Catatan Seorang Relawan

21 April 2017 09:17:17 Diperbarui: 21 April 2017 13:27:56 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Catatan Seorang Relawan
Sumber: Indonesia Hari Ini

Sebagai pendiri dan pembina organ relawan pendukung Pasangan Calon Gubernur dan Wagub, saya termasuk ada dan di dalam berbagai kegiatan politik yang melelahkan dan menguras tenaga, dana, waktu, dan lain sebagainya. Dan, sebagai Relawan dari Sang Kalah, saya juga, tak perlu larut dan tenggelam dalam samudera kecewa serta kekecewaan.

Karena tak boleh larut dalam kecewa dan kekecewaan, maka melihat hasil "Perhitungan Cepat" hasil Pemungutan Suara Pilkada DKI Jakarta Putaran II, 19 April 2017, sebagai suatu realitas; dan fakta yang menunjukkan bahwa "Basuki Djarot" tak mendapat suara memadai agar terus menjabat sebagai Gub/Wagub DKI Jakarta.

Dalam catatan saya, ada  banyak faktor yang menjadikan perolehan suara yang tak memadai tersebut; hal itu muncul karena aneka ragam penyebab, yang saling terkait dan tumpang tindih; hal-hal tersebut antara lain.

Faktor "Balas Dendam Politik"  Terhadap Joko Widodo.

Tahun 2012 dan 2014, saya berada dalam "balutan" Tim  atau Relawan Online, pada saat itu, dengan keterikatan kuat, merupakan Komunitas Relawan Virtual Terbesar dalam Sejarah Gerakan Politik di Indonesia dan Dunia.

Dari giat 2012 (Jokowi Ahok) dan 2014 (Jokowi JK) tersebut, terlihat denngan jelas bahwa, sejumlah besar orang dan organ politik menaruh dendam  politik terhadap Jokowi. Ia dituding sebagai pembuka jalan terhadap "Si Kristen dan China" ke DKI Jakarta.

Karena "dendam politik" itulah, hingga detik ini, Jokowi dan orang-orang yang diangap dekat dengannya, jadi sasaran caci maki dan penistaan melalui orasi, narasi, medsos, media cetak, media pemberitaan, atribut, dan lain-lain, yang tak bisa diterima serta dipahami oleh akal sehat.

Kini, Basuki Tj Purnam atau Ahok, juga menjadi sasaran balas dendam politik. Mereka yang menyerang Ahok,  nyaris sama dengan "Yang Di hadapi Jokowi Ahok dan Jokowi JK." 

Faktor "Tanpa Koordinasi" Ratusan Organ dan Komunitas Relawan Basuki Djarot

Diakui atau tidak, Ahok atau "orang dekat Ahok" yang membentuk jenis "Relawan Karyawan" Teman Ahok. TA yang tadinya "tertutup" dari publik dan Relawan Pendukunga Ahok lainnya, karena harus memgumpulkan Sejuta KTP,  mau tak mau menerima "bantuan" publik serta kerjasama dengan pihak lain. TA bisa mencapai target karena suport dari organ Relawan lainnya.

Seiring dengan kepastian pasangan Ahok Djarot maju sebagai Calon Gub dan Wagub DKI Jakarta, tumbuh atau terbentuk ratusan Organ dan Komunitas Relawan. Bayangkan saja, ada sekitar 200 Komunitas dan Organ Relawan, jumlah anggota puluhan hingga ribuan; dari yang kas kosong hingga miliki  dana ratusan juta.

Sayangnya, banyaknya Organ dan Komunitas Relawan itu, tak dibarengi dengan koordinasi yang baik dan benar. Organ relawan yang tergabung di Rumah Lembang tak mencapai seratus. Dengan alasan tertentu, organ relawan "memisahkan" diri atau tak mau bergung dengan Rumah Lembang.

Hebatnya lagi, setelah Putaran I, selain Rumah Lembang, muncul "pusat kegiatan dan nam relawan" yang baru. Misalnya,  di Widya Chandra, Talang, Basuki Djarot Centre, dan lain sebagainya. 

Sayangnya, banyaknya pusat kegiatan relawan tersebut, tak diikuti dengan kerja sama, koordinasi dan saling melengkapi. Sebaliknya, yang terjadi adalah persaingan, saling menjatuhkan, saling klaim sebagai relawan sah, bahkan tudingan sebagai relawan liar. Tepok Jidat.

Hebatnya lagi, ada relawan yang seetnis dengan Ahok, terang-terangan menyatakan, "Pendukung Ahok dari daerah tertentu, semuanya preman, (data ada di saya)." Sungguh memalukan dan tak beretika, karena ada oknum relawan, mengeluarkan pernyataan rasis seperti itu. Ini adalah suatu penghinaan yang sekaligus merugikan Basuki Djarot.

