Romo Mangun ‘Mencubit’ Para Penerima Beasiswa

20 Oktober 2016 01:20:37 Diperbarui: 20 Oktober 2016 08:24:13 Dibaca : Komentar : Nilai :
Romo Mangun ‘Mencubit’ Para Penerima Beasiswa
Diskusi Antikorupsi di Rumah Romo Mangun Wisma Kuwera 14 Mrican Yogyakarta

Romo Mangun merupakan seorang penerima beasiswa dalam bentuk tugas belajar di Rheinisch Westfaclische Techische Hochschule di Aachen, Jerman tahun 1960. Supaya dapat menempati secara gratis sebuah gudang 2x4 meter, Romo Mangun “nyambi”sebagai penjaga malam TK Paroki Hati Kudus Yesus, Aachen. Romo Mangun berhemat.

Sesungguhnya pesan moral dari sikap Romo Mangun ini bukan sebatas mendapat gratisan. Melainkan Romo Mangun memahami bahwa beasiswa adalah sebuah kehormatan dan sebuah komitmen. Kehormatan terpilih untuk mengalami proses menghebatkan diri, dan kehormatan itu harus dijaga. Komitmen bahwa beasiswa selain bertujuan menaikkan mutu jatidiri sendiri juga kelak berkenan membantu menaikkan mutu jatidiri oranglain, bahwa beasiswa adalah modal bergulir, mewujud agen perubahan. Maka sejak kesempatan pertama Romo Mangun berusaha menyicil pemenuhan komitmen tersebut. Romo Mangun ‘menjaga’ pribadinya sebagai penerima beasiswa dengan 2 prinsip: kepatutan dan kelayakan. Berhemat adalah salah satu wujud cerdas melaksanakan prinsip kepatutan dan kelayakan sebagai penerima beasiswa.

Sejak menerima beasiswa maka sipenerima bukan lagi sosok yang sama dengan pelajar atau mahasiswa yang tidak menerima beasiswa. Dia harus merumuskan ulang perilaku sehari-harinya. Bukan sekedar memenuhi syarat utama rajin belajar dan meraih IPK cumlaude saja. Melainkan juga mengukur layak atau patut tidaknya dia melakukan sebuah perbuatan. Selalu bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku patut melakukan perbuatan ini? Apakah aku layak melakukan sikap ini?

Semua biaya pengeluaran sehari-hari, sekecil apapun harus diukur dengan pertanyaan: apakah ini kebutuhanku? Apakah ini keinginanku? Sipenerima beasiswa seharusnya mengurangi pengeluaran yang bersifat ‘keinginan’.

*

Di ruang utama rumah Romo Mangun di Kuwera 14 Mrican Yogyakarta, beberapa waktu lalu Komunitas Pohon Antikorupsi Pelajar bersama Lembaga IDEA Yogyakarta mengadakan diskusi terbatas antikorupsi. Salah satu alasan diskusi diadakan di rumah Romo Mangun karena Romo Mangun adalah sosok tokoh antikorupsi. Tema yang dikupas seputar perilaku penerima beasiswa bidikmisi. Apakah berpotensi melakukan perilaku koruptif? Salah seorang narasumber adalah mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Dari narasumber mengemuka contoh riil. Narasumber bercerita tentang temannya sesama penerima bidikmisi yang membeli hape pintar berharga mahal. Apakah ini merupakan bentuk penyelewengan fungsi beasiswa bidikmisi? Apakah itu perilaku koruptif?

Perdebatan pun terjadi. Seorang peserta yang mewakili sebuah instansi pemerintah menegaskan bahwa itu bukan korupsi sejauh tidak ada peraturan formal yang melarangnya. Itu adalah hibah dan terserah sipenerima mau digunakan untuk apa.

Pendapat ini benar jika hanya diukur menggunakan peraturan yang ada. Memang tidak ada peraturan yang melarang penerima beasiswa membeli hape mahal.

Namun yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa penerima bidikmisi merupakan generasi muda pemilik sah masa depan yang sedang berproses menuju ke masa depan itu. Mereka adalah cikal bakal pemimpin negeri ini di masa depan. Mereka harus ‘dipagari’ dalam berproses tersebut sejak usia dini menghindari bibit perilaku korupsi. Maka yang pas dan ideal digunakan untuk mengukur soal pembelian hape mahal tadi adalah pagar ‘hakikat antikorupsi’. Korupsi adalah mengambil yang bukan haknya untuk memperkaya diri dan memuaskan nafsu hedonis.Maka antikorupsi adalah sebaliknya, yaitupeduli, peka, gaya hidup sederhana, dan semangat berbagi bukanterjebak sekedar apakah itu sudah ada peraturannya atau tidak. Hakikat moral antikorupsi sesungguhnya melampaui arti dan batasan yang sudah dirumuskan dalam pasal-pasal peraturan yang ada.

Mengatakan pembelian hape berharga mahal bukan termasuk perilaku korupsi hanya karena belum ada pasal yang melarang dan artinya tidak ada peraturan yang dilanggar padahal secara hakikat moral tidak sesuai, itu serupa membiarkan bibit korupsi perlahan-lahan berkecambah pada pribadi generasi muda.

