Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Lima Pembiaran yang Membahayakan Kehidupan Pernikahan

12 Agustus 2017   21:50 Diperbarui: 13 Agustus 2017   08:18 38589 7 1
Lima Pembiaran yang Membahayakan Kehidupan Pernikahan
dokumen pribadi

Di antara persoalan hidup berumah tangga yang sangat banyak terjadi adalah gejala pembiaran. Yang dimaksud adalah, tidak adanya tindakan untuk mencari solusi, atau untuk melakukan perbaikan, atau untuk keluar dari situasi ketidaknyamanan. Saat pasangan suami istri berada dalam suasana konflik atau ketidaknyamanan hubungan, mereka cenderung membiarkan saja semua berlalu, tanpa ada upaya mencegah agar tidak berkembang, memperbaiki situasi, atau menemukan solusi. Dampaknya, konflik kian meningkat intensitas dan level ketidaknyamanannya akan semakin mengemuka.

Ada sangat banyak gejala pembiaran dalam kehidupan berumah tangga. Suami dan istri yang mulai disibukkan dengan pekerjaan, bisnis, organisasi, hobi, dan lain sebagainya, semakin memiliki alasan untuk membiarkan semua hal yang tidak pada tempatnya. Mereka beralasan, biarlah waktu yang akan menyelesaikan semua. Dampaknya, berbagai persoalan semakin berkembang membesar karena tidak ada tindakan untuk menyelesaikan.

Berikut ini adalah beberapa contoh gejala pembiaran yang terjadi dalam kehidupan suami istri.

  • Membiarkan berkembangnya konflik

Konflik antara suami istri tidaklah muncul dengan tiba-tiba. Konflik selalu ada sebab dan ada tingkatannya. Secara teoritis, ada tiga level konflik. Yang pertama adalah the unvisible conflict, yaitu konflik yang tidak kelihatan di permukaan. Wujudnya adalah perasaan tidak nyaman antara suami dan istri. Yang kedua adalah the experienced conflict, yaitu konflik yang sudah tampak dalam bentuk pertengkaran, kata-kata keras dan kasar, saling menyalahkan, saling menuduh, dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah the fighting, yaitu konflik yang sudah menggunakan tindakan fisik, seperti memukul, menendang, mencakar, termasuk menggunakan barang dan benda-benda.

Apabila suami dan istri membiarkan saja terjadinya konflik pada level pertama, maka akan dengan mudah berkembang menjadi level kedua. Dan apabila pertengkaran sudah terjadi namun tidak segera mencari solusi, akan mudah berkembang serta meningkat ke level ketiga. Jika kita perhatikan, terjadinya konflik sampai ke level kekerasan fisik atau KDRT, ini terjadi karena mereka melakukan pembiaran terhadap munculnya konflik pada level sebelumnya. Jika mereka segera mengambil tindakan, maka tidak akan berkembang ke arah yang membahayakan.

  • Membiarkan berkembangnya perasaan ketidaknyamanan

Kadang suami dan istri merasakan suasana ketidaknyamanan dalam interaksi. Mereka merasakan ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak wajar, namun cenderung dibiarkan saja. Suami tidak bisa leluasa berbicara kepada istri karena merasa ada sekat; istri tidak berani bicara kepada suami karena merasa takut tidak tepat. Mereka merasakan hal yang sama, namun membiarkan saja perasaan tidak nyaman bercokol dalam jiwa.

Dalam situasi ketidaknyamanan seperti ini, kadang suami dan istri mencari serta menemukan pelampiasan sendiri-sendiri. Istri curhat kepada teman sosialita, suami curhat kepada teman kerja. Bukan penyelesaian yang mereka dapatkan, namun semakin memperuncing keadaan. Seharusnya mereka berdua segera mencari waktu dan suasana yang tepat untuk bercengkerama, mengungkapkan perasaan dan saling membuka diri untuk menemukan solusi. Bukan membiarkan dan mencari pelampiasan di luar rumah.

  • Membiarkan tidak ada komunikasi

Karena merasakan ketidaknyamanan perasaan, akhirnya suami dan istri memilih diam tanpa komunikasi. Ada pasangan suami istri yang saling mendiamkan lebih dari sepuluh tahun lamanya, padahal hidup bersama dalam satu rumah. Karena ada masalah yang tak kunjung terselesaikan, keduanya memilih diam dan tidak saling menyapa. Suasana seperti ini apabila dibiarkan berlama-lama akan mengikis dan mematikan perasaan cinta dalam jiwa mereka. Semakin lama akan semakin pudar kasih sayang di antara mereka, karena tidak disiram dengan komunikasi yang melegakan hati.

