Dibanding Pengetahuan, Novel Lebih Diminati Remaja

28 April 2013 15:47:47 Diperbarui: 24 Juni 2015 07:27:23 Dibaca : 1778 Komentar : 3 Nilai : 0 Durasi Baca :
Dibanding Pengetahuan, Novel Lebih Diminati Remaja
1367163964217673853

Novel menjadi buku yang paling banyak dicari dan dibaca oleh kalangan remaja. Tidak hanya di Indonesia, bahkan diluar negeri.

Remaja di masa kini, sepertinya lebih memilih untuk membaca cerita fiksi atau novel, ketimbang membaca buku pengetahuan atau buku pelajaran. Remaja dimaksud berasal dari kalangan usia pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) juga kalangan mahasiswa.

Mayoritas remaja itu, lebih memilih novel karena dianggap lebih menarik, ketimbang buku ilmiah. Beberapa diantaranya juga menyatakan, bahwa isi novel ceritanya lebih seru. Novel yang banyak di angkat dari cerita fiksi, percintaan hingga cerita nyata kehidupan pribadi sang penulis, tak pelak menjadi magnet bagi para muda.

Jenis novel yang variatif, mulai dari novel fiksi, non fiksi, misteri, romantis, horor, komedi, hingga inspiratif pun tak ketinggalan menjadi salah satu faktornya. Setidaknya, dari sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di beberapa kota, perbandingannya mungkin mencapai 16 dari 20 remaja menyukai novel.

Siapa sangka, fenomena novel juga banyak mendominasi penjualan di hampir seluruh toko buku di Indonesia. Menurut data dari beberapa toko buku di beberapa kota, rata-rata sekitar 700 hingga 800 buku dari 1.000 buku yang terjual dalam satu bulannya adalah novel. Jadi, dapat dikatakan bahwa novel menguasai 70% hingga 80% penjualan di beberapa toko buku.

Walaupun belum ada data real atau pasti yang menyebutkan hal demikian di seluruh Indonesia, namun tentunya masyarakat sudah dapat mengetahuinya.

Dalam kaitan ini, ada beberapa kalangan yang menilai bahwa cerita novel yang notabene fiksi ilmiah dan non ilmiah bisa mengembangkan gambaran dan pengaruh baik bagi pembacanya. Sehingga, modernisasi yang terjadi kepada masyarakat dijaman ini ikut mendorongnya. Di satu sisi otak kiri dan otak kanan manusia memang harus dibangun daya khayal, seperti contohnya mencapai cita-cita. Namun, disisi negatifnya, terlalu banyak membaca novel kadang tidak seimbang dengan kebutuhan pengetahuan ilmiah pada pendidikan formal.

Terkait dengan kondisi itu, tidak ada yang bisa membenarkan atau menyalahkan remaja yang lebih gemar membaca novel. Memang, selagi remaja tersebut bisa memilah mana yang positif dan negatif dari apa yang sedang dilakukannya, tidak menjadi masalah. Dalam hal ini, perhatian orang tua sangat dibutuhkan. Karena orang tua memiliki peranan penting dalam mengontrol tindakan dan tingkah laku remaja saat ini.

Bisa saja, remaja yang memang benar memanfaatkan novel dan bisa mengambil sisi positifnya, bisa membuat mereka menjadi lebih baik. Namun, entah apa jadinya bila para remaja itu tak mengerti dan tak bisa memahami apa yang bermanfaat dan apa yang tidak. Bisa membodohkan diri, dan juga hanya menghabiskan uang pemberian dari orangtua saja.

Panggih Septa Perwira

/panggihseptaperwira

TERVERIFIKASI

Saya seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Karawang, Jawa Barat. Selain kuliah, kesibukan sehari-hari saya adalah menjadi seorang wartawan di salah satu surat kabar yang berada di Karawang. Contact Me FB : Panggih Septa Perwira Twitter : Panggih09
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana