Beban Harapan

14 Mei 2013 17:40:11 Dibaca :
Beban Harapan

Ada slogan uang tak bisa membeli kebahagiaan. Belakangan ada juga uang adalah segalanya. Jadi kalo di fiksional digambarkan orang miskin bahagia, begitu pula yang berduit. Nah, gimana dengan kita yang di tengah? Kelas mengenah, atau kerennya working class. Kelas ekonomi bawah berarti hidupnya berkutat sesamanya. Kondisi hidup bawah, keluarga kelas bawah, lingkungan, edukasi, segalanya. Wajarlah kaum intelek cenderung dari kelas menengah dan atas. Jadi gak ada ekspektasi anaknya jado CEO, komisaris, apalah. Lah wong nasi buat malem aja bingung, mending bantu nafkah keluarga. Kelas ekonomi ataspun demikian. Kondisi hidup mewah, keluarga bak aristokrat, lingkungan megah, dan lainnya. Ekspektasi hebat? bisa dibilang, sudah tercapai sejak lahir. Mana ada anak konglomerat turun kelas. Sekalipun tidak mengikuti jejak orang tua, pasti tercapai. Ambil contoh pak SBY: Ibas, lihat anak soeharto, lihat anak (masukkan nama orang hebat kaya) pasti anaknya gak akan jauh. Apa jabatan saya? Perlu ya anak saya tampan dan cantik? Perlu ya sekolah anak saya bagus? IP-nya bagaimana? Malu dong ya kalau kuliah di univ swasta? Bagi kelas bawah itu benar dengan uang tak bisa membeli kebahagiaan-nya. Perlu ya punya yang diatas itu? Lah malem bisa makan aja hepi. Maen gaple di bale rw puas. Dan paling penting tim bola RT kite bisa menang 17an tahun ini. Kelas atas.. buat apa? Bagi kami, duit itu segalanya benar. Sekeluarga bisa tour ke eropa bareng, bisa makan restoran mahal, hidup gak repot banyak pesuruh, mau kuliah dimanapun, menekuni profesi apapun, tinggal pilih. Anak-anak besar tinggal melanjutkan warisan ortunya, entah profesi seperti dinasti politik ataupun bisnis apalah, masa depan anak bisa kami beli. Semua aman terkendali. Poin saya, kelompok kelas bawah hidup senang seadanya tanpa ekspektasi berat harus menjadi orang besar, atau apalah. Kelompok kelas atas senang dengan hidup serba ada yang dapat dengan mudahnya membantu memenuhi ekspektasi. Kelas menengah, ngehek. Ekspektasi besar? cek. Sumber daya terbatas? cek. Kelas menengah cenderung berpendidikan, punya koneksi ke seorang kelas atas. Jadi bermimpi wah kalau saya di posisi si bos, wah kalau anak saya CEO Telkom. wah wah dan wah. Mad Work, Low Pay, Big Dreams. Kalo kelas bawah nothing to lose, kelas atas nothing else to gain, kelas menengah gambling 101. The Cruel Burden of Expectations. Anak dari keluarga kelas menengah selalu di-expect. Nilai bagus, SMA ternama, kuliah negeri, apalah. Mencoba meraih mimpi dengan segalanya dipertaruhkan. Belum tentu mimpi anak itu sendiri pula. Kalo udah besar nanti, Anto yang periksa papa ya kalo sakit, Ini dia anak mama, calon pilot masa depan. Nanti, kalau harapannya, lebih tepatnya yang diharapkannya, tidak tercapai, mau bagaimana? Stres sendiri. Gengsi dilihat keluarga dan kawan. Apalagi si yang terharapkan. Anto anak siapa sih? malu-maluin aja. Apalah. Padahal, banyak orang hanya ingin bisa main ke mall naik motor dengan keluarga, banyak orang hanya ingin nonton bola bareng warga di pos kamling, banyak orang hanya ingin mudik bareng yamaha dan bisa masup tipi. Banyak orang hanya ingin bahagia.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?