Akibat dari buruknya koordinanasi terhadap relawan, ada puluhan atau bahkan ratusan "Posko Relawan" tanpa logistik dari Tim Pemenangan Basuki Djarot. Pendanaan ke Relawan ini,  cukup menyumbangkan suara kekalahan. Di sini, uang yang bicara dan berbicara.

Faktor "Pembiaran" oleh Aparat Penyelenggara

Penyelenggara Pilkada DKI Jakarta Putaran I dan II, netral dan adil, serta tak berpihak; itu yang seharusnya,   tetapi yang terjadi adalah "Sebaliknya dari yang Seharusnya."

Semua pendukung Basuki Djarot menjadi saksi mata; mereka melihat, marasakan, dan mendapat hal-hal yang luar biasa. 

Aneka macam pelanggaran dari Pendukung Pasangan Calon, mulai dari ayat hingga mayat, bahkan dari mimbar tempat ibadah pun ada orasi dan narasi penuh serta benci plus kebencian terhadap pasangan Basuki Djarot.

Menyedihkan. Misalnya, aparat  melakukan pembiaran terhadap "spanduk sara;" sehingga relawan harus "menekan" aparat agar mereka copot. Lebih dari 500 laporan warga masuk ke Tim Kontra Spanduk Sara, dan semuanya terpampang manis, tanpa diusik.

Aparat penyelenggara juga melakuka pembiaran terhadap "Sembako Merk Pasangan Calon" plusa Amplop Uang; semuanya terang benderang namun tak terlihat oleh Badan Pengawas. Luar Biasa Buta or Buta yang Luar Biasa.

Ada lagi, sesaat  sebelum pencoblosan, sejumlah preman melakukan ancaman dan intimidasi terhadap para pemilih. Bahkan, aparat penyelenggara "sengaja" tidak memberi atau mempersulit pemilih jelang dan pada hari pencoblolosan.

Faktor "Siapa pun Terpilih, Baik untuk Jakarta"

Salah satu hal yang paling menyedihkan saya dan menyumbangkan "kekalahan  Basuki Djarot," adalah "cueknya sebagian kelompok kelas menengah atas Etnis Tionghoa." Mereka berpedoman pada "Siapa pun terilih, baik untuk Jakarta; semua calon orang baik."

Hal seperti itu, pernah diungkapkan oleh Basuki Tj Purnama saat dinner bersama di Hotel Raffles Jakarta; saya ada di situ. Selain itu, di hadapan saya, saat lunch bersama sejumlah teman dari Etnis Tionghoa, ada yang dengan jujur menyatakan "tak ikut coblos, karena libur di Luar Kota atau pun Luar Negeri. Nah .....

Faktor "Ephoria Putaran I"

Agaknya ada di antara Tim Pemenangan dan Sejumlah Organ Relawan yang cukup puas dan PD dengan hasil perolehan suara Badja pada Putaran I. Akibatnya, mereka kurang "menjaga dan memilihara" suara pemilih. Sehingga hasilnya adalah pergeseran dan beralihnya suara dari Basuki Djarot.

Termasuk di dalamnya, ketidakmampuan Tim Pemenangan "memenangkan" suara pemilih Calon Kalah di Putaran I.

Faktor "Katakutan Terjadi Kerusuhan Sosial"

Kekerasan dan kerusuhan sosial, adalah rangkaian tindakan seseorang [dan kelompok massa] berupa pengrusakan dan pembakaran sarana dan fasilitas umum, sosial, ekonomi, hiburan, agama-agama, dan lain-lain. Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat terjadi di wilayah desa maupun perkotaan.  Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat dilakukan oleh  masyarakat berpendidikan maupun yang tak pernah mengecap pendidikan; mereka yang beragama maupun tanpa agama. Nah.

Cukup banyak warga DKI Jakarta takut pada kelompok yang memiliki ketidakmampuan menerima kekalahan pada pemilihan pimpinan daerah maupun politik. Sebab ada banyak kasus kerusuhan sosial yang terjadi di Indonesia akibat setelah pemilihan kepala desa, bupati, walikota, bahkan gubernur; calon atau kandidat yang kalah, secara langsung maupun tidak, menggerakkan massa pendukungnya agar melakukan protes dan demonstrasi, yang diakhiri dengan kekerasan serta kerusuhan, [Selengkapnya : http://m.kompasiana.com].

Faktor ketakutan ini terjadi karena karena adanya intimidasi yang spartan di berbagai area kosentrasi pemilih dan pendukung Basuki Djarot.

 ---#---

Semuanya di atas, hanyalah penggalan-penggalan narasi panjang, yang tersimpan di hatiku, tentang Pilkada DKI Jakarta 2017.

Dari Sekitaran Universitas Indonesia - Depok, Jawa Barat
Opa Jappy | Pembina dan Salah Satu Pendiri Gerakan Damai Nusantara

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana