asli Papua pada khususnya. Berdasarkan data tahun 2015, Freeport telah memberi lapangan pekerjaan bagi 32.416 karyawan terdiri dari Karyawan langsung Freeport sebanyak 12.085 orang, yang terdiri dari karyawan non Papua sebanyak 7.612 orang dan karyawan Asli Papua sebanyak 4.321 orang. Sedangkan karyawan yang bekerja pada perusahaan mitra, kontraktor dan hasil didikan Institut Pertambangan Nemangkawi yang sedang magang sebanyak 20.321 orang termasuk karyawan Asli Papua sebanyak 3.598 orang. Dengan demikian maka karyawan asli Papua yang memperoleh pekerjaan di Freeport dan para mitra dan kontraktornya berjumlah 7.919 orang yang dari tahun ke tahun terus meningkat.

Sejak tahun 1996 Freeport terus berkomitmen untuk meningkatkan jumlah karyawan Papua baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Saat ini 6 orang asli Papua telah menduduki jabatan sebagai Vice President, 40 orang asli Papua telah menduduki jabatan sebagai manager dan senior staff.

Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) terus memainkan peran penting dalam mempersiapkan dan meningkatkan jumlah karyawan asli Papua yang bekerja di Freeport maupun di kontraktornya. Sejak didirikan pada tahun 2003, kebijakan IPN adalah memberi kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi orang asli Papua dengan komposisi asli Papua 91% dan non-Papua 9%. IPN sudah menghasilkan 3.855 siswa magang dan 2.353 lulusannya sudah bekerja di Freeport dan perusahaan kontraktornya. Melalui IPN masyarakat asli Papua mendapat kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku profesional di bidang operasi dan penunjangnya dengan masa belajar 3 tahun dengan 4 bulan masa belajar off-job dan 8 bulan on-job.

Dengan demikian Freeport merupakan pemberi lapangan kerja terbesar bagi masyarakat asli Papua di luar sektor Pemerintah Daerah. Melalui Freeport orang asli Papua memperoleh kesempatan untuk meningkatkan ketrampilannya di sektor pertambangan moderen dan memperoleh pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraannya. Peluang seperti itu hanya bisa tercipta karena perusahaan ini berada di Papua dan punya komitmen untuk melibatkan orang asli Papua sebagai wujud dari komitmen para pemimpinnya. 

Orang asli Papua terus diberdayakan sehingga berperan serta dan melalui pekerjaannya mereka dapat membiayai pendidikan anak-anaknya di lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan bahkan sesuai budaya Melanesia mereka juga dengan gajinya yang cukup, ikut membiayai anggota keluarga besarnya yang masih kurang beruntung di kampong-kampong termasuk ikut membiayai anak-anak mereka yang sedang bersekolah.

Kehadiran Freeport telah menjadikan Kabupaten Mimika suatu pusat pertumbuhan ekonomi baru di bagian selatan Papua, suatu daerah yang sebelumnya hanya berpenduduk kurang dari 1000 orang dan berstatus kecamatan atau distrik tanpa infrastruktur. Sekarang, setelah PT Freeport beroperasi di wilayah ini, telah terbangun berbagai infrakstuktur yang memadai untuk menunjang tugas-tugas pemerintahan demi memajukan masyarakatnya.

Catatan-catatan ini masih banyak lagi namun dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada pengembangan masyarakat yang selama ini oleh sementara pihak seolah-olah dianggap tidak pernah menjadi kepedulian perusahaan. Pengembangan masyarakat dan kemajuan yang dicapai tidak semuanya dapat dikuantifikasi karena ada yang bersifat kualitatif. Kita misalnya sulit mengukur hasil pendidikan dan perbaikan kesehatan rakyat dengan efek gandanya di masa depan. Demikian juga kontribusi yang telah diberikan untuk memungkin lahirnya suatu kabupaten baru.

Hal-hal ini ditulis untuk memberitahukan bahwa Freeport sesuai porsi tanggung-jawabnya akan terus bersama pemerintah membangun Papua sebagai wujud tanggungjawab kemanusiaan yang sudah menjadi komitmennya. Freeport tidak mungkin mengambil alih tugas-tugas pemerintah dalam mengurus rakyat tetapi akan selalu merupakan partner terpercaya untuk ikut memberikan dukungannya demi memajukan rakyat Papua. 

Freeport sadar banyak yang masih harus dikerjakan untuk memajukan masyarakat asli Papua dan dalam memasuki fase perkembangan berikutnya Freeport tetap akan bekerja berdampingan dengan pemerintah sebagai partner terpercaya untuk bahu membahu melaksanakan tugas mulia ini. 

Penulis,

Simon Patrice Morin
Mantan anggota DPR-RI
Tinggal di Papua/Jakarta