Mohon tunggu...
Parfi Khadiyanto
Parfi Khadiyanto Mohon Tunggu... Dosen - pecinta lingkungan hidup dan arsitektur perkotaan

tinggal di semarang

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Glenelg, Kuta-nya Adelaide Australia Selatan

19 Maret 2014   04:56 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:46 140
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Karier. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Kalau Bali punya Kuta (kota pantai di Denpasar), maka di Adelaide yaitu ibukota Australia Selatan memiliki Glenelg, kota pantai yang dikembangkan menjadi kawasan wisata pantai. Pengelolaan pariwisata dan penataan kawasan di Glenelg ini sangat bagus, itulah kesan yang akan muncul apabila anda menjejakkan kaki untuk pertama kali melihat kota Glenelg di Adelaide. Kota ini adalah kota pantai yang sebenarnya merupakan kota lama dari sejarah berdirinya kota Metropolitan Adelaide, merupakan tempat pendaratan para pemukim pertama dari Inggris ke Australia Selatan. Oleh Gubernur, kota Glenelg dijadikan tempat pencanangan pendirian pemerintahan saat itu yaitu pada tanggal 28 Desember 1836, yang sekarang tanggal tersebut dinyatakan sebagai hari lahirnya pemerintahan Australia Selatan dan Kota Adelaide.

Untuk menuju Glenelg bisa dilakukan dengan berbagai macam kendaraan, bisa dengan tram (kereta listrik), bus umum, mobil pribadi, atau dengan sepeda motor yang sekaligus merupakan ajang untuk ‘mejeng’ bagi penggemar motor gede, sebab sepeda motor di Adelaide tidak ada yang kecil, semuanya di atas 250 cc dan bentuknya mirip sepeda motornya Valentino Rossi. Transportasi umum yang menjadi favorit masyarakat kalau mau ke Glenelg adalah dengan naik tram (kereta listrik) dari pusat kota, yaitu di Victoria Square (kayak Simpang Lima-nya Semarang).

Konon menurut catatan yang ada di kantor Informasi Pariwisata yang terletak di dekat pantai, pada masa awal pertumbuhan permukiman yang sangat pesat sekali di kota Glenelg, banyak permukiman yang merambah sampai ke pantai, akibatnya banyak pula permukiman yang kemudian tergerus abrasi, karena cuaca dan gelombang di Adelaide bisa berubah setiap waktu dari dingin sekali esuk harinya menjadi sangat panas, tergantung dari arah angin datang. Apabila angin dari laut, maka udara kota akan menjadi sangat dingin, tetapi kalau angin dari arah darat maka suhu udara akan lebih hangat atau bahkan bisa menjadi panas. Dengan kondisi permukiman yang tidak teratur di pantai ini, maka pemerintah mulai mengatur kawasan pantai dengan mempelajari gerak air laut yang mengabrasi pantai dan tingginya gelombang pasang surut.

Kemudian dibuatlah batas garis sempadan pantai yang tidak boleh ada bangunan di dalam batas tersebut, garis sempadan ini sekitar 50 – 150 meter dari bibir laut tergantung dari bentuk lahannya, pada wilayah bantaran laut dibiarkan adanya pasir, pantai harus memiliki pasir, demikian penjelasan petugas di stand informasi sejarah kota Glenelg, tepi pantai tidak boleh ada bangunan yang langsung bersentuhan dengan air laut, semua bangunan yang ada ditarik ke dalam jauh dari laut.

Pengaturan zona tepi laut yaitu di pinggir laut berupa bantaran pasir untuk diterjang gelombang pasang, kemudian pada jarak antara 50 – 150 dibuat tanggul untuk menahan air laut pasang agar tidak terlalu jauh ke daratan. Sebelah dalam tanggul dibuat pedestrian selebar 10 meter, barulah setelah itu boleh didirikan bangunan untuk umum, ada cafe, restaurant, toko souvenir, dan sebagainya.

Ternyata strategi pemerintah yang didukung dengan aturan kuat dan perhitungan matang mampu menyelamatkan pantai dari abrasi, tidak ada lagi permukiman yang diterjang gelombang meskipun ada badai besar yang datang dari laut. Sekitar jarak 200 meter dari tepi pantai dibuat semacam plaza dengan monumen yang berbentuk tugu sebagai point of interest kawasan. Tanaman pengarahnya berupa tanaman sejenis pohon pakis yang tinggi, sehingga menarik untuk jadi pengarah dari tempat pemberhentian tram (kereta listrik) menuju plaza dan ke pantai.

Transportasi umum yang bisa langsung dekat pantai hanya tram (kereta listrik), bus umum, mobil pribadi, dan bahkan sepeda motor harus parkir sekitar 1 km dari pantai. Inilah yang membedakan Denpasar dan Glenelg, kalau di Denpasar pantai Kuta bisa disentuh langsung dengan kendaraan bermotor, sedangkan di Glenelg hanya kereta listrik (non polusi), makanya suasana pantai benar-benar bersih dan sehat, tidak ada raungan suara kendaraan bermotor maupun suara bising klakson mobil.

Turun dari tram langsung diterima sebuah plaza yang mengejutkan, sebab biasanya turun dari kereta api yang terlihat adalah batang-batang besi penyangga atap stasiun, tetapi di Glenelg ternyata terminalnya berupa plaza dengan air mancur menyanyi dan dikelilingi oleh tempat-tempat jajan yang open air.

Setelah itu, kita digiring dengan tatanan pohon pakis tinggi untuk menuju ke plaza lain sebagai pengantar menuju ke pantainya yang berpasir putih.

Di pantai seperti biasa kita bisa melihat para wisatawan mandi dan berjemur ala Kuta Bali, dan di tempat-tempat tertentu disediakan lapangan voli pantai lengkap dengan jaring/net, bola voli bawa sendiri dari rumah, ada tempat bilas terbuka, sehingga yang barusan kena air laut bisa mandi/bilas di tempat terbuka tersebut untuk menghilangkan air laut yang mengandung garam di tubuhnya.
Dari pantai, kita bisa menyusuri lorong-lorong jalan yang relatif sempit, hanya cukup untuk papasan dua mobil, sehingga tidak ada mobil yang bisa ‘ngebut’ termasuk sepeda motor tidak ada yang ‘ngebut’, kebanyakan pengguna motor justru jalan pelan secara beriringan sekaligus untuk ‘mejeng’. Di sepanjang tepi jalan raya semuanya adalah pertokoan, mulai dari yang harga ‘rejack’ sampai toko merk asli yang mahal, benar-benar suasana Kuta Bali ada di sini, dan itu diakui oleh orang-orang Australia yang sudah pernah pergi ke Bali.

Harga barang juga tidak beda jauh dengan Indonesia, sun-glasses harganya termurah sekitar 5$ AUD dan termahal 30$ AUD. Headphone untuk MP4 sekitar 2 – 10$ tergantung merk, makanan ringan harga dari 1,5$ AUD sd 11$ AUD. Kaos kaki 3 pasang 6$ AUD.
Jenis masakan yang ada kebanyakan siap saji model Mc Donal, tetapi ada juga ‘noodles’ ala Singapore, tidak ada “mie jowo”, harganya untuk porsi kecil bakmi Singapore 5,5$ dan porsi besar hanya 9$.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun