HIGHLIGHT

Istriku, Malaikatku

23 Mei 2012 17:34:40 Dibaca :
Istriku, Malaikatku
dalam pelukan sayang

Hari-hari terakhirku penuh galau. Ada sejumlah soal yang harus aku hadapi. Ada beribu persoalan yang mendera. Ku tau yang  ku mau. Yang pasti, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Setiap masalah dan persoalan, Pasti ada jalan keluar.  Optimisme berpikir dan bersikap itulah yang selalu ditunjukan istriku. Bagiku, istriku adalah The Wonder Woman. Malaikat  kecil yang selalu bisa mengatasi hal-hal besar. Rabu Kemarin, ada peristiwa kecil yang cukup besar maknanya. Peristiwa itu bermula ketika ada informasi dari salah satu member senam istriku mengenai keinginannya menjual sebidang tanah berukuran 20X20 meter. O ya...istriku adalah instruktur  senam di kota kami. Ketekunannya selama kurang lebih 12 tahun akhirnya membuahkan hasil. Walau belum punya tempat sendiri,  tapi istriku mendapat kepercayaan mengelolah sanggar senam. Pemiliknya sangat familiar dan cukup mengerti dengan mati atau hidupnya sebuah sanggar senam. Apalagi, di kotaku, Kota Kupang, senam aerobic yang memiliki banyak nilai positifnya bagi kesehatan, masih dinilai miring oleh sebagian orang. Di tengah penilaian miris tersebut, istriku tetap menunjukan jatidirinya. Sanggar senam yang dikelolahnya, selalu saja didatangi anggota baru. Dan itu berarti, pendapatannya cukuplah untuk  kehidupan kami. Kami baru 10 tahun menikah dan mencoba merangkai asa membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia dan  sejahtera. Saling mengerti dan mendukung di setiap aktivitas masing-masing merupakan salah satu komitmen kami berdua.  Selama 10 tahun hidup bersama, akhirnya saya sampai pada kesimpulan pertama bahwa, "Love is not about finding the right  person, but creating the right relationship". Cinta bukanlah tentang seseorang yang baik dan berbudi, tapi cinta sejatinya adalah bagaimana membangun suatu hubungan yang sinergis tanpa intervensi. Masing-masing tetap dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya. Dengan suatu keyakinan dan kepercayaan, bahwa aktulaisasi diri masing-masing, tidak mencederai hubungan kemanusiaan kita. Saya dan saya yang lain menjadi kita. Saya dan saya yang lain menjadi kami. Tidak ada dia atau mereka. Tidak juga ada kamu atau hanya saya. Tapi yang ada dalam relasi kita, adalah saya dan saya yang lain. Dua-dua tetap menjadi subyek. Bukan yang satu subyek dan yang lain obyek. Begitulah komitmen kami berdua. Kembali ke peristiwa Hari Rabu kemarin...Setelah mendapat info mengenai penjualan tanah tersebut, iseng-iseng istriku  "melemparnya" ke Black Berry Massanger (BBM). Nah dalam rutinitas aktivitasnya, istriku memiliki teman dari berbagai kalangan. Ada yang suaminya pejabat. Ada juga yang pengusaha. Pokoknya, beragam orang dengan berbagai latar belakang dan karakter. "Postingan" status BBM istriku mendapat banyak respon. Namun dari tanggapan yang diterima, ada dua orang teman yang kelihatannya menunjukan minat yang besar. Satunya  pengusaha. Yang satunya teman sekolah waktu di SMP. Namun sang  pengusaha kelihatannya lebih lihai dalam menangkap peluang. Setelah membaca, status BBM istriku mengenai ada tanah yang akan dijual, Aci Cu, demikian sapaan karib teman istriku, langsung membuat komitmen untuk bertemu dan melihat lokasinya. Akhirnya, setelah konfirmasi ke pemilik tanah, kami bersepakat untuk bertemu di lokasi tanah yang hendak dijual. Ini adalah pengalaman pertama istriku terlibat dalam jual beli tanah. Setelah tiba di lokasi dan terlibat tawar menawar antar calon pembeli dan penjual, kesepakatan pun didapat. Walau panas menyengat, istriku tetap sumringah. Sengatan matahari di siang bolong, seakan tertutup transaksi kecil yang berhasil. Patut diakui, hal ini baru pertama terjadi. Namun yang pasti, saya mendapat pelajaran berharga dari malaikat kecilku. Tidak salah untuk selalu mencoba hal-hal baru tapi selalu dalam koridor dan aturan serta nilai-nilai dan norma kehidupan. Terima kasih istriku...Semoga tidurmu malam ini, dikelilingi para malak surgawi yang selalu mencerahkan hati, rasa dan rasio. Dan semoga relasi emosional serta rasio yang telah kita bangun tetap terjaga dan bertumbuh dalam sikap saling menghargai dan menghormati. Dan akhirnya, kita tetap ada dalam diri masing-masing. Peluk sayang dalam balutan kasih sejati

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?