Sahyul Padarie
Sahyul Padarie Gelandangan Kata-kata yang Hanya Ingin Melebur dalam Puisi-Nya

Pemuda Bugis dan Barista Puisi. selama menjadi kompasianer, puisi-puisinya telah terhimpun dalam buku "Nyanyian Ranting Kayu" (Bogor:Guepedia,2017).

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Cerpen | Akhir dari Sebuah Cerita Cinta

15 Februari 2017   11:52 Diperbarui: 17 Februari 2017   00:18 1542 18 9
Cerpen | Akhir dari Sebuah Cerita Cinta
sumber foto: www.jpnn.com

"Aku rindu seseorang, wahai bintang," kata Sa'ad.

Bintang tak bergeliat sedikitpun, tetap diam dengan sepinya cakrawala malam. Sa'ad tetap berselimut dengan rindunya bersama tiga gelas kopi hitam yang telah habis diseduhnya, sampai waktu menunjukkan sepertiga malam. Sa'ad teringat sebuah peristiwa yang membuktikan dirinya memang pecinta, walau ia tak sanggup bertanggung jawab atas air mata kekasihnya.

****

Saat itu di sebuah jendela, tatapan Sa'ad terpatung oleh dua pasang bibir yang sedang menyemai senyumnya. Saat ia tertawa degap jantung Sa'ad berbeda detaknya, tak seperti wanita-wanita lain yang pernah disapanya, gelombang otak Sa'ad jauh berpikiran dan berangan bahwa wanita itu mewah dalam kesederhanaan parasnya.

"Aku harus mengenalnya, atau setidaknya mengetahui warna kesukaannya," gumam Sa'ad dalam hati.

Sampai di pojok perpustakaan kampus mereka bertemu, di rak buku yang paling belakang. Sa'ad yang pemalu pura-pura cuek, tak tentu buku apa yang sedang dicarinya.

"Kak, mau cari buku apa?" tanya wanita tadi.

Sa'ad masih bingung, tentang buku apa yang ia cari. Ia menerka-nerka jawaban untuk pertanyaan wanita yang ingin dikenalnya.

"Oh, buku sejarah Dik."

"Tunggu..., saya carikan."

Setelah mengelilingi semua rak buku, buku sejarah yang Sa'ad cari akhirnya ketemu.

"Ini Kak," beri wanita itu kepada Sa'ad.

"Oh, terima kasih, kalau boleh tahu Adik namanya siapa?"

"Nur azizah Kak."

"Kenalkan, saya Sa'ad."

Setelah perkenalan itu, Sa'ad yang pemalu langsung pergi tanpa meninggalkan ucapan salam. Hari-hari penasaran pun dilaluinya, entah penasaran tentang apa, tentang di mana Nur Azizah tinggal, tentang apa warna kesukaannya, jam berapa ia tidur pada waktu malam, atau tentang apakah Nur Azizah sudah punya pacar--Sa'ad masih bertanya-tanya.

Kembali mereka berdua dipertemukan, tepat di depan gerbang kampus. Saat Nur Azizah menunggu tumpangan dan Sa'ad yang juga berjalan pulang dengan sendal jepit usang yang ia kenakan. Namun, apalah daya, Sa'ad yang pemalu tak menggubris sedikitpun, padahal, sayang jika senyum manis Nur Azizah perdetiknya dilewatkan.

Sa'ad pun berjalan pulang dengan hampa kemalangan, tak ada yang ia pikirkan selain pengandaian dan harapan. Andai aku menyapanya tadi, atau membelikannya kuwaci, perlu kesempatan lagi untukku, untuk sekadar melihat tatapannya yang sayu.

Janji Sa'ad pada dirinya, besok, besok berikutnya, atau lusa nanti, aku akan melawan penjara keterbatasanku ini. Aku akan katakan padanya, karena aku memang cinta buat apa basa-basi. Jika pun ia tak mau, setidaknya aku tahu jawaban dari tanda tanya perasaanku tentang dirinya.

Sa'ad tahu bahwa Nur Azizah adalah mahasiswi penjaga perpustakaan, yang kebetulan juga Sa'ad senang bercinta dengan buku. Setiap waktu saat kuliah sedang kosong, Sa'ad menyempatkan dirinya nongkrong di balik rak-rak buku, mulailah mereka berkenalan lebih jauh, saling mengobrol perihal buku, tentang buku yang baru saja terbit, tentang novel best seller yang beberapa kali dicetak ulang, dan tentang buku yang sudah sukar ditemukan.

Pada satu kesempatan, Sa'ad memberanikan dirinya kepada perasaan cinta yang sering waktu hinggap di hati dan pikirannya.

"Apa makna buku tanpa seorang pembaca?" tanya Sa'ad dengan makna tersirat.

"Wih, kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Tak lebih dari sebatas kertas dan kata-kata." lanjut jawab Azizah.

"Berarti aku seperti buku yang tak terbaca."

"Kenapa?"

"Karena aku sebatas punya rindu dan cinta, tanpa ada seorang wanita yang mengetahuinya."

"Wanita itu siapa?"

"Kamu!"

Mendengar kata Sa'ad, Nur Azizah keluar dari perpustakaan dan pergi, tanpa peduli dengan buku-buku lagi. Sa'ad hanya terdiam dan tetap berdiri sembari memandangi jejeran buku-buku serta berkata.

"Aku memang buku yang tak terbaca, tinggal di rak ini pun tidak, apalagi mau dibaca, ah aku sadar."

Sa'ad kembali ke kosnya, seperti tahun-tahun sebelumnya, berkawan dengan sepi dan sendiri. Hanya beberapa buah buku yang ia temani, yang ia pinjam di perpustakaan tadi, sampai sebelum ia tidur, sebelum doa penjaga malam ia lafadzkan, sebuah kalimat terlintas dalam pikirannya.

"Sa'ad, kamu belum mendapatkam jawaban, tetap perjuangkan sampai waktu yang menentukan."

****

Tiga bulan berlalu, dan kini akun FB milik Sa'ad telah mendapatkan konfirmasi dari Nur Azizah, dan tiba pada suatu percakapan di FB mereka.

"Masih ingatkah kau kejadian tiga bulan yang lalu?"

"Iya, masih ingat," jawab Nur Azizah.

"Lantas, kenapa kamu diam?"

"Bukankah bahasa terbaik adalah diam."

"Jadi kamu mau menjadi kekasihku?"

"Tidak!"

"Tidak kenapa?" tanya Sa'ad heran.

"Tidak mencintai orang lain, selain kamu."

Sa'ad suumringah, hari-hari penasarannya terjawab sudah. Ia pun kembali merawat kenangannya bersama Nur Azizah di perpustakaan dan terkadang bersama-sama--di sana membaca puisi-puisi dan novel-novel cinta, buku memang mendekatkan, merekatkan, dan terkadang membuat seseorang dapat berpelukan dengan lembaran-lembarannya.

Akan tetapi, Nur Azizah bertemu masa kelam, lima bulan berlalu dilaluinya sendirian tak ada lagi Sa'ad yang berkunjung ke perpustakaan, dalam aktifitasnya dirundung kesedihan. Sa'ad yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, kabarnya pun tak ia beritahukan, Nur Azizah terus bertanya-tanya di mana ia sekarang, apa yang dilakukannya, katanya ia cinta tapi kenapa ia tak bertahan merawatnya.

Selepas menamatkan strata satu dan Nur Azizah telah mendapatkan pekerjaan, ia dijodohkan dan hari ini tiba waktunya bertunangan. Ia tak bisa bertingkah lagi seperti dulu, saat Sa'ad berjanji mereka akan sehidup semati, tapi kini ia menerima segala keinginan orang tuanya, membangun cinta dengan laki-laki yang berbeda.

Namun Nur Azizah tetap mencoba mengirimi surat undangan pertunangan kepada Sa'ad, yang sampai hari ini mereka tak pernah bertemu lagi. Setidaknya, Nur Azizah melihat bagaimana reakski Sa'ad saat ia datang.

Dekorasi-dekorasi yang penuh kemegahan telah selesai dipasang, sepasang manusia sebentar lagi bertunangan, mengikrar janji cinta suci, hidup semati meramu kasih. Akan tetapi, Nur Azizah sejenak berhenti dengan kegirangannya di hari pertunangan, seorang ibu tua datang menghampirinya.

"Nak, kamu yang mengundang Sa'ad kan,"

"Iya bu, ibu siapa?" tanya Azizah heran.

"Aku ibunya, maaf Sa'ad tak lagi di sini, ia telah pergi."

"Pergi ke mana bu?" 

"Ia tak bisa meneruskan kuliahnya, karena keterbatasan ekonomi kami,"

"Maka ia pergi merantau, ke negeri orang menjadi TKI, berharap hidupnya dapat berubah di sana," lanjut Ibu kepada Azizah.

Nur Azizah tak menyangka, bahwa selama ini Sa'ad meninggalkannya bukan karena tak lagi cinta, melainkan perih hidup yang berusaha dilaluinya. Nur Azizah memegang tangan ibu Sa'ad.

"Bu..., sebenarnya aku dulu kekasihnya," kata Nur Azizah.

"Oh iya, sebelum pergi Sa'ad menitipkan ini."

Sebuah buku sejarah yang disimpan Sa'ad, saat pertama kali bertemu dengan Nur Azizah di perpustakaan dulu. Setelah menerimanya, Nur Azizah membaca coretan spidol Sa'ad di belakang sampul buku sejarah itu, yang bertuliskan.

"Azizah, kamu adalah bukti sejarah yang memang harus dipelihara dan dicinta. Sedangkan aku, hanyalah peristiwa sejarah yang terkadang dilupakan kapan terjadinya, sebagaimana dalam buku sejarah ini. Maaf, aku pergi dan entah kapan kembali, bahagiamu bahagiaku juga, dan jangan pernah hapus senyum manismu. Dariku--Sa'ad."

Nur Azizah menangis terdeduh dan menjawab coretan itu dalam hatinya.

"Entah bagaimana, aku yang bersalah atau kamu Sa'ad."

Ibu Sa'ad dengan penuh kasih sayang meredam air mata Azizah seraya berkata.

"Nak, terkadang akhir cerita cinta, bisa saja indah walau tanpa dirinya."