HIGHLIGHT

Maastricht, Kota Tua di Ujung Selatan Negeri Belanda

06 Agustus 2010 02:21:00 Dibaca :
Maastricht, Kota Tua di Ujung Selatan Negeri Belanda

Maastricht, ibu kota dari propinsi Limburg Negeri Belanda yang terletak dekat dengan perbatasan Jerman dan Belgia. Pada masa lalu, pada pemerintahan Charles V ( 1500-1558) kota ini pernah menjadi satu bagian dengan Belgia, Luxembourg, dan Jerman. Sejarah kota ini dimulai ketika Kaisar Augustus pada masa kejayaan Empirium Romawi, memerlukan satu basis penting bagi tentaranya yang menghubungkan bagian selatan Eropa dengan pelabuhan bagian utara Eropa. Lalu dibangunlah satu pemukiman yang dilengkapi dengan barak tentara ditepi sungai Maas dan sebuah jembatan dengan konstruksi kayu, dibangun untuk menyeberangi sungai itu. Nama Maastricht konon berasal dari bahasa latin “Mosae Trajectum” yang secara harafiah berarti “dimana sungai Maas diseberangi”. Sebagai pemukiman yang digunakan oleh tentara, tidak heran kalau pada masa lalu, kota ini memiliki nilai strategis dalam peperangan. Kota ini memiliki point penting untuk diserang dan dipertahankan. Bahkan Napoleon pernah tertarik dan menaklukan kota ini. Peninggalan masa lalu berupa benteng-benteng pertahanan dan barak-barak tentara masih bisa kita lihat di kota ini sampai sekarang. Dan julukan untuk kota Maastricht adalah “Fortified City” alias kota benteng pertahanan. Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Eropa pernah terjadi dikota ini. Penguasa besar Eropa, Charlemagne atau Charles the Great, pernah menggelar misa besar di gereja St. Servaas pada masa Perang Salib di tahun 1145. Dan ternyata para Musketeer tidak terdiri dari 3 orang kalau menurut film “the Three Musketeer”, tetapi Musketeer ke empat yang bernama D’Arthagnan menjadi jagoan kota ini, mati sebagai pahlawan ketika menghadapi serbuan tentara Spanyol. Dan sejarah terbaru adalah lahirnya mata uang Euro terjadi dikota ini pada tahun 1993. Sekarang kota ini dihuni oleh kurang lebih 122.004 penduduk. Dan kebanyakan penduduk terkonsentrasi pada daerah tepian sungai yang kini menjadi pusat pertokoan dan kantor pemerintahan. Pada malam hari denyut kehidupan tetap terasa pada kawasan ini terutama saat musim panas datang ketika siang hari lebih lama dari malam. Pada pukul 10 malam, masih banyak ditemui orang-orang yang duduk dikursi di kafe-kafe yang bertebaran di sungai sambil menikmati panorama dan segelas bir atau kopi. Kota Maastricht telah menunjukan suatu keberhasilan konsep penataan kawasan tepian sungai. Dimana sungai menjadi suatu aset penting yang dikelola untuk menarik turis. Siapapun yang telah pernah pergi ke Maastricht dan pernah mengikuti tour menyusuri sungai Maas dengan kapal, sulit untuk melupakan keindahan kota tepian sungai ini. Banyak orang mengatakan bahwa Maastricht sebenarnya bukanlah bagian dari Belanda. Pendapat ini mungkin ada benarnya, karena pada masa lalu Maastricht lebih dekat dengan Belgia dan Jerman, dan juga orang Maastricht berbicara dalam dialek yang berbeda dengan orang belanda umumnya. Dan konon menurut cerita teman saya yang tinggal di Rotterdam, kalau orang Maastricht angkat bicara, maka orang Rotterdam akan tertawa geli mendengar dialek yang mereka gunakan. Umumnya penduduk asli Maastricht berperawakan kecil untuk ukuran Eropa dan santun. Mereka dengan mudah menyapa orang asing dengan ramah. Jika ingin shopping , maka Maastricht adalah tempat yang ideal untuk kaum yang senang berbelanja. Dilengkapi dengan pertokoan yang lengkap yang