HIGHLIGHT

Innocentia Perubahan dalam Pilkada DKI

15 September 2012 18:45:13 Dibaca :
Innocentia Perubahan dalam Pilkada DKI

Hal menarik di hari pemungutan suara Pilkada DKI 2012 yang akan dihelat beberapa hari ke depan adalah peluang kemenangan Jokowi. Menariknya Jokowi, karena ia tak lain sang penantang yang tidak mengandalkan mobilisasi uang.

Dengan menulis demikian, saya tidak bermaksud mengkampanyekan kemenangan Jokowi dan melemahkan kemungkinan Foke memimpin kembali Jakarta. Dalam dinamika politik yang serba tidak pasti, meskipun Jokowi telah unggul di putaran pertama, Foke boleh jadi menang di putaran kedua.

Tetapi, sebagai anak bangsa yang merindukan perubahan, saya sangat berkepentingan untuk terus mengkampanyekan nilai-nilai perubahan itu.

Hemat saya, sumbatan perubahan paling besar yang kita hadapi adalah maraknya praktik politik uang. Politik sebagai gerbang utama perubahan telah demikian tereduksi dan mengalami penyempitan nilai karena semakin banyaknya perilaku korup yang bermula dan dimulai sejak populernya uang sebagai alat transaksi politik.

Pemilu dan Pilkada, yang sejatinya merupakan momentum pemicu perubahan telah menjelma "bazar politik" yang kian kotor dan mengumuh, bahkan seolah hanya melahirkan pecundang. Betapa tidak, bangsa kita nyaris tidak mengalami perubahan berarti di tengah semakin meruaknya kasus korupsi dan pejabat politik korup yang dibui.

Namun, jangan pula tulisan ini dimaknai bahwa Foke telah menjadi bagian dari politik uang yang wajib dilawan itu. Foke belum tentu melakukan praktik politik uang, apalagi memang tidak ada fakta demikian, meskipun sangat sederhana mencari indikator bahwa Foke pada praktiknya pasti lebih banyak menggelontorkan biaya politik ketimbang Jokowi.

Hitunglah, misalnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli parpol-parpol gajah yang kini dikendarai Foke dengan kekuatan 82 % dukungan parlemen. Atau, biaya pertemuan ala Foke yang lebih sering terlihat di ballroom hotel berbintang dan tempat mewah lainnya. Sementara, Jokowi hanya mengandalkan parpol banteng dan parpol burung dengan kekuatan 18 % dukungan di parlemen. Dan, hanya blusukan dari kampung ke kampung.

Meskipun saya sangat berharap praktik politik uang segera tamat, saya lah orang pertama yang tidak tertarik menarik relevansi Pilkada DKI 2012 dengan Pemilu atau Pilpres 2014. Saya juga kurang percaya bila Jokowi menang di Pilkada DKI nanti, maka secara otomatis Megawati akan menjadi presiden kembali. Atau, PDIP dan Gerindra sebagai parpol pengusung akan ikut mendulang suara besar saat Pemilu. Tentu, karena saya melihat Pilkada DKI tidak dari teropong kepentingan politik praktis, melainkan dari sudut pandang nilai dan pendidikan politik.

Saya lebih melihat kemungkinan Pilkada DKI sebagai momentum perubahan politik yang bertumpu pada kekuatan nilai, ketimbang sebuah panggung kontestasi politik yang lebih menampilkan figuritas simbolis, yang semu dan menjemukan.

Itulah mengapa, di tengah rasa bosan yang memuncak menyaksikan realitas politik kemproh selama ini, saya tergugah untuk turut menyimak tahapan Pilkada DKI yang saya pikir kali ini memang berbeda.

Dan, mengapa saya yakin Pilkada DKI 2012 bisa menjadi sentrum perubahan besar di negeri ini? Alasannya sederhana saja, selain karena DKI nota bene Ibu Kota, Pilkada DKI kali ini juga kontras tampak sebagai pertarungan nilai: antara biaya politik murah dan biaya politik mahal, antara kebersahajaan dan keserbamewahan. Lebih tepatnya, antara gerakan perubahan dan hegemoni uang. Wallahu'alam.

Pas Sandre

/passandre

Aku ingin punya negara
yang pemimpinnya biasa saja
tapi rakyatnya sejahtera.

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?