Jadi pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah membeli hape mahal itu kebutuhan? Jika memang kebutuhan untuk menunjang proses belajar, ya silahkan membeli. Tetapi jika hanya keinginan gengsi gaya hidup yang tidak berdampak terhadap proses belajar, ya seharusnya tidak boleh dibeli!

*

 Romo Mangun menjadi role model untuk para penerima beasiswa. Sikap sehari-harinya sebagai penerima beasiswa telah ‘mencubit’ hati nurani dan akal sehat para penerima beasiswa. Dia hidup sederhana dan berhemat ketika mengemban amanah beasiswa di Jerman. Dia sangat tekun belajar namun juga aktif melakukan kegiatan ekstra di luar kampus. Hasilnya tahun 1966 Romo Mangun meraih gelar Diplom Ingeneur (setara S2 di Indonesia) dengan nilai “Sehr Gut” (sangat baik) dan kembali ke Indonesia, negerinya tercinta. Setelah lulus dia mengamalkan ‘kesaktian’ yang diperoleh di Aachen diselaraskan dengan situasi konkret Indonesia yang tropis dan kultural. Ini tampak dari sejumlah bangunan yang diarsiteki oleh Romo Mangun. Dia menyukai bahan bangunan bambu, kayu, dan batu, karena bahan-bahan itulah yang banyak digunakan rakyat jelata. Romo Mangun memperoleh penghargaan “The Ruth dan Ralph Erskine Fellowship Award” (1995) untuk karya arsitektur demi rakyat yang tak diperhatikan.

Romo Mangun juga banyak membantu oranglain untuk meraih beasiswa. Romo Mangun menumbuhkan kesadaran baru untuk berkorban bagi kaum Kecil-Lemah-Miskin-Tersingkir (KLMT) berpadu dengan pelbagai pengalaman berlajar membuahkan karya-karya yang agung bagi pemanusiaan manusia.

Tentu saja sikap bersahaja gaya hidup sederhana dari Romo Mangun tidak melulu karena pemahamannya mengenai hakikat beasiswa. Kepribadian moral tinggi Romo Mangun yang terbentuk sejak kecil berpengaruh dalam sikap itu. Seperti sudah banyak ditulis mengenai Romo Mangun yang mengakui bahwa pendidikan orangtua sangat berpengaruh dan menjadi warisan berharga bagi kehidupannya. Warisan pendidikan orangtua menjadi kekuatan dan pedoman hidup yaitu “Kita harus mencintai Tuhan dengan segenap akal budi, segala citarasa, dan segala energi yang kita punyai; dan mencintai sesama kita, terutama yang lemah dan miskin, seperti kita mencintai diri kita secara wajar”.

Romo Mangun sangat mengagumi pendidikan dari orangtua. Sang ibu yang kuat dan penuh energi selalu mendorong terus maju dalam pendidikan. Sang ayahanda mengajarkan sikap sosial dan kebijaksanaan hidup yang senantiasa jadi pegangan hidup. Pertama, “Urip iki ora mung saka sega” (hidup tidak hanya dari nasi). Artinya, “selain hal-hal fisik yang secukupnya, kita sebaiknya mempunyai kekayaan lain yang berasal dari cita-cita, ideal, dan pengorbanan diri”. Kedua, “semakin kita memberi, semakin kita kaya. Bila kita memberikan hati, pengorbanan dan segala yang indah pada kita kepada orang lain, terutama kepada yang lemah-miskin, kita tidak akan kurang, tetapi kita akan semakin kaya”.

So, penerima beasiswa wajib menyadari dan mengingat bahwa beasiswa itu bukan ‘biaya gratis’ yang cuma-cuma dibagi-bagikan. Wajib mengingat bahwa beasiswa diberikan berdasarkan kebutuhan. Anda mendapat beasiswa karena ‘kebutuhan’ Anda akan biaya melanjutkan pendidikan bukan karena ‘keinginan’ Anda akan biaya melanjutkan pendidikan. Beasiswa bukan hadiah, bukan bonus yang Anda boleh suka-suka menghabiskannya. Beasiswa bukan untuk menaikkan gaya hidup dan membiayai gaya hidup. Lalu, apakah penerima beasiswa tidak boleh bergaya hidup mewah? 

Ya jelas, tidak boleh! Anda tidak boleh bergaya hidup glamour selama masih bersekolah dan berkuliah, dan bahkan ketika Anda nanti sudah sukses. Anda justru harus mengalokasikan dana untuk bisa berbagi kepada orang yang membutuhkan, terutama orang yang lemah miskin, memberi beasiswa bagi oranglain yang memerlukan. Memberikan hati, memberikan pikiran akal sehat untuk negeri dan alam semesta.Itu adalah penanda Anda sang penerima beasiswa sejati dan berjatidiri mumpuni.***

Parhorasan Situmorang

/parhorasan

Petualang waktu yang selalu memberi waktunya untuk menginspirasi generasi muda.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article