terbentang di kawasan pusat kota antara lapangan Vrijthof dan stasiun central , barang yang serba ada, dan harga yang relatif murah untuk ukuran Eropa. Berbelanja sambil menikmati pemandangan tepian sungai adalah konsep yang ditawarkan. Kalau bosan berbelanja ala kaum berduit, maka setiap hari Rabu dan Jumat, pasar ala kaki lima buka di halaman staadhuis (city hall). Pasar ini tidak ada bedanya dengan pasar-pasar di Indonesia, ribut, dan selalu diserbu oleh pembeli. Harga bisa ditawar dengan sedikit tarik urat leher, teknik menawar dengan pura-pura meninggalkan penjual, cukup ampuh dipasar ini. Makanya orang Indonesia paling hebat dalam urusan ini. Bagi yang senang melakukan wisata sejarah, maka di Maastricht terdapat Bonafanten Museum dengan koleksi yang lengkap dengan paduan teknologi audio visual. Museum ini dikenal sebagai museum tertua di propinsi limburg. Dibangun oleh Arsitek Italia Aldo Rossi. Museum dengan kubah yang impresif merupakan salah satu dari landmark kota ini. Ketika masuk museum , kita akan langsung bertemu dengan tangga kayu setinggi 35 meter yang langsung mengantarkan pengunjung kepada kedua sayap bangunan dan bangunan utama. Jika ingin berbelanja barang-barang seni termasuk buku dan juga souvenir, maka lantai dasar adalah tempatnya. Dan tempat paling menakjubkan adalah teras yang langsung berhubungan tepian sungai, dimana kita dapat duduk santai sambil menikmati panorama sungai. Duduk disana sambil meminum secangkir kopi espresso dimusim panas sambil menikmati lalu lalang kapal di Sungai Maas, sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan. Kita juga bisa mengikuti tour-tour regular yang disediakan oleh dinas pariwisata Maastricht seperti tour ke Gua Mount st. Pieter. Gua buatan manusia ini adalah hasil dari kegiatan pertambangan batu-batu bangunan di masa lampau. Hati-hati kalau menyusuri gua ini sendirian, karena ada 20.000 labirin yang membingungkan dan bisa menyesatkan. Yang lain adalah tour menyusuri sungai Maas dengan kapal. Dari atas kapal kita bisa menyaksikan keindahan daratan Maastricht dengan pebukitan kecil, menuju ke perbatasan Belgia dan kembali lagi. Tour ke Benteng st. Pieter untuk melihat benteng pertahanan di masa lalu. Benteng ini di bangun di atas bukit lengkap dengan ruang-ruang bawah tanahnya dan lorong-lorong rahasia untuk melarikan diri ketika perang. Dan banyak tour-tour lain yang tidak sempat saya ikuti seperti Casamates tour, Guided city walk, Heelport dan lain-lain. Dari perjalanan menyelusuri kawasan kota indah di bagian selatan belanda ini, pelajaran penting yang bisa saya petik dari perspektif city development adalah betapa pemerintah kota Maastricht memiliki visi yang jelas untuk membuat kota ini menjadi menarik bagi turis, para investor, dan juga bagi penduduknya. Pemerintah kota memanfaatkan segenap potensi daerah yang dimiliki, membungkusnya sedemikian rupa dalam kemasan yang menarik dan inovatif serta menjualnya dengan nilai jual yang tinggi. Sehingga tidak heran kalau kota menjadi tempat tujuan wisata yang layak dipertimbangkan, tempat investasi yang menguntungkan, dan juga tempat yang indah untuk ditinggali oleh penduduknya. Derit rem kereta api yang membawa saya dari Maastricht menuju Rotterdam terdengar sayup-sayup menandakan kereta telah memasuki stasiun kota Rotterdam sebagai tempat tinggal saya yang baru setelah sekian lama tinggal di Maastricht yang indah.

I.P Kamis

/pamana_chamis

Menulis itu penting dan mudah.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?