Kelihatannya sepele dan remeh, hanya sekedar komunikasi. Namun ini adalah hal penting dalam membangun kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Kegagalan komunikasi telah terbukti melahirkan banyak konflik bahkan sampai tingkat perceraian. Maka jangan pernah membiarkan berlama-lama tanpa ada komunikasi. Pembiaran terhadap kondisi seperti ini akan memperburuk hubungan suami dan istri, bahkan bisa berdampak terhadap anak-anak. Mereka tidak menemukan contoh komunikasi yang nyaman dan melegakan dari orang tua yang seharusnya menjadi panutan dalam kebaikan.

  • Membiarkan tidak ada keintiman interaksi

Ada kalanya suami dan istri berinteraksi dan berkomunikasi secara normatif dan minimalis. Mereka hanya menunaikan kegiatan rutin setiap hari, berbicara seperlunya, berinteraksi seperlunya, tidak ada keintiman dan kehangatan interaksi. Suasana yang monoton, suami dan istri yang memiliki ritme mekanis. Bangun pagi, ibadah, mandi, sarapan, berangkat kerja, kemudian sore hari pulang kerja, malam tidur, demikian seterusnya. Mereka tidak konflik, tidak bertengkar, namun hidupnya sangat standar, tanpa ada sentuhan warna yang menggairahkan.

Seharusnya suami dan istri memiliki keintiman (intimacy) yang sangat kuat dan sangat hangat. Tidak ada corak hubungan yang lebih intim dibanding dengan suami dan istri. Maka ketika mereka kehilangan keintiman, artinya kehilangan keindahan yang sesungguhnya tidak akan bisa dimiliki oleh mereka yang tidak menikah. Keengganan melakukan hubungan seksual dengan alasan kelelahan, atau alasan kesibukan, menyebabkan suasana keintiman semakin berkurang lagi. Sampai titik tertentu dimana mereka kehilangan keintiman, maka hilang pula keceriaan dan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan. Jangan sampai itu terjadi, harus segera diantisipasi.

  • Membiarkan keasyikan sendiri-sendiri

Kadang suami dan istri terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Suami asyik dengan dunia kerja, istri asyik dengan dunia bisnis. Suami asyik dengan hobi, istri asyik dengan sosialita. Suami asyik dengan teman chat, istri asyik dengan teman medsos. Jika masing-masing memilih asyik sendiri-sendiri, hal ini akan membuat suasana  jiwa mereka semakin menjauh. Bukan semakin mendekat, bahkan semakin lama semakin asing satu dengan yang lain.

Keasyikan pada dunianya sendiri ini, apabila dibiarkan terjadi dalam waktu yang lama, akan mengakibatkan munculnya perasaan lebih nyaman ketika sendirian. Suami dan istri merasa tersiksa dan terbebani ketika ada pasangan di sampingnya. Istri merasa merdeka ketika sendiri, tidak bersama suami. Demikian pula suami merasa merdeka ketika sendiri, tidak bersama istri. Kondisi ini menandakan hilangnya sakinah dalam kehidupan pernikahan mereka. Karena sakinah itu ada saat bersama, bukan ketika sendiri-sendiri. Maka jangan pernah melakukan pembiaran terhadap munculnya keasyikan sendiri-sendiri, dan tidak nyaman ketika bersama pasangan.

Demikianlah lima gejala pembiaran yang sangat membahayakan kehidupan pernikahan. Tampaknya hal-hal yang sepele dan remeh saja, namun pembiaran berarti menumpuk-numpuk persoalan hingga ke titik yang mudah terjadi ledakan. Jika terbiasa mengurai setiap ketidaknyamanan, sekecil apapun, maka tidak perlu menumpuk bahan bakar atau bahan ledakan. Semua tersalurkan dengan baik, dan kondisi yang tidak nyaman segera ada penyelesaian.

Magetan, 12 Agustus 2017



Bahan Bacaan

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple : Menjadi Pasangan Paling Bahagia